It Beats For You

It Beats For You
Tangled up



Akhirnya jam pulang kerja, bergegas aku menemui Alvaro di kantin, sebelumnya aku bertanya dia dimana lewat wa.


"Hay.. maaf ya, lama" ujarku


"Its ok, dari tadi aku sudah booking semua" ungkap Alvaro.


"Serius kamu?" aku terkejut seakan tak percaya.


"Iya nanti ku kasih tau, yuk sudah selesai kan" ajak Alvaro untuk pulang.


Akupun mengiyakan dan kami berjalan beriringan menuju parkir mobilku.


"Maaf jadi lama nunggu aku pulang kerja, aku janji ini yang terakhir" aku merasa tidak enak membuat Alvaro menunggu lama.


"Apaan sih, aku gak masalah" Alvaro dengan baiknya membukakan pintu untukku.


Syerrr berasa baru jadian gak sih ini.


"Kamu masih tinggal di Chandra Resident?" Tanya Alvaro.


"Oh gak, sekarang aku tinggal dekat sini, di Nusa apartemen" jawabku.


"Oh itu.. okey" Alvaro mengetahui alamat apartemenku.


Apartemenku tidak jauh dari kantor, 30 menit sudah sampai dengan sedikit macet.


Aku mulai merasakan kenyamanan kembali dengan Alvaro, menata lagi kegugupanku agar tidak terlalu kaku.


Sesampainya.


"Makasih ya sudah dianterin, maaf banget jadi ngerepotin" aku berbasa-basi.


"Udah aku gak mau denger maaf lagi ya. Ini gak terpaksa juga kok" balas Alvaro.


"Hemm jadi kamu pulangnya?" tanyaku, kami masih dimobil karena baru saja parkir di basement.


"Jahat banget sih, baru sampe dah disuruh pulang, gak ajak aku ke apartemen kamu?" pinta Alvaro.


"Hem aku belum pernah ajak cowok kesana, jadi.." aku berpikir sejenak.


"Bisa bikinin segelas teh buat aku?" Pintanya lagi.


"Baiklah" akupun tak tega mendengarnya, jadi ku izinkan Alvaro untuk singgah sebentar walaupun hanya minum segelas teh.


Kami menuju unitku, sambil berjalan Alvaro masih menghiburku dengan gurauan kecil dan aku menyukainya.


"Silahkan masuk" ujarku saat membuka pintu.


"Terimakasih, kamu tinggal sendiri?" tanya Alvaro.


"Iya, maklum namanya juga belum nikah" jawabku dengan gamblang.


"Ya kenapa gak nikah?" pertanyaan Alvaro membuatku bingung untuk menjawabnya.


"Ish nyebelin, ya kamu sendiri kenapa?" aku mencoba berbalik bertanya.


"Ya kamu mau gak" gombalnya.


"Dasar, aku buatin teh dulu ya" aku berlalu kedapur untuk membuatkan teh untuknya, alih-alih menghindar dari gurauan gombalnya.


"Ini silahkan diminum" ucapku yang menaruh segelas teh dimeja.


"Makasih" Alvaro meminumnya. "Ini aku mau nunjukin tiket dan hotelnya, kebetulan aku dapet disamping kamu loh di pesawat, tapi kalau kamu mau di upgrade ke bisnis juga bisa aku buat" ungkap Alvaro.


"Ah gak apa-apa aku sudah biasa di ekonomi" aku menolak secara halus.


"Untuk hotel mungkin disana kita bisa check-in langsung saja, by the way aku sudah bikin acara untuk kita disana" dan menyodorkan handphone nya padaku.


"Alvaro, kamu semangat banget" aku terheran.


"Ya aku berusaha untuk membuat diriku berguna disampingmu nanti" tawa Alvaro.


"Padahal aku kesana saja tanpa planning seperti kamu, niatnya disana aku datang secara on the spot saja" ungkapku.


"Ya kan bisa jadi pilihan disaat kamu tidak tau mau kemana. Coba lihat ini kamu suka gak tempatnya" Alvaro mendekatiku memperlihatkan tempat wisata disana.


"Itu bagus, aku suka" Alvaro menampilkan beberapa tempat menarik.


"Kamu suka kan, nah ini tempat makan yang hits disana, kita juga bisa puas kulineran" ujar Alvaro antusias.


Aku yang salah tingkah karena tatapan tajam Alvaro kepadaku.


Seketika dia menciumku tepat dibibirnya, aku benar-benar terjebak dalam situasi ini. Terlalu cepatkah ini semua, tapi akupun tidak ingin melewatkannya. Aku membalas ciuman hangatnya. Dia memelukku erat, diatas sofa biruku.


