It Beats For You

It Beats For You
Little Secret



Sorenya Nevan mengajakku untuk beejalan-jalan sambil menikmati pemandangan selama di Singapore.


Nevan yang terlihat gagah dan cukup menarik perhatian beberapa orang disekitar kami saat dihotel, aku merasakan setiap tatapan orang-orang itu terhadap Nevan.


"Sayang, kebetulan ada teman yang menginap disini, bisa kita bertemu dengannya?" Pinta Nevan.


"Tentu.." jawabku sambil tersenyum mengiyakan permintaan sederhananya padaku.


"Baiklah, dia sudah menunggu direstoran.. kebetulan dia akan ada acara, jadi sepertinya akan bertemu sebentar" jelas Nevan.


"Iya gak apa-apa" aku mengangguk.


Kami berjalan menuju restoran dan bertemu dengan teman yang dimaksud Nevan.


"Halo dok, apa kabar?" Sapa Nevan sambil menyapa dan bersalaman, begitupun denganku.


"Halo juga, pak Nevan... Baik, maaf sebelumnya saya tidak bisa datang kepernikahan kalian, karena saya mengisi acara selama disini sejak seminggu lalu.. untung saja kamu bilang akan singgah ke Singapore dan kita harus bertemu" ujarnya.


"Iya tak apa dok, perkenalkan istri ku, Jovita ini Dokter Edison.." Nevan memperkenalkan kami.


"Halo dok.. Jovita" sapaku.


"Halo.. Jovita, mari duduk" ajak Dokter Edison.


Kami duduk bertiga, Nevan cukup banyak berbincang dengan Dokter Edison yang kuketahui Ahli Bedah. Entah dari mana awal mereka kenal, aku belum mendengar dari pembicaraan mereka sedari tadi.


Sekitar 15 menit kami bertemu dan mengobrol santai, hingga Dokter Edison izin pamit untuk menghadiri acara yang telah dia beritahukan tadi.


"Baiklah pak Nevan, senang bisa bertemu dengan pengantin baru, jujur saya tidak enak hati karena tidak dapat hadir diacara pernikahan kalian.." ujarnya dengan wajah yang menyatakan penyesalan.


"Tidak apa dok, lain kali kita ketemu lagi ya dok.." kata Nevan dengan hangat.


"Kamu tau menemuiku dimana kan.." imbuhnya dengan sedikit tertawa.


"Jovita, saya mau kasih tahu sedikit rahasia.." sambung dokter itu.


Tentu aku ingin tahu apa yang dimaksud Dokter Edison, yang membuat rasa keingintahuan ku timbul.


"Iya dokter.." ucapku yang penasaran.


"Memang jodoh itu gak kemana" kata dokter itu dengan senyumannya.


Wajahku sudah makin penasaran apa yang selanjutnya akan dibicarakan.


"Itulah kenapa saya menyesal tidak bisa hadir dipernikahan kalian, pertemuan pertama kamu dan pak Nevan ini.. awalnya dari bertemu dengan saya saat praktek dirumah sakit" sambung Dokter Edison.


"Rumah sakit..?" ini menjadi tanda tanya bagiku.


Aku menatap Nevan, seakan ingin diberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Nevan hanya tersenyum tipis, tanpa melanjutkan perkataan dokter Edison.


"Iya, waktu itu saya terlambat memulai jam praktek, nah disitu pak Nevan ini sedang menunggu didepan ruangan praktek saya.. entah kamu masih ingat atau tidak, disana kalian tak sengaja kembali bertemu..


Saat saya datang, pak Nevan ini tak berhenti menatap kamu, lalu saya tanya kenapa tidak kamu sapa saja, dari yang pak Nevan bilang ke saya, kalau sudah beberapa tahun tidak bertemu dengan kamu dan dia mengaku cukup tidak percaya diri untuk menghampiri kamu saat itu.


Entah apa benar itu alasannya.." tawa dokter mengingat hal itu, Nevan hanya tersenyum malu.


"Lalu dia bilang.. saat itu dia belum berani untuk menemui kamu, tapi jika kalian dipertemukan kembali, dia bilang itu berarti sudah menjadi takdir yang akan menjadi jodohnya dan waktu itu dia mengaku akan fight sampai akhirnya sekarang menikah.." ungkapnya.


"Wow..." Batinku, tentu ini hal yang luar biasa dan aku baru mengetahuinya dari orang lain.


"Mengapa Nevan tak pernah cerita tentang hal ini" pikirku dengan hati bergejolak kegirangan mengetahuinya.


Nevan yang duduk disampingku, menggenggam erat tanganku sambil menatapku penuh makna.


"Nah itulah, jodoh gak kemana, jodoh adalah rahasia Tuhan.. dan ini saya juga punya sedikit bingkisan untuk kalian, semoga kalian suka" menyodorkan kotak hadiah yang dia taruh diatas meja.


"Wah dokter.. sebenarnya dokter tak perlu seperti ini" Nevan merasa sungkan saat menerima hadiah daei Dokter Edison.


"Makasih dokter.." ucapku dan Nevan.


"Baiklah, sampai ketemu lagi.." salam pamit darinya.


"Sampai ketemu lagi.." kami membalas salamnya.


Dokter Edison begitu ramah dan dia juga humoris.


Selepas itu tentu aku mencerca Nevan dengan banyak pertanyaan, aku menatap Nevan dalam-dalam.


"Apa sayang?" Tanya Nevan seolah-olah tak mengerti arti tatapanku.


"Coba diceritakan lebih detail lagi apa yang Dokter Edison bilang tadi, kok aku baru tahu sih?" Jiwa penasaranku meledak-ledak.


"Ya kan namanya jodoh harus diperjuangkan sayangku.." Nevan tertawa tipis melihat wajahku yang penasaran sambil mencium tanganku.


"Iya kenapa kamu gak cerita, ketemu dirumah sakit? Tapi aku kok gak tahu kita pernah ketemu ya.." keningku mengernyit.


"Pokoknya itu awal aku berdoa, jika kamu adalah jodohku.. dan kita bertemu untuk kedua kalian setelah itu, berarti kamu memang jodohku, lalu aku berjuang sampai bisa menikahimu" senyum Nevan.


Aku tak tahan mendengarnya, aku ingin berteriak dan loncat kegirangan. Astaga ini terdengar berlebihan tapi itu yang kupikirkan sekarang.


Aku menahan senyum malu-malu diwajahku.


"Aku merasa.. disaat kita bertemu kedua kalinya, seakan doaku dikabulkan begitu cepat. Tanpa pikir panjang aku mengatakan ingin menikahimu saat itu kan" lanjut Nevan.


Wajahku makin memerah, aku tak tahan ingin menciumnya saat ini. Dia begitu... Ah entahlah, pokoknya Nevan segalanya bagiku.


"Malam setelah kita bertemu, tak berhenti ku berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk menyatukan kita berdua atas izin-Nya" ungkap Nevan.


"Sayang..." Aku makin tak tahan mendengar kata-kata yang terdengar romantis ditelingaku.


"Entah mengapa, aku benar-benar begitu yakin padamu.. tanpa ragu sedikitpun.


Sayang kamu baik-baik saja?" Tiba-tiba Nevan berhenti bicara.


"Aku baik-baik saja, hanya semua yang kamu katakan menyentuh hatiku" mataku berkaca-kaca saat ini, hingga aku menahan air mata bahagia ini menetes.


Nevan memberikan tisu padaku.


"Sayang, aku memang sudah jatuh cinta padamu sebelumnya, tapi memang keadaannya dulu belum tepat..


Jadi setelah diberikan lagi kesempatan bagiku saat bertemu kamu, tentu aku tidak akan menyia-nyiakannya" ucap Nevan dengan begitu manisnya padaku, sambil membelai pipiku.


"Aku selalu bersyukur telah dipertemukan kembali denganmu dan kamu telah menjadi jodohku.. sayang, rasanya aku ingin kembali kekamar" aku benar-benar tak tahan untuk tak menciumnya dan memeluknya.


Nevan tersenyum mendengar permintaanku dan langsung menggandengku kembali kekamar hotel.


Pria ini.. pria yang menjadikanku pilihannya, pria yang masih memiliki perasaan yang mungkin sudah lama dia lupakan karena beberapa tahun kami tidak bertemu.


Ternyata berjuang untuk menjadikanku jodoh dalam hidupnya, tanpa ada celah keraguan dalam dirinya..


Padahal saat itu aku baru saja menerima hati pria lain dan aku telah menyakiti mereka berdua.


Tapi.. Nevan masih memberiku kesempatan untuk tetap bersamanya, ini adalah hal yang jarang terjadi.


Apalagi dengan kehidupan Nevan yang mapan, tak sulit baginya untuk merelakan aku disaat dia mengetahui penghianatanku.


Tapi dia berusaha memaafkan kesalahanku, dan tetap mencintaiku, sama seperti dia belum mengetahui perselingkuhan ku dibelakangnya.


Aku mencintainya.. aku sangat mencintainya.. sangat-sangat bersyukur mendapatkan pasangan yang juga sangat mencintai diriku seperti aku mencintai dirinya.


Sesampainya dikamar aku tak ragu untuk menciumnya duluan, merengkuh wajahnya, merasakan keinginan untuk melakukan ibadah suami istri dihari ini.


Bersambung.... ✨✨✨