
Jam 5.45 aku baru selesai mengerjakan laporan urgent yang diminta ibu Glory dan telah ku taruh dimeja beliau. Bergegas aku pulang, takut Nevan terlalu lama menunggu.
Aku sampai dimobil Nevan dan melihat dia sudah duduk di bangku tengah, bang Harris yang mengendarai mobil, driver Nevan.
"Hay sayang, maaf bangeet lama yah. Ini bu Glory gak tau kenapa jadi kasih aku kerjaan pas pulang kerja" ujarku meminta maaf sambil menaruh tas disampingku.
Nevan masih mematung, wajahnya memandang kearah luar jendela menjauh dariku.
Mobil pun berjalan menuju apartemen Nevan.
"Sayang.. kamu marah sama aku?" Tanyaku melihat Nevan tidak merespon kata-kataku.
"Tolong jujur, saat ini hatiku sedang kacau" akhirnya Nevan berbicara, tapi kata-katanya membuat aku terkejut.
"Ada apa, kok tiba-tiba kamu gak seperti biasanya?" Heran ku.
"Apa yang terjadi saat pesta malam itu?" Tanya Nevan dengan nada suara yang masih pelan.
"Apa maksud kamu, ya.. disana hanya pesta biasa tak ada yang special" ungkapku berbohong.
"Biarpun kamu berciuman dengan pria lain" tembak Nevan ke pokok permasalahan.
Duuuaaarrr..!!!
Astaga.. apa yang telah terjadi, kenapa Nevan tahu tentang hal ini. Aku tak membicarakan ini pada siapapun, ini diluar dugaanku.
Entah apa yang harus aku jelaskan pada Nevan.
"Kamu diam, berarti kemungkinan itu benar. Kita akan bahas nanti diapartemen" ujar Nevan, masih tak ingin melihatku.
Aku harus punya jawaban yang tepat sebelum Nevan murka nantinya.
Omg.. aku memang bukan pembohong ulung.. setiap perbuatan ku terbongkar dengan sendirinya. Alvaro dan Nevan.. mereka sudah mengetahui kelakuan buruk ku, ya Tuhan.. bagaimana jika aku akan kehilangan Nevan, apa aku sanggup melepaskannya.
Selama perjalanan ini kami hanya diam dan membeku. Pikiranku sudah rusak setelah Nevan mengetahui yang terjadi dimalam itu.
Sampai di apartemen, Nevan berlalu begitu saja. Dingin dan acuh padaku, aku mengikutinya begitu cepat. Langkah Nevan terlalu terburu-buru untuk ku iringi, mungkin kekesalannya sudah memuncak yang membuat Nevan begitu memendam amarah.
Kami masuk apartemen, bagiku serasa sedang memasuki ruang pengadilan. Inikah rasanya ketahuan selingkuh dan ini terjadi dua hari berturut-turut.
"Kamu duduk" ucap Nevan sedikit keras padaku, dia tak pernah seperti ini sebelumnya, tapi aku tetap mengikuti perintahnya.
Aku masih terdiam.
"Saat ini hatiku sedang tak bisa dikendalikan, jadi tolong kamu bisa beri aku penjelasan bagaimana bisa kamu yang sudah mempunyai aku yang jelas ingin menikahimu, malah ikut party yang untuk para orang yang tidak memiliki hubungan dengan orang lain.
Kamu tidak menganggapku istimewa di matamu Jovita?" Ucap Nevan yang mondar-mandir didepan meja yang tepat dihadapanku.
"Aku tidak bermaksud untuk itu, aku hanya ingin tahu saja, karena tidak pernah mengikuti pesta seperti itu" ujarku menjelaskan.
"Lalu sampai kamu menghianatiku hingga mendapatkan pria lain lalu berciuman, astaga aku gak pernah menduga kamu akan seperti ini Jovita...
Aku sudah jelas tergila-gila sama kamu, ku berikan semua cinta ini padamu. Sekarang nyatanya kamu malah pergi untuk bertemu pria lain dan bersenang-senang dengannya. Jadi aku ini apa dimata kamu?" Ujar Nevan, begitu sesak kudengar.