Kami serasa hanyut dalam suasana ini, seakan tidak bisa menahan kerinduan ini. Kehangatan ini. Berdua.


Aku menikmati dengan perlahan ciuman hangatnya dibibirku. OMG aku jatuh cinta lagi padanya. Aku benar-benar menginginkannya menjadi milikku.


Tapi seketika aku terhenti, pikiranku terlintas untuk segera sadar dalam perasaan yang sudah terhanyut dalam buaian.


"Alvaro, maaf aku bukan.." aku menahan tubuhnya dengan kedua tanganku.


Dia tidak memberiku cela, masih menggapai bibirku. Akupun tak kuasa menahannya. Aku mencintainya, mencintainya lagi. Rasanya tak ingin ini segera berakhir.


Dan kamipun menyudahi.


"I love you Jovita, aku mau kamu menjadi milikku, jangan pergi lagi. Aku tak bisa melepasmu lagi. Terlalu lama hati ini merindu" Dia menyudahinya dengan mencium keningku.


"I love you too Alvaro" aku tak bisa berbohong lebih lama, kami sudah dewasa. Saatnya kami jujur akan perasaan ini.


"Janji jangan pergi lagi, sudah cukup kuberikan waktu untuk kamu. Saat itu aku melihat kamu tak membutuhkanku lagi.


Sekarang kamu harus membutuhkanku, aku bisa beri segalanya untuk kamu. Aku bisa menjadi apa yang kamu inginkan. Beritahu aku jika aku harus berubah, akan kulakukan. Tapi jangan untuk meninggalkanmu lagi" pinta Alvaro yang menginginkan diriku kembali padanya.


Aku meneteskan air mata terharu, sebegitu besarnya cinta Alvaro yang telah dia pendam padaku. Aku seperti orang jahat yang pernah membunuh cintanya.


Dia menciumku lagi, lagi dengan gairahnya. Akupun sudah terhanyut dalam buainnya. Hingga akupun tersadar kembali.


"Alvaro, kalau kita lanjutkan ini, kita bisa terlalu jauh" aku menahan tubuhnya untuk mendekatiku lagi.


"Kenapa tidak, aku sudah memilihmu, aku tidak ingin yang lain. Hanya dirimu" dia mencecarku lagi dengan cumbuannya.


"Iya tapi kita belum resmi, aku tak ingin" aku masih menahan tubuhnya dengan tanganku.


"Buktikan kalau kamu serius padaku" Alvaro memaksaan perasaanya.


"Aku serius, tapi bukan seperti ini. Bisakah kamu mencoba sedikit menahan diri" kataku.


Alvaro memelukku erat.


"Aku benar-benar tidak bisa menahan diri, hati ini meluap begitu saja saat melihatmu. Seakan doa-doaku terkabul untuk dipertemukan kembali padamu. I love you" ucap Alvaro penuh ketulusan.


"I love you too, akupun begitu, hanya tidak menyangka kamu seperti ini" ungkapku.


"Aku gak mau lepasin kamu, aku tak ingin kamu pergi, ataupun aku" perasaan yang telah lama dipendam pecah saat Alvaro bertemu lagi denganku.


"Gak aku gak akan kemana-mana, aku memilihmu. Tapi kumohon kita tidak melanjutkannya kearah yang lebih jauh" aku mencoba menahan semua ini, sebelum semua terlambat.


"Kamu jahat ih, kamu cinta tapi kamu batasin" gerutu Alvaro.


"Ya memang seharusnya seperti ini, hingga kita akhirnya resmi" seakan aku meminta kepastian pada Alvaro yang baru saja bertemu.


"Aku janji akan meresmikannya, jadi bisa kita lanjutkan ini sayang. Serius aku tak bisa menahan hati ini untuk kamu. Terlalu dalam cinta ini" dia mencoba menggodaku dengan mencium pipiku dengan deru nafasnya.


"Okey, tapi plis.. aku benar-benar serius untuk tidak melakukan hal yang tak ingin kulakukan" aku tetap dalam pendirianku.


"Jadikan ini hadiah pertemuan kita sayang" Alvaro masih memaksaku.


"Ciuman itu sudah cukup Alvaro"


"Aku tidak bisa menahannya, i love you Jovita" Alvaro meraba tubuhku dengan tangan lembutnya.


Aku tidak tahu apa yang terjadi selama kami tidak bersama. Tapi aku seperti baru mengenal Alvaro yang sekarang.


Kenapa dia bergairah sekali. Apa benar dia seperti ini karena kerinduannya padaku, tapi apa itu benar?


Bersambung..... ✨✨✨


Hello semua, Terima Kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.


Semoga terhibur.


Jangan Lupa Like, Comment dan di Vote ya..


Thankyou 💓