It Beats For You

It Beats For You
You're my end and my beginning



Aku yang sudah berganti pakaian dengan gaun panjang berwarna putih dan membersihkan make up yang sudah menempel cukup lama diwajahku.


Kini aku dan Nevan menuju kamar pengantin kami yang berada di Hotel yang sama, tempat kami mengadakan pernikahan.


Setelah semua yang kami jalani hari ini, banyaknya kejutan, kebahagiaan yang kurasakan dan sedikit ke khawatiran, Nevan mengejutkanku lagi dengan menggendongku menuju ke tempat tidur kami.


Aku dan Nevan tertawa pada apa yang sedang dia lakukan.


"Sayang" kataku yang tak menduga.


"Inilah caraku menyambut istri dimalam pertama kita" ujar Nevan sambil berjalan perlahan menuju tempat tidur.


Nevan seperti tak pernah habis memberi kejutan untukku. Aku melihat sekeliling ruangan, kamar ini sudah dipercantik oleh hiasan dari bunga mawar merah dan bunga mawar putih yang menghiasi kamar ini dan berhamburan dilantai hingga kasur.


Aku terkesima melihat dekorasi kamar ini begitu indah, banyak bucket bunga yang sangat cantik menghiasi sudut kamar ini.


Ya ini adalah malam pertama pernikahanku dengan Nevan.


Nevan merebahkanku dikasur dengan sangat hati-hati.


"Hai ibu dari anak-anakku.." sapa Nevan yang sudah berada di dekatku.


"Hai ayah dari anak-anakku" balasku sambil membelai pipinya.


"Kamu begitu banyak memberiku cinta, aku harus membalas semua lebih dari apa yang telah kamu berikan" ucap Nevan sambil sesekali mengecup bibirku.


"Itu karena aku terlalu mencintaimu.. dengan kamu mencintaiku itu sudah cukup.." sahutku sambil memeluknya.


"Aku akan mencintaimu sampai akhir hidupku, dan tentunya aku akan selalu membahagiakanmu dan keluarga kita.." Nevan mencium tanganku, ini terasa begitu romantis saat Nevan mengucapkannya.


"Bagaimana keadaanmu, apa kamu lelah?, Aku tidak apa-apa jika kamu ingin menundanya...


Karena kita sudah melakukannya terlebih dahulu" goda Nevan yang tak berhenti mencium bibirku.


"Iya aku benar-benar lelah, aku mengandung saat ini, membuatku tak bisa bergerak seperti biasanya.." kataku sambil mengusap perut dengan manja.


"Anak-anak papa.. sehat-sehat yah didalam, ingat mama dan papa akan sabar menantimu hingga kalian lahir" Nevan mengatakannya didepan perutku sambil mengusapnya, padahal perutku juga belum terlalu besar saat ini, karena bentuk tubuhku yang masih terlihat sama seperti belum hamil.


"Apakah tidak apa-apa jika kita beristirahat malam ini?" Tanyaku, takut membuat Nevan bersedih.


"Tentu, aku lebih memikirkan keadaanmu dari sekarang, kamu dan calon anak-anakku adalah prioritas utama bagiku saat ini,


hem.. bagaimana jika kita ganti dengan mandi bersama?" Ajak Nevan yang menggesekkan hidungnya di hidungku.


"Oke" aku setuju dan langsung mengiyakan.


Kami menuju kamar mandi, kamar mandi ini sangatlah luas disertai dengan bathup yang cukup besar.



Nevan menutup pintu kamar mandi dan memelukku dari belakang, perlahan menurunkan kedua tali gaunku dari pundak sambil mencium leherku.


Aku yang selalu dibuat merinding dengan sentuhannya yang menjadikanku memiliki hasrat yang terlintas dipikiranku, lalu aku berbalik sambil menatap Nevan dan membantunya menurunkan jas yang masih ia kenakan.


Satu-persatu aku membuka kancing kemeja putih yang menutupi dada bidang Nevan yang menawan.


Nevan masih memainkan sentuhannya disekitar leherku, membuat aku terburu-buru membuka pakaian yang ia kenakan.


Nevan membawaku masuk kedalam bathup sambil membantuku membersihkan tubuhku dan aku membersihkan tubuhnya.


"Aku suka sekali bagian lehermu yang terlihat lebih panjang, membuatmu begitu menarik" ujar Nevan sambil menyabuni tubuhku.


"Makasih sayang, aku juga menyukai badanmu yang begitu atletis, apa kamu selalu merawat tubuhmu dengan begitu baik seperti ini" aku penasaran.


"Untuk memastikan aku dalam keadaan sehat" singkat Nevan yang masih saja mencium bibirku dengan tiba-tiba.


Kami segera menyelesaikan aktifitas mandi ini, karena juga malam semakin larut.


Kali ini aku tidak memakai kimono handuk seperti biasanya.


Dilemari disediakan beberapa pilihan lingerie yang dikhususkan untukku pakai.


"Aku tidak mengatur hal ini" sahut Nevan yang melihat tatapanku padanya. Lalu ngeloyor pergi keatas tempat tidur.


"Baiklah, aku sudah menjadi istrinya tidak apa-apa aku mulai memakai pakaian ini" batinku dan segera memilih satu yang ingin kupakai.


Aku menutup lemari, Nevan yang menungguku dikasur bersikap malu-malu untuk melihatku, pakaian ini sangatlah sexi, berwarna merah maroon dengan bahan transparan dan berbordir cantik.


Membuat begitu terlihat setiap lekuk tubuhku, aku berjalan menuju Nevan yang sudah menahan senyum memandangku dan aku terlihat seperti sedang menggodanya.


Aku duduk disebelah Nevan sambil merangkulnya.