"Itu tidak benar.. kamu bisa bicara seperti itu dari mana, kamu harusnya bertanya denganku lebih dulu" ujarku membela diri dengan berbohong.
"Ada karyawan dari kantor tempat kamu bekerja yang juga datang kesana, jelas dia kenal kamu dan mengetahui apa yang kamu kenakan.
Dia melihat kamu dengan pria lain dan sedang berciuman di bangku vip.
Astaga aku tak percaya, aku yang mengatakannya, jelas sakit banget saat aku dengar itu dan mengatakannya lagi ke kamu, yang kamu pura-pura tidak tahu" Nevan kembali emosi.
"Fitnah dari mana, buat apa dia berbohong, dia tak tahu aku sedang mendengarkan..
Dia sedang bercerita dengan temannya yang lain tentang kamu" ucap Nevan yang masih mondar-mandir didepanku, gelisah mengetahui kesalahan terbesarku.
Aku tak tahu harus berkata apa untuk membela diri lagi.
"Lalu aku menanyakan kembali, pada Chessy yang kebetulan bertemu denganku dikantin. Dia mengatakan hal yang sama" ujar Nevan memberi bukti lain.
Dhuaarrr!!
Takkan bisa mengelak lagi. Bagaimana bisa Chessy mengatakan itu pada Nevan.
"Apa yang akan kamu jelaskan lagi, untuk tidak berbohong padaku?" Tanya Nevan.
"Apa aku kurang untukku hingga kamu bisa-bisanya mencari pria lain?" Tanya Nevan kali ini dengan sedikit pelan.
"Aku jelas mencintaimu Nevan" ungkapku jujur.
"Lalu apa namanya saat kamu menghianatiku semalam?"
"Aku tidak menghianati mu"
"Berciuman dengan pria lain tidak menghianatiku, ada apa dengan mu Jovita..?
Aku sungguh tidak mengerti.."
"Aku tidak berciuman dengan pria lain"
"Mudah saja bagimu berbohong didepanku, lalu apa yang ingin kamu katakan saat kamu cepat-cepat ingin membersihkan diri saat kamu baru saja sampai disini" Nevan menghujaniku dengan bukti yang benar.
"Aku memang butuh untuk membersihkan diri, tidak ada hal lain"
"Untuk menghindariku mencurigai mu tentang aroma pria lain yang mungkin saja masih menempel ditubuh mu saat kalian berciuman"
"Aku tidak berciuman Nevan, jelas kamu tidak mempercayaiku"
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu sedangkan fakta dari orang yang datang berbeda dengan penjelasan kamu"
Braaakkkk...
Nevan membanting vas bunga dari kaca yang ada di meja kearah meja yang terbuat dari marmer. Vas bunganya pecah berkeping-keping, Nevan terlihat begitu melampiaskan amarahnya.
Nevan terpaku setelah melakukan itu, spontan aku ketakutan dan menangis begitu saja, air mata ini telah jatuh membanjiri kedua mataku.
Tanganku menutup setengah dari wajahku, aku begitu terpukul apa yang Nevan baru saja lakukan. Amarahnya tidak dapat dia kontrol hingga lepas kendali.
"Lebih baik kamu istirahat sekarang" ujar Nevan dengan nada suara pelan yang terdengar bersalah karena telah melakukan itu.
Nevan masuk kekamarnya dengan menutup pintu. Aku yang masih duduk terdiam tengah syok saat ini, aku tak tahu harus melakukan apa sekarang. Rasanya aku ingin lari dari sini, tak ingin lagi rasanya aku masih berada disini.
Tak sadar ternyata serpihan kaca dari vas bunga yang Nevan hancurkan didepanku, mengenai tanganku. Tergores hingga mengeluarkan sedikit darah, aku makin menangis melihat keadaanku saat ini.
Aku tidak bisa menyalahkan Nevan sepenuhnya, karena semua ada sebab yang telah terjadi. Itu karena aku, aku yang menyebabkan ini semua terjadi.
Aku harusnya tidak melakukan penghianatan ini dari awal. Apa yang ku takutkan semua terjadi, semua berantakan.
Alvaro dan juga Nevan telah membenci atas sikapku pada mereka.