It Beats For You

It Beats For You
That's what you are



Nevan memakan salad buah dengan perlahan, begitupun denganku.


Disisi lain, saat Tamara sedang berkumpul dengan lainnya.


"Tam, kudengar kamu masih sendiri?" Bimo bertanya langsung karena sudah sangat penasaran.


Teman-teman lainnya tertawa mendengar pertanyaan Bimo.


"Udah gue bilang juga.. coba deh jabarin bisnis lo apa aja.. biar ada faktor pendukung.." sambar Gerry sambil meledek Bimo.


Bimo pun ikut tertawa mendengar ucapan Gerry.


"Ya memang gak setampan Nevan, tapi usaha aku banyak juga loh Tamara, walaupun kecil-kecilan.." canda Bimo.


"Bimo, jangan didengerin Gerry, dia orangnya suka bercanda..." ujar Tamara meluruskan perkataan Gerry.


Bimo hanya tertawa, setidaknya dia menjadi alasan membuat suasana menjadi riuh kembali.


"Kukaget mendengar kamu dan Nevan benar-benar putus, padahal dari dulu kalian cocok sekali...


Ibaratnya sudah tinggal kepelaminan deh.." sahut Kevin.


"Entahlah, mungkin sudah takdirnya.." balas Tamara sedikit merasakan perih.


"Kalau gitu sama aku aja Tamara, ya memang baru punya beberapa showroom mobil.. " balas Aditya.


Tamara hanya tersenyum manis, sambil melirik kearah Nevan.


"Sebentar lagi acara akan selesai, boleh aku bertemu dengan Rafael setelah acara selesai..


mumpung lagi disini karena sudah jarang bertemu dengan dia.." Nevan meminta izinku.


"Tentu, aku akan selalu disampingmu.." ujarku.


"Kamu gak bosan kan..?" Nevan menyakinkan aku.


"Gak.. aku suka berada disini bersama kamu, setidaknya aku sedikit kenal beberapa teman kamu.. dan betapa konyolnya mereka"


"Hah iya, tapi karena sudah bekerja semua, cukup sulit untuk bertemu seperti ini lagi.. hanya kesempatan seperti inilah kita bisa berjumpa" ujar Nevan.


"Iya aku tahu itu.."


Perlahan tamu dan para undangan pulang satu per satu dan akhirnya sang pengantin turun dari pelaminan untuk duduk di tempat makan VIP khusus pengantin dan keluarga.


Tentunya Nevan mengajaj aku menghampiri Rafael dan istri yang sudah melambaikan tangan pada kami.


"Rafael.. selamat ya bro, langgeng terus selamanya.." Nevan memeluk Rafael.


"Makasih bro.. duduk.. duduk" Rafael mempersilahkan kami duduk bersama dengan sang istri.


"Kenalin tunangan gue, Jovita.. Rafael.." ujar Nevan pada kami.


"Jovita.."


"Rafael.. ini istriku, Kylie"


"Jovita.."


"Kylie.."


"Wah.. kayaknya akan ada yang nyusul kita.. pantesan ya setiap ada acara belakangan ini, menghindar terus.." heran Rafael.


Nevan tertawa pelan.


"Bukan menghindar bro, maklum lagi ada deadline"


"Tau gak Jovita, ini tuh paling gak pernah absen setiap gue ajak dia kumpul..


sibuk pasti ada, tapi kalau wekeend itu gak pernah nolak untuk dateng, sampai ke Raja Ampat waktu itu, dia rela datang padahal siangnya lagi ada launching apa gitu waktu itu..


maklum dulu kan masih single, mungkin sekarang juga sudah makin berumur ya dan punya pasangan lah yah..


Tapi dia diem-diem aja sudah punya tunangan, masa gue baru tau.." Rafael bicara cukup panjang.


Nevan geleng-geleng mendengar perkataan Rafael, akupun hanya tersenyum.


"Padahal dua minggu lalu, ada pesta bujang gue loh bro.. kan lo dah gue kabarin kan..?" kata Rafael yang berada disamping Nevan.


"Iya maaf bro, waktu itu lagi di London.." balas Nevan.


"Sama Jovita kan, hm.. tau banget gue maksud lo bro.." Rafael puas sekali meledek Nevan dan Nevan tak berkutik didepan Rafael sahabatnya.


"Tapi gak apa, gue selalu mendoakan yang terbaik buat lo bro.. Jovita.. Nevan orangnya baik banget, gak neko-neko, beruntung deh pokoknya bisa dapat hatinya Nevan.." kali ini Rafael memuji Nevan begitu tinggi.


Nevan makin geleng-geleng kepala.


"Lo bisa aja bro.." ujar Nevan sedikit malu.


"Iya buktinya, berapa kali ke club malam, mana ada dia cari cewe.. padahal itu cewe kan udah berusaha deketin Nevan..


Tapi tenang kita kesana hanya melepas penat aja, lagipula gue ajak pacar gue juga yang sekarang jadi istri.." melirik Kylie begitu manis.


"Kenapa semua lo ceritain si Rafael.." keluh Nevan sambil bercanda.


Suasana menjadi begitu hangat terasa.


Aku mendekati Kylie, sambil mengajaknya bicara.


"Van, lo serius?"


"Serius apa maksudnya?" heran Nevan.


"Gue memang gak tau kabar lo sekarang ini, gue pikir tadi saat lo sama Tamara....." Rafael tak meneruskan kata-katanya.


"Ulah Gerry.." Nevan mengungkapkan dengan tenang.


"Astaga Gerry.." Rafael baru sadar Gerry dalangnya, karena Gerry sikapnya cukup jahil.


"Sebenarnya gue dah tau dia sengaja, tapi gak enak juga sama dia.." Nevan menjelaskan.


"Yasudah, yang lalu biarlah berlalu, gue ada bisnis baru mungkin lo mau join Nevan..?" Rafael mulai mengungkapkan apa yang ingin dibicarakan.


Aku dan Kylie sesekali bercerita tentang Nevan, bagaimana Kylie mengenal Nevan dan juga Tamara.


Mereka kenal dari zaman kuliah, pantas saja hubungan mereka sudah begitu dekat menjadi sahabat.


"Maaf ya kalau Rafael jika sedikit kelepasan, memang dia dan Nevan sudah seperti saudara.." ujar Kylie.


"Iya tak apa, sebelum kesini sudah dibahas juga sama teman-teman Nevan" ujarku dengan sedikit bercanda.


Kylie dan aku tertawa pelan.


"Mari makan dulu Jovita.. aku sedikit lapar, hanya minum air putih dari pagi. Karena terlalu gugup.." ucap Kylie.


"Iya silahkan..." aku memakluminya.


Tak lama handphone ku berdering.


"Nomor tak dikenal, siapa yah.." tanpa berpikir aku mengangkatnya.


"Halo.." tak terdengar suara balasan dari telepon.


"Halo.." aku permisi dengan Kylie dan menjauh dari keramaian.


"Halo.. halo siapa ini?" Aku melihat layar handphone masih tersambung tapi tetap tak bersuara.


Sedikit aneh, tapi akhirnya aku menutup telepon. Aku berbalik dan tiba-tiba saja Nevan sudah dibelakangku.


"Astaga sayang.. kamu mengagetkanku.." aku terkejut Neva berada dibelakangku.


"Baru kutinggal 15 menit, kamu sudah menghilang.. bagaimana aku tidak khawatir.. kamu sedang apa..?" tanya Nevan.


"Ini tadi aku ada telepon, tapi tak ada suaranya.." jawabku.


"Dari siapa...?"


"Entahlah tak ada namanya di teleponku.."


"Mana coba lihat..?" Nevan meminta handphone ku.


Aku memberikannya, entah mengapa Nevan menjadi seperti ini. Dia menelepon ke nomor yang tadi meneleponku.


"Tak di angkat, aku tahu ini siapa.." Nevan menatap layar seakan tahu.


"Maksud kamu..?" Aku sendiri saja tidak tahu ini siapa, Nevan malah lebih mengetahuinya daripada aku.


"Baiklah kita pulang sekarang, sudah malam juga.." sikap Nevan sedikit berubah, walaupun dia benar karena sudah jam 22.30 malam.


Aku tidak mengerti dengan sikapnya saat ini.


Baru tiga langkah, Tamara berdiri didepan kami.


"Ah maaf, aku sedang berjalan kearah ini" ucap Nevan yang hanya menatap Nevan.


Nevan telihat begitu dingin memandang Tamara, Nevan menggenggamku dan kami berpamitan dahulu dengan Rafael dan Kylie.


Tamara hanya terpaku melihat dari jauh sikap Nevan terhadap Jovita.


"Kita mau kemana..?" tanyaku heran.


"Pulang sayang.. kamu nanti lelah.." kami sedang menuju lobby, dan masuk ke mobil.


"Ke Jakarta?"


"Besok kan sabtu sayang.. kamu kerja?"


"Oh iya ya, maaf aku lupa"


"Malam ini kita menginap d Surabaya, besok kita akan ke Batam.."


"Baiklah.." kemana pun itu aku ikut.


Setidaknya mimpi buruk tentang mantan telah terlewatkan.


Semoga kita tidak akan bertemu lagi, hari ini cukup menguras kecemburuanku.


Bersambung..... ✨✨✨