"Sayang, apa kamu tidak apa-apa memakai pakaian tipis seperti ini, apa perlu aku matikan dulu AC nya, kamu pasti akan kedinginan" kata Nevan yang mengkhawatirkanku.


"Boleh" sahutku singkat, karena aku juga sudah merasakan dingin menyentuh kulit ini.


Nevan dengan sigap mematikan AC yang sudah mendinginkan ruangan, agar aku tak kedinginan saat memakai pakaian transparan ini.


"Sayang, aku kan mau nyenengin suami aku.. kapan lagi aku bisa begini dengan percaya diri.. karena nanti tubuhku sudah tidak akan cocok lagi pakai pakaian seperti ini" ungkapku dengan manja.


"Kamu pakai apa saja dan bagaimana bentuk tubuh kamu, takkan pudar sayangku sama kamu" dan mencium keningku.


"Masalahnya..." Lanjut Nevan.


"Masalahnya??" Tanyaku heran.


"Aku.. aku tiba-tiba tak bisa menahan ini" sambil mengarahkan tanganku kebagian sensitif miliknya.


Aku tertawa pelan, tidak salah jika Nevan seperti itu. Memang dimalam pertama pengantin inilah yang seharusnya dilakukan. Aku mencium bibir Nevan sambil meraba bagian sensitif yang membuat Nevan terangsang padaku.


Ciuman yang tadinya hanya kecupan pelan tiba-tiba berubah menjadi mengebu-ngebu disertai dengan sentuhan tangan Nevan yang menyentuh dadaku dan menyingkap lingerie yang aku kenakan.


Nevan perlahan membuka kimono handuk dan celana dalam yang bermula dari godaanku karena menariknya untuk dilepaskan.


"Sayang, aku tak bisa menahannya lagi" ucap Nevan disela-sela ciumannya.


"Jangan ditahan kalau begitu" kataku dengan nafas yang sudah mendesah manja.


Nevan memainkan sentuhannya ditubuhku dan merasakan keinginan yang membara untuk melakukannya di malam ini.


Walaupun kami sudah pernah melakukannya beberapa kali, tapi dimalam pertama ini berbeda rasanya.


Semua yang kami lakukan dan kami sentuh terasa begitu nyaman tanpa ketakutan yang tak lagi kurasakan.


Mungkin karena kami telah resmi menjadi suami istri, hubungan intim ini terasa begitu berbeda dilakukan karena kami sudah menikah.


Setelah foreplay yang membuat kami bergairah satu sama lain, Mr.P Nevan yang telah menggeras dan mencoba menerobos masuk dengan sangat perlahan dan hati-hati, tanpa bermaksud melukai janin yang ada dikandunganku.


"Aku melakukannya dengan hati-hati, jadi kamu jangan berpikir, aku berbeda seperti sebelumnya.." ungkap Nevan disela-sela kesibukannya bermain didalam tubuhku.


"Iya sayang, makasih pengertiannya.." tak bisa kutahan aku terus mencium bibirnya dan merasakan sesuatu yang bersentuhan ditubuh ini, karena aku sudah terlanjur bergairah malam ini.


Sesekali aku yang mencoba bergerak sedikit cepat untuk mendapatkan sensasi yang luar biasa, membuat aku lupa tentang keadaanku yang sedang hamil, gairah ini memang bisa melupakan sesuatu agar kita mendapatkan kenikmatan yang diinginkan.


"Sayang, pelan-pelan saja..." Nevan mengingatkanku sambil menahan gerakanku yang mulai agresif.


Desahan ini tak tertahankan sama seperti gairah ku untuk menginginkan lagi dan lagi, dalam setiap sentuhan bibir Nevan yang mendarat dibahuku dan menjalar kepunggungku, membuat sensasi bercinta kami makin berfantasi.


Kupikir ini akan sebentar saja mengingat aku yang meminta Nevan untuk menundanya, tapi tak terasa hampir satu jam kami bergelut diatas ranjang, walaupun intensitas bermain kami lebih lambat tapi durasi masih tetap sama seperti sebelumnya kami lakukan. Nevan memuaskan hasratku dengan bercinta dengannya, semoga diapun merasakan hal yang sama.


Kami selesai dan mengatur kembali deru nafas yang terengah-engah.


"I Love you, always love you" ucap Nevan.


"I Love you, more and more" balasku.


"Apa kamu baik-baik saja?" Sambil mengusap perutku.


"Tidak ada nyeri atau hal lainnya?" Nevan mengkhawatirkanku.


"Aku baik-baik saja, sejauh ini aku tidak merasakan nyeri" sambil memeluk Nevan.


"Apa aku terlalu lama melakukannya?" tanya Nevan.


"Tidak.., aku suka kok" kataku sambil tertawa malu.


Nevan tersenyum.


"Ini karena lingerie, membuat aku hilang kendali" canda Nevan.


"Apa aku harus memakai lingerie jika menginginkannya?" Tawaku.


"Hem.. tanpa memakai itu kamu juga bisa jika menginginkannya" dan mengecup keningku.


"Benarkah?" Aku menggodanya.


"Tentu.." tawa Nevan dan lagi-lagi dia mengecup bibirku.


Hari yang begitu panjang ini, begitu sempurna bagiku. Aku bersyukur sejauh ini semua berjalan sesuai dengan keinginanku.


Hingga dimalam pengantin kami, yang tidak terpikir akan seindah ini padahal kami telah melakukannya berkali-kali beberapa waktu lalu, tapi rasanya berbeda atau memang sensasinya akan selalu berbeda.


Bersambung.... ✨✨✨


Hello semua, Terima Kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.


Semoga terhibur.


Jangan Lupa Like, Comment dan di Vote ya..


Thankyou 💓