
Aku bersikap sedikit aneh didepan Nevan, memang aku tak pandai berbohong sepenuhnya, maka dari itu Nevan seperti mengetahui apa yang terjadi.
"Sayang kamu baik-baik saja?" Tanya Nevan karena melihatku sedikit gemetar dan gelisah.
Aku melamun kearah luar jendela seketika berpaling ke arah Nevan yang ada disisi kiriku.
"Aku baik-baik saja.." kataku berusaha tak mengatakan apa-apa.
"Atau mungkin ada yang ingin kamu bicarakan?, Karena sikapmu agak sedikit berbeda.." dan menggenggam tanganku.
"Entahlah, saat ditoilet tadi.. aku seperti merasakan ada seseorang dibelakangku padahal disana tidak ada orang sama sekali..
Tapi lupakanlah mungkin hanya perasaanku saja.
Aku memang sedikit penakut sebenarnya.." alasanku ini sangat dibuat-buat sekali, Nevan pasti mengetahui kalau kata-kataku ini tidak benar.
"Iya mungkin itu hanya perasaanmu saja.." Nevan mencoba mempercayaiku.
"Baiklah mungkin kamu lelah, kamu butuh istirahat malam ini" sambil memandangi wajahku yang terlihat begitu berbeda dari biasanya.
Aku mengangguk.
🌼
Alvaro yang baru saja merasa baikan setelah apa yang Jovita lakukan dan keluar dari ruangan sempit itu.
Walaupun masih sedikit kesakitan, tetap terpaksa berjalan menuju Risma.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Risma yang khawatir melihat Alvaro kesakitan.
"Iya aku tak apa, hanya tadi aku tak sengaja terbentur sesuatu" jawab Alvaro sedikit merintih.
"Apa itu sakit?" ujar Risma yang masih khawatir.
"Awalnya iya, tapi sekarang sudah sedikit baikan.." Alvaro berbohong.
"Acaranya sudah selesai.. mau aku ambilkan sesuatu untukmu atau kita bisa pulang sekarang jika kamu mau?"
"Tidak.. aku tidak ingin apa-apa.. aku akan mengantarkanmu pulang saja sekarang" ujar Alvaro yang tidak ingin berlama-lama lagi diacara itu.
"Baiklah.." Risma mengiyakan.
Diperjalanan bersama Alvaro membuat Risma begitu terpesona dengan ketampanannya. Apalagi dia seorang dokter dan sikapnya sejauh ini baik-baik saja.
Sesekali Risma mencuri pandang kepada Alvaro sambil menahan senyum.
Lampu merah dan Alvaro berhenti.
"Hm.. apa ada yang salah denganku?" Karena Alvaro menyadari Risma sedang memperhatikannya.
"Apa begitu terlihat?" dengan suara malu-malu dan masih menatap Alvaro sesekali.
"Jarak pandang mata ku cukup jauh hingga menyadarinya.." memandang Risma penuh makna.
"Okey.. kamu begitu menarik, bukankah harusnya kamu memiliki kekasih?" selidik Risma, seakan ingin to the point untuk segera menyatakan perasaannya.
"Mungkin aku belum cukup menarik, hingga masih belum menemukan kekasih.." alasan yang tidak cukup kuat untuk dimengerti.
Risma tersenyum merasakan akan ada peluang untuknya menjadi kekasih Alvaro.
Lampu hijau dan Alvaro kembali mengendarai mobilnya.
Alvaro dan Risma sampai di apartemen tempat tinggal Risma dan memarkirkan mobilnya di depan lobby apartemen.
"Makasih ya sudah mengantarkan.." kata Risma sambil tersenyum manis.
"Dengan senang hati.." Alvaro masih bersikap biasa saja.
"Mau singgah dulu mungkin, setidaknya aku bisa buatkan minum dahulu sebelum pulang.." Risma menawarkan.
Alvaro terdiam sejenak.
"Hm.. kamu tinggal sendirian?" tanya Alvaro.
"Iya.. mampirlah sejenak" ajak Risma.
"Baiklah, aku juga tak keberatan" Alvaro menuruti ajakan Risma.
Alvaro dan Risma berjalan menuju unit apartemennya di lantai 10.
"Silahkan masuk.. sebentar ku buatkan minuman.. mau minum teh, kopi atau sirup?" Risma sedikit gugup karena baru ini membawa pria masuk ke apartemennya.
"Teh saja.." jawab Alvaro dan duduk disofa.
"Oke.." Risma menuju dapur dan segera membuatkan teh untuk Alvaro.
"By the way kamu tinggal dimana?" Risma membuka obrolan sambil membuatkan teh untuk Alvaro.
"Aku tinggal bersama orangtuaku di Jakarta Pusat" jawab Alvaro singkat.
"Oh.. apakah jauh jika kamu pulang dari sini?" tanya Risma.
"Tidak begitu, apalagi ini sudah malam mungkin tidak begitu macet" sahut Alvaro tanpa basa-basi.
"Ini teh nya, silahkan.." Risma duduk disamping Alvaro.
Alvaro meminumnya perlahan dan menaruhnya kembali diatas meja.
"Apa kamu sudah lama bekerja di tempat kerja kamu saat ini?" selidik Alvaro.
"Baru dua tahun lebih" jawab Risma.
"Oh.." itu berarti Risma memang tidak mengenali Alvaro yang sudah putus dari Jovita beberapa tahun lalu.
"Kenapa?" tanya Risma heran.
"Ya hanya bertanya saja"
"Apa kamu mengenal seseorang ditempat kerjaku?" Risma hanya menebak.
"Tidak.. aku tidak mengenal siapapun" Alvaro menutupi sesuatu.
"Ooh.. jadi katakan, bagaimana kamu merasa tidak begitu menarik hingga masih menyendiri?" Risma masih penasaran soal perkataan Alvaro tadi, dan menaruh bantal sofa untuk menyanggah dipangkuan Risma.
"Kamu masih memikirkannya yah.." ledek Alvaro.
"Hu'um.." menyahut sedikit manja.
"Aku mencintai wanita dan wanita itu mencintai orang lain.. walaupun aku sudah berjuang untuk dirinya.." ungkap Alvaro seperlunya.
"Tidak apa, kamu mau mendengar sedikit tentang aku?" Alvaro menawarkan untuk Risma mengetahui beberapa hal lagi tentang dirinya.
"Dengan senang hati"
"Entahlah mengapa dia seperti itu, beberapa kali aku memaafkannya jika dia berubah dan kembali padaku.
Tapi itu saja tidak cukup untuk membuat dia berpaling dari selingkuhannya" ujar Alvaro dengan santai.
"Jadi karena dia berselingkuh?" dengan nada suara terkejut.
"Ya.."
"Apa kamu sudah melupakannya?" sambung Risma.
"Inginku begitu, tapi aku masih memikirkannya.
Tapi percuma dia sudah pergi dariku" sambil memainkan kedua tangan Alvaro.
"Apa kamu masih mencintainya?" Risma terus mengulik.
"Tidak, aku sudah move on.. itu cerita lama, sekarang aku mencoba membuka hati untuk wanita yang mau mencintaiku apa adanya..".jawab Alvaro.
Risma tergerak mendengar hal itu, rasanya ingin mengajukan diri dan bersedia menjadi kekasih, karena Alvaro sosok ideal Risma sebagai kekasih.
"Itukah mengapa kamu mengajakku untuk bertemu hari ini?" Risma mencoba mencari tahu lebih dalam.
"Kenapa tidak, memang terkesan terlalu cepat.. tapi entah mengapa aku terpesona padamu saat pertama kali bertemu dan mencoba mengajakmu untuk suatu pertemanan" alasan Alvaro yang sebenarnya bukanlah seperti itu.
"Apa kamu punya teman wanita?" tanya Risma lagi.
"Tidak banyak, setiap harinya waktuku banyak kuhabiskan pada pekerjaanku, mungkin itu jadi alasan aku tidak banyak mempunyai teman wanita.. pasien wanita sih banyak" mencoba mengajak Risma bercanda.
"Ah.. iya.." Risma tertawa tipis saat mendengarnya.
"Apa kamu memiliki kekasih.. aku tidak enak jika bertamu dengan kekasih orang..?" tanya Alvaro.
"Tidak... Tidak, akupun masih sendiri" dengan sigap Risma memberitahu, agar Alvaro tidak salah paham.
"Hem.. apa kamu lapar, aku akan membuatkan sesuatu untukmu?" mengerti karena sikap Risma yang terlalu terlihat menginginkan Alvaro, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin biskuit.." pinta Alvaro.
"Oh iya, sebentar ya.." Risma segera membuka lemari yang berisikan cemilan.
Karena lemarinya agak tinggi membuat Risma sedikit kesulitan.
Alvaro mencoba membantu Risma untuk menggapainya, Alvaro berdiri tepat dibelakang Risma sangat dekat hingga membuat jantung Risma seakan berdetak tak berjeda.
"Terimakasih.." Spontan Risma membalikkan badan dengan perlahan.
Moment ini membuat Risma sangat gugup karena Alvaro berada tepat dihadapan Risma dan kini saling bertatapan.
"Apakah aku menarik bagimu?" Kini Alvaro bersikap nakal hanya untuk pelampiasan sikap Jovita tadi padanya.
"Aa.. aaku.."Risma ingin mengatakan sesuatu tapi terlalu gugup untuk mengatakannya.
Alvaro yang perlahan mendekat membuat Risma mematung.
"Apakah ini yang namanya cinta pandangan pertama.." Alvaro terus memainkan perannya untuk membuat Risma menyukainya begitu cepat.
Alvaro perlahan menyentuh pipi Risma dengan bibirnya, membuat Risma berfantasi.
"Dirimu, tubuhmu dan rambutmu membuatku tertarik untuk menyentuhnya.." sambil mencium harum helai rambut Risma.
Tiba-tiba Alvaro menghentikan sikapnya dan menatap Risma penuh kebingungan.
"Maaf.. aku tak bermaksud seperti ini, aku hanya terbawa suasana.." sambil gelagapan Alvaro mencoba menjauh dari Risma.
Risma mengedipkan mata, ini tak seperti apa yang dipikirannya.
"Alvaro.." Risma menarik tangan Alvaro lalu tanpa berpikir panjang mencium bibir Alvaro, mengecupnya hingga Alvaro membalas ciuman Risma dengan penuh gairah.
Tangan Alvaro berada di pinggang Risma dan perlahan menyentuh tubuh Risma yang indah.
Kecupan demi kecupan bergejolak diantara keduanya. Apa yang ada dibenak Alvaro adalah Jovita yang membuatnya tersakiti malam ini, hanya dengan melampiaskan pada Risma membuat beban pikiran Alvaro berkurang.
Seperti tak mau berhenti, Risma dan Alvaro terhanyut dalam gairah masing-masing yang sedang tercurahkan.
"Risma.. Risma, aku menikmatinya tapi aku takkan bisa mengontrol lebih lama lagi jika ini dilanjutkan..
Kamu terlalu membuatku menginginkan lebih dari ini" ujar Alvaro yang masih berada begitu dekat dengan Risma.
"Kalau begitu lakukan, jangan berhenti disini.." ternyata Risma juga menginginkan lebih dari ini.
"Tidak.. kamu tak pantas untuk tersakiti olehku, kamu wanita cantik yang baik, tak pantas denganku yang akan membuatmu terluka.." Alvaro ternyata masih memikirkan Risma untuk tidak tersakiti lebih dalam.
"Aku ingin.. aku ingin merasakannya Alvaro.." bisik Risma.
"Apa kamu masih virgin?" tanya Alvaro memastikan.
"Tentu.. dan aku ingin kamu yang melakukannya untukku.." jawab Risma.
"Tidak Risma, kamu tidak mengerti, aku tak ingin merusak kamu.." Alvaro menjauh dari Risma dan mengambil jas nya yang ditaruh d sofa.
"Terimakasih teh nya, aku akan menghubungi kamu lagi nanti.." Alvaro memberikan kecupan manis dipipi Risma dan langsung pergi dari apartemen itu.
Sedikit bersalah karena apa yang telah Alvaro lakukan ke Risma tidaklah benar. Memanfaatkan wanita yang jatuh cinta padanya padahal Alvaro hanya untuk pelampiasan amarah mengenai Jovita.
Risma terduduk disofa sambil membayangkan kembali apa yang baru saja terjadi bersama Alvaro.
Menyetuh bibirnya yang telah merasakan ciuman Alvaro walau sekejap.
Pria yang baru dia temui pagi tadi.
Pria tampan yang seharian dia kagumi.
Tak menyangka akan secepat ini Risma merasakan gelora cinta untuk seorang pria yang baru saja ditemui.
Bersambung..... ✨✨✨
Hello semua, Terima Kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.
Semoga terhibur.
Jangan Lupa Like, Comment dan di Vote ya..
Thankyou 💓