It Beats For You

It Beats For You
We barely understood



Aku menatap layar laptop, sambil melamun memikirkan permainan yang mungkin dilakukan oleh Alvaro.


Apakah mungkin berpura-pura menemani Risma hanya untuk bertemu denganku.


Bagaimana bisa hal ini terjadi, apa yang mungkin Alvaro rencanakan atau dia hanya ingin move on dariku yang kebetulan Risma adalah rekan kerjaku.


Isi kepalaku yang tadinya terisi penuh dengan apa yang akan aku hadiri nanti malam sekarang berganti dengan nama Alvaro.


Aku tak ingin memikirkannya lagi,


aku tak ingin menemuinya lagi..


Tapi bagaimana bisa..


Damn..


Tak sengaja aku melemparkan pulpen yang terhempas dari tanganku.


"Mbak Jovita..." kebetulan Hifza datang tepat pulpen itu terlempar kearah lantai dan mengenai pintu.


"Astagfirullah.. yaampun mbak ada apa kok sewot begitu, sampe kaget gue.. gue pikir binatang kecoa tadi.." ujar Hifza dan mendekati mejaku.


"Ah sorry, aku lagi banyak pikiran Za.." dan merapikan meja kerjaku.


"Apa yang dipikirin sih mbak, padahal mbak datang semalam sukses bikin rusuh dan iri wanita seisi kantor coba..


tadi pagi gue dah denger cewe-cewe ngomongin mbak Jo sama pak Nevan..


Duh berasa dapet pangeran charming gitu lo mbak.." ungkap Hifza.


"Oyah.." aku terkejut mendengarnya.


"Iya.. akhirnya go public juga setelah bikin baper foto-foto kalian pas di London.." sahut Hifza lagi.


Seketika aku tersenyum.


"Oke by the way, gue mau bahas event next month.. ada sedikit perubahan yang mungkin akan meningkatkan penjualan kita.." Hifza mulai fokus kepekerjaan.


"Eh tunggu.. lo lihat gak sih semalam Risma datang dengan siapa?" selidikku.


"Gue gak terlalu perhatiin, orang gue sama yang lain sibuk ngemilin makanan.. bu Glory royal banget kan semalam, makanannya kan enak.." Hifza begitu antusias membahas makanan.


"Hem.. semalam Alvaro membututi aku saat ditoilet..." ungkapku dengan pelan.


"Apa...?!" Hifza terkejut.


"Iya, dan aku tuh gak tau bagaimana bisa Alvaro datang semalam.." aku menutupi wajahku.


"Terus ini ada hubungannya sama Risma?" Hifza makin penasaran.


"Iya.. barusan aku dari tempat Risma, dan Felycia datang ketempatnya, karena memergoki Risma datang dengan pria semalam.. dan dia menyebut nama Alvaro.." aku memangku wajahku dengan kedua tangan.


"Felycia.. yaiyalah.. dia kan best friend nya Risma, astaga.. Alvaro masih baper sama mbak?" heran Hifza.


"Iya, tiba-tiba dia berbuat hal aneh, sepertinya dia sengaja membayangi dirinya untuk mengangguku" aku masih menahan cerita tentang yang terjadi sebenarnya.


"Ah gue yakin Risma cuma dimanfaatin deh, mbak kasih tau gak, kalau dia itu mantan mbak Jo yang ganggu mbak?" Hifza memajukan kursinya mendekatiku


"Gue gak bisa Za, bagaimana gue mau kasih tau.. Risma kelihatan menyukai Alvaro, terdengar dari nada suaranya.."


"Ya harusnya mbak kasih tau Risma, kan kasian kalau dia hanya dimanfaatin.. mumpung baru kenal juga kan.." saran Hifza.


"Entahlah Za, gue aja gak bisa kasih tau Nevan soal ini" ujarku sedikit bersalah.


"Astaga... Sulit banget pasti di posisi lo ya mbak, kenapa gak beritahu aja..?"


"Hem.. Hari ini aku akan ontime pulang, ada janji sama Nevan, semoga gak ada Alvaro yang tiba-tiba muncul.." aku mengabaikan pertanyaan Hifza.


"Kenapa mengkhawatirkan hal itu mbak...?" HifzA mengedipkan matanya.


"Gue rasa bisa aja terjadi, melihat apa yang dia lakukan untuk mempertahankan aku"


"Ah.. ini sih bikin baper mantan mbak Jo, emang sih rada freak.. tapi dia masih mau mempertahankan mbak Jo tuh rasanya gak seperti pria kebanyakan.." Hifza malah membayangkan tentang Alvaro.


"Hifza...." Aku melirik tajam kearahnya.


"Ya gue mikir, kenapa Alvaro gak ketemunya sama gue gitu loh mbak..." canda Hifza.


"Astaga... Yaudah sana-sana gue harus menelepon orang nih.." aku teringat apa yang harus kulakukan.


"Apa perlu gue kasih tau Risma?"


"Udah sana...." aku menyuruhnya cepat meninggalkan ruanganku.


"Astaga galak bener, yaudah di baca proposal gue yah mbak.." Hifza menutup pintu buru-buru.


Aku mencoba mengatur mood agar tak melalaikan pekerjaanku.


Hifza mendekati Chessy di meja kerjanya.


"Chess.. sini deh" Hifza berbisik mendekati Chessy.


"Lo lihat kemarin mbak Risma datang sama siapa?" tanya Hifza.


"Gak perhatiin sih mbak, kenapa memangnya..?" Chessy berbalik bertanya.


"Dia datang sama mantannya mbak Jovita tau.."


"Masa sih, yang Dokter itu kan yah?" Chessy terkejut heran.


"Iya lo tau kan.."


"Iya kan gue pernah lihat fotonya dulu.. kok bisa sama mantannya mbak Jovita..?" makin penasaran.


"Kayaknya dia manfaatin Risma deh, untuk bisa ketemu mbak Jovita.. gue baru dari dia diruangannya, dia bilang Alvaro buntutin dia pas ditoilet.." ungkapku sesuai apa yang dikatakan mbak Jovita


"Ah seriusan mbak.. trus mbak Risma tau soal ini?"


"Gak tau, maksud gue.. gimana kita buat skenario pura-pura gak tau tapi ngomongin si mantannya ini dekat dia, jadi kesannya gak sengaja kasih tahu soal ini gitu.." ucap Hifza mengajak Chessy melakukan hal ini, berniat untuk sesuatu yang takkan menyakiti Risma.


"Gimana caranya?"


Hifza membisikkan sesuatu ke Chessy.


"Oke.. oke.. kapan..?"


"Besok.. ya sekarang dong.." celetuk Hifza.


"Yaampun.. yaudah gue ikut aja yah.."


"Sip.. sip.."


Kebetulan mbak Risma lagi menuju dispenser yang letaknya tak jauh dari Hifza dan Chessy berdiri, dan apa yang direncanakanpun dimulai.


"Mbak lo ngucek-ngucek mata terus nanti iritasi loh.." Chessy mengikuti arahan Hifza sebelumnya.


"Gak tau nih gue iritasi kayaknya dari semalem, tapi dikucek nanti juga reda.." kata Hifza yang masih mengucek mata kanan.


"Ye jangan gitu, nanti malah tambah parah karena kena tangan.."


Ternyata benar Risma mendatangi Chessy dan Hifza.


"Kenapa mbak Hifza?" Selidik Risma.


"Ah gak mbak Ris, cuma gatal sedikit dimata kanan gue nih" alasan Hifza.


"Bener kata Chessy