
Selesai bersih-bersih, aku menatap Nevan sesekali dengan pandangan masih tak percaya pada apa yang dikatakan Tamara.
"Masa iya Nevan tidur dengan banyak wanita, apa mungkin dia hanya mempermainkanku saja.. tapi selama aku menjalani hubungan dengannya, tak terlihat Nevan seburuk yang dikatakan. Mengapa mengenai Tamara, aku percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Nevan.." pikiran ini berkecamuk dihatiku.
"Sayang kamu lagi apa?" Nevan melihatku yang sedang menatapnya.
"Ah tidak, aku sedang mengeringkan rambutku.." sambil memegang handuk yang masih dikepalaku dan berhenti menatap Nevan.
"Kemari dong.. aku tungguin dari tadi" sambil memanggilku kesisinya.
Tanpa bersuara aku mendekati Nevan dengan sedikit canggung karena pikiran yang terlintas dibenakku.
"Mari kita istirahat, aku tidak ingin kamu terlihat kelelahan.." dan memelukku.
"Sayang, aku.. aku ingin bilang..
I love you.." ternyata berat mencoba untuk memberitahu mengenai pembicaraanku dengan Tamara pada Nevan.
"I love you too.. rasanya tidak sabar untuk menuju pernikahan kita.." sambil membelai rambutku.
"Aku juga.." ujarku terbata-bata.
Entahlah aku tak bisa berbohong kalau aku sudah termakan oleh perkataannya Tamara, semua yang dikatakannya tersimpan dipikiranku.
š¼
Tamara menatap handphone yang berada ditangannya. Dia baru saja menelepon orangtua Nevan.
"Semua seperti yang aku perkirakan, tentu orangtuanya menerimaku dengan baik.. orangtua mana yang menolak anaknya mendapat pasangan dengan harta dan bisnis melimpah.." gumam Tamara seakan memulai permainan.
š¼
Kami sudah sampai Jakarta, karena masih ada waktu, kami mampir terlebih dahulu kesalon yang ada di mall dan Nevan pergi membelikan aku gaun untuk penampilanku.
Perlu untukku terlihat mempesona di hari perayaan penting untuk calon mertua. Aku senang Nevan mengerti.
"Kamu cantik sekali sih sayang.." puji Nevan sambil merangkul pinggangku.
"Kamu juga sayang, gagah dan tampan.." balasku memuji karena memang faktanya seperti itu.
"Baiklah, you ready..?" tanya Nevan.
Aku mengangguk sambil tersenyum malu.
Kami datang kerumah Nevan, tempat acara itu diadakan. Suasana acara sudah ramai dengan para undangan. Ruangan demi ruangan ini sudah dihiasi banyak bunga yang masih fresh.
Terlihat sekali acara ini begitu tertata dengan baik.
Nevan membawaku kedepan orangtuanya dan kami banyak bicara tentang apapun itu.
Semua terasa begitu hangat, orangtuanya juga mengetahui kami akan menikah dalam dua bulan kedepan. Mereka menyetujuinya dan menyerahkan sepenuhnya pada kami.
Tak lupa Ibu Nevan mengatakan kerinduannya karena lama tak berjumpa dengan Nevan yang sibuk bekerja.
Nevan memang patut untuk menjadi anak kesayangan orangtuanya, karena Nevan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan sayang dengan orangtua dan keluarganya.
Seseorang memegang tanganku, ternyata itu adik bungsu Nevan yaitu Elina.
"Kakak.. sudah lama tidak ketemu" sapa Elina.
"Hay Elina.. apa kabar, kamu makin cantik saja.." balasku memuji Elina, anak dengan kecantikan sesuai usianya.
"Baik.. kak temani aku yah, aku sendirian.." pinta Elina.
Nevan menatapku sambil tersenyum seraya mengizinkanku.
"Baiklah.." ujarku sambil menggandeng Elina untuk mengikutinya.
"Temani aku makan yuk kak, aku lapar.. tapi aku tak mau makan sendiri.." ajak Elina.
Kami mengambil pudding coklat yang sangat lezat dan duduk bersama sambil memakannya perlahan dan menghabiskannya.
Nevan mendekati beberapa koleganya dalam acara itu, terlihat banyak undangan dari rekan kerja yang datang.
Hingga Tamara benar-benar datang dengan pasukannya yang membawa banyak hadiah untuk hari ulang tahun pernikahan orangtua Nevan.
Tamara dengan 6 orang pria yang berada dibelakangnya yang berpakaian setelan jas hitam, mendekati kedua orangtua Nevan. Aku hanya melihatnya dari jauh sembari menemani Elina yang berada disebelahku.
"Seperti inikah maksudnya, memberikan banyak hadiah hanya untuk menarik perhatian dari keluarga Nevan" gumamku.
"Kak.. kak.. aku mau eskrim, mari kesana yuk" tunjuk Elina kearah tempat eskrim yang tak jauh dari Tamara dan orangtua Nevan berdiri.
"Oh.. baiklah" aku menuruti Elina sambil mencoba menguping apa yang dikatakan Tamara.
Elina sibuk dengan es krim lezat yang dia makan dan aku berpura-pura tak melihat mereka.
Kudengar dengan samar Tamara begitu pandai dalam berbaur dengan orangtua Nevan, tentu apa yang dikatakan Tamara waktu itu benar, orangtua Nevan menerima baik kedatangan Tamara.
Seperti teman lama yang baru saja bertemu, kehangatan diantara mereka berbeda saat dengan diriku, atau mungkin karena juga kami belum lama kenal dan sekali bertemu.
Aku tak tahu Nevan dimana saat itu, mataku mencari tapi tak juga kutemukan sosoknya.
"Tamara, tante dengar bisnis kamu makin berkembang pesat yah.. wah diusia muda, kamu sudah mencapai kesuksesan yang berarti.." puji ibunya Nevan.
"Iya tante, om.. keberuntungan sedang berpihak dengan Tamara, setiap keputusan dalam menjalankan bisnis selalu tepat sasaran.." ujar Tamara sambil tersenyum malu-malu.
"Wah tante jadi ikutan bangga dengernya, kenapa sih baru muncul sekarang.. dulu kemana saja, gak main kerumah, kan bisa temenin tante jalan-jalan juga.." sambung ibu Nevan.
"Iya tante, dulu aku lagi pelan-pelan merintis bisnis mulai dari yang kecil, lalu mulai ke yang menengah dan sekarang untuk skala besar..." ungkap Tamara memulai keriyaannya.
"Gak habis pikir kamu pandai melihat peluang bisnis dan sangat gesit dalam berbisnis.. kamu tuh cocok banget loh sama Nevan.." celetuk ibunya.
Otomatis hatiku terasa bergetar terasa perih didalam diriku, kata-kata itu keluar dari ibu Nevan, padahal sudah ada aku yang menjadi tunangannya Nevan.
Aku menjadi berpikir, mungkin orangtuanya memang akan bangga jika menantunya seorang yang sukses dalam bisnis. Sedangkan aku, hanya pekerja biasa yang hanya menerima gaji tiap bulan, itupun tak sebanding dengan keuntungan yang Tamara dapat dari semua bisnisnya.
"Sesekali ajak Nevan untuk ikut dalam bisnis kamu Tamara, biar ikut berkembang.." sambung ayah Nevan sambil tertawa.
"Dengan senang hati jika Nevan mau bergabung om.. tante.." sambil meminum Wine yang ada ditangan kanannya.
"Ah mungkin orangtuanya hanya ingin berbisnis dengan Tamara" kata batinku berupaya menghibur.
"Sayang sih yah, kenapa kamu baru muncul sekarang.. padahal jika lebih cepat kamu datang.. mungkin Nevan bersama kamu sekarang..." kata ibu Nevan sambil tertawa dengan anggun.
Deg..
Deg..
Kata-kata itu terucapkan lagi, dan aku mendengarnya, apakah dalam hati orangtua Nevan masih menginginkan Tamara untuk menjadi menantunya.
Apakah mereka hanya berpura-pura menerimaku hanya untuk menghormati pilihan Nevan.
Aku harus bagaimana, sedangkan pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua orang, tapi dua keluarga.
Bagaimana jika setelah menikah, orangtua Nevan akan membandingkanku dengan Tamara dengan segala kekayaan dan bisnis miliknya.
Selama ini aku hanya melihat dari sisi Neva. yang mencintaiku, bukan dari pandangan keluarga Nevan. Setelah menikah tentu aku dan keluarga Nevan akan sering bertemu.
Bagaimana jika nanti mereka akan mengeluarkan perasaan kecewanya karena Nevan memilihku.
Arrgh.. hatiku bimbang.
Aku harus bagaimana...
Bersambung..... āØāØāØ