
Wajah Alvaro berubah menjadi tenang, tanpa ada amarah sedikitpun saat aku bicara agar dia membatalkan kepergiannya ke Inggris bersamaku yang telah kami bicarakan.
"Jovita, hingga kamu ucapkan kamu telah memiliki hati untuk orang lain. Aku masih saja mencoba memaklumimu dan memaafkanmu.
Aku ingin lihat bagaimana kamu bisa berbohong dibelakangku dan jujur didepanku, tapi perasaanku yang terluka tidak menyiratkan untuk menerima keputusan ini.
Jikalau kita memang tidak bisa bersama karena berbagai alasan, But now it's time to face the truth, that I will never be with you. Aku akan simpan hati dimana aku dan kamu pernah saling mencintai. Entah selama dua tahun saat itu, atau kurang dari seminggu saat ini" Alvaro menjelaskan.
Aku kurang mengerti apa yang dimaksud Alvaro mengatakan itu.
"Apa maksud kamu"
"Mungkin bagi kamu, aku sudah layak kamu lupakan. Tapi tidak untuk aku, aku memang pada akhirnya harus menyerah pada sosok baru yang menggantikan diriku. Lagi lagi aku harus melepaskanmu, untuk kedua kali dengan dua alasan yang berat bagiku terima.
Aku harap kamu bahagia dengan pria pilihanmu, walaupun nanti cintanya bisa jadi tak sebesar aku mencintaimu.
Tapi maaf, aku tak bisa kehilangan sosokmu, aku masih ingin bersamamu. Walaupun kita tak lagi sebagai kekasih, izinkan aku merawat luka ini perlahan dengan bantuan mu. Izinkan aku bisa terus menemui mu sesekali jika kuingin, jika rindu ini tak tertahan.
Aku tahu aku bukan tandingan pria pilihanmu, aku kalah telak olehnya, tapi izinkan aku bisa bertemu dan mengobrol layaknya teman olehmu.
Aku tidak akan gegabah untuk suatu hal yang akan merugikan kita, izinkan aku sembuh dari luka yang kamu buat, just takes away the pain"
Alvaro mengatakannya begitu pelan dan menyayat hati. Kudengar suaranya terbata-bata mengatakan itu. Seperti menangis, tapi aku tak melihat jelas karena ruangan saat ini sedang redup oleh cahaya.
"Aku tak bisa Alvaro, melihatmu membuatku semakin mengingat kesalahanku" aku bersedih mengatakannya.
"Aku tidak bisa Alvaro, maaf" aku terpaksa melepaskan genggamannya.
"Jangan pergi, aku masih ingin kamu disini. Setidaknya ini akan jadi malam terakhir kita bertemu" Alvaro menghalangiku.
Alvaro mengikhlaskan ku, malam ini akan menjadi malam terakhir kita bertemu. Benarkah..?
"Sebenarnya aku akan berjuang jika aku mampu untuk melakukannya, tapi setelah penjelasan kamu, berjuang pun sia-sia. Dua hari berpikir apa yang akan aku lakukan jika benar kamu menghianatiku, karena pilihan itu adalah pilihan terberat yang kupikirkan. Karena hanya itu yang mampu membuatmu menjauh dariku, setelah ku berpikir maksud awal yang bermula dari malam itu.
Tidak ada yang kurang dariku, setidaknya banyak wanita yang akan menginginkanku, tapi kamu tidak. Kamu memilih untuk meninggalkanku.
Ternyata tidak semua wanita menginginkan pria yang akan menjadi pendamping, salah satunya pekerjaan adalah seorang dokter untuk menjadi pendamping, saat pria lain yang memiliki tahta lebih tinggi meminta untuk berada disisinya.
Semua pemikiran ku langsung sirna saat kamu mengatakan kejujuran itu. Tidak ada yang salah, semua berhak memilih yang terbaik untuk hidupnya, dan aku bukan yang terbaik untuk hidup kamu. Walaupun bagi aku, kamulah yang terbaik untukku.
Cuma kamu yang kuinginkan, walaupun godaan lain silih berganti menyapaku, bukan kamu yang jahat, mungkin hanya aku terlalu setia untukmu.
Namun, jika aku ada diposisi mu, mungkin aku akan menyakitimu lebih cepat dari yang kamu lakukan, mengulur waktu hingga membuat hubungan kita sudah terlalu erat lalu kamu lepaskan begitu saja dalam sekejap, now I’m only falling apart. Harusnya kamu bisa lakukan itu lebih awal, hingga aku tak perlu berharap begitu tinggi hingga saat terjatuh membuat aku patah hati.
Harusnya kamu tidak perlu mengatakan mencintaiku, jika hatimu sedang dimiliki pria lain. Ataupun bercumbu denganku padahal pikiranmu sedang menyembunyikan pria lain.
Kenapa tidak terlintas seperti itu?" Alvaro seperti mengungkapkan semua yang telah aku pikirkan sebelumnya.
Aku menangis mendengar Alvaro mengatakan yang seharusnya aku lakukan, perkataan dia begitu benar. Hanya karena aku berpikir takut menyakitinya, malah yang seperti ini, aku yang sungguh sudah terlalu dalam menyakitinya.