It Beats For You

It Beats For You
Find out what you want



Sambil menyantap makanan kami mengobrol santai lagi, Alvaro banyak bercerita bagaimana dia selama kita tidak bertemu. Bagaimana dia menata ulang semua setelah kami berpisah. Terlihat tak ada ragu atau jaim saat dia menceritakan semua dengan gaya yang menyenangkan. Aku masih terkesima dengan pesonanya, tak pudar dari terakhir kami bertemu.


Aku tak banyak bicara, kuingat lagi seakan kegiatanku selama kami berpisah tak semenarik Alvaro. Atau aku yang menganggap itu tak menarik untuk dibandingkan oleh ceritanya?


Tak sabar mendengar apa yang ingin kuketahui. Akupun memaksa bertanya, kupinggirkan sebentar rasa maluku.


"Jadi selama ini, kamu sudah berapa kali ganti pasangan?"


"Hem.. tunggu aku tidak ingat berapa, sebentar kuingat dulu yah" ujarnya sambil mengingat.


Jika dia seperti itu, sepertinya cukup banyak wanita yang singgah dihatinya.


"Hanya 6 sepertinya, 1 cuma beberapa hari"


"Oh really.." sok terkejut.


"Kenapa kebanyakankah?"


"Ah gak, itu kan sudah biasa. Gak ada pengaruhnya sama aku"


"Lalu kamu?"


Nah kan, terjebak sama pertanyaan sendiri.


"Aku terlalu fokus akan karir ku, tak sempat untuk memikirkan itu"


"Lalu..


ahh kamu benar-benar luar biasa dedikasinya untuk pekerjaan" Alvaro geleng-geleng seakan telah mengetahui sebenarnya yang terjadi.


"Apakah itu membosankan?"


"Ya tergantung kamu menyikapinya, tapi ya gak masalah kamu seperti itu. Toh sekarang kamu sudah menikmati hasilnya"


"Hasil gimana..."


"Ya kamu sendiri yang tau kan?"


Aku terdiam sambil meminum minumanku.


"Oh ya minggu depan aku ingat. Itu ulang tahunmu, bagaimana kalau kita jalan. Ketempat yang kamu suka"


Jleebb


"Hem aku sudah punya rencana" ucapku


"Oh yah.. apa rencananya, apa aku bisa ikut?"


"Gak seharusnya sih"


"Kamu sudah punya pacar?"


"Ah tidak, aku pergi sendiri. Dan sudah ku handle semua" tegasku.


"Boleh tau kemana?" tanya Alvaro sambil ingin tahu.


"Inggris" jawabku.


"Ow.. itu tempat impianmu, bagaimana jika aku ikut" Alvaro mengajukan diri.


"Ahh itu tidak mungkin, kamu banyak pekerjaan disini. Aku akan lama disana"


"Aku bisa cuti sampai sebulan, tidak masalah"


"Kalau begitu, tidak masalah aku ikut. lagipula gak takut kamu pergi kenegara orang sendirian. Aku bisa menjagamu disana, setidaknya jadi fotografer pribadi"


Aku berpikir sejenak, bagaimana ini bisa begitu cepat terjadi. Apa mungkin Alvaro masih memiliki perasaan padaku. Atau mungkin dia hanya ingin jalan-jalan saja. Aah aku harus jawab apa.


"Apa aku tidak sopan ingin ikut?"


"Ahh maksudku, aku sudah merencanakan semua untuk diriku. Dari tiket, hotel, tempat yg ingin kukunjungi"


"Itu tidak masalah, aku akan mencari hari ini semuanya, aku tinggal ikuti kamu mau kemana saja"


"Apa tidak masalah kamu pergi dengan tiba-tiba dan meninggalkan pekerjaanmu Al?"


"Dokter bisa banyak alasan untuk bepergian, bisa cuti, bisa seminar, bisa liburan. Waktunya juga cukup untuk mengatur semua jadwal saat aku cuti nanti"


"Oww baiklah, asalkan kamu tidak mengacaukan liburanku"


"Oke.. thankyou, sudah mengizinkan aku ikut liburan bersamamu"


Deng deng deng deng...


OMG seperti mimpi, kenapa bisa begini. Hal yang tak bisa kusangka, terlihat menyenangkan.


"Tapi ingat, ini hanya untuk liburan aja ya" ujarku.


"Iya Jovita, aku jamin dengan aku disana kamu pasti bersyukur. Setidaknya aku tahu spot spot bagus disana" sahut Alvaro.


"Oh iya kamu sudah pernah kesana sebelumnya"


"Oke jadi kamu kabarin tanggal. Pesawat dan hotelnya. Biar aku bisa pesan hari ini"


"Oke"


"Nomor hape ku masih kamu simpan kan?" tanyanya seakan aku menghapusnya.


"Masih, ini aku wa ke kamu, bdw aku harus balik ke kantor" ujarku.


"Kamu kan harusnya lepas softlens itu dulu Jovita, itu akan jadi masalah kalau kamu masih pakai sekarang"


"Iya tapi kacamataku di apartemen, aku gak bisa nyetir nanti"


"Oke, hari ini aku sudah tidak ada pekerjaan. Biar aku bantu kamu jadi supir sekarang"


"Gak gak usah Alvaro, ini sudah terlalu banyak merepotkan kamu"


"Aku gak merasa direpotkan, ini karena kebetulan pekerjaanku sudah selesai"


"Sebenernya aku tidak enak jika kita baru aja ketemu, tapi kamu sudah banyak bantu aku"


"Aku tidak keberatan, jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak"


"Baiklah, terimakasih ya"


"Kamu masih aja kaku, oke yuk sebelum kesiangan kamu disini"


Alvaro langsung ke kasir untuk membayar makanan.


Hem kenapa sih Alvaro baru ketemu bikin baper aja, masa aku harus luluh begitu cepatnya. Tapi gimana gak luluh coba. Yaampun mungkin itu alasan kenapa Alvaro bisa 6 kali berganti pasangan.


Huaa aku kudu piye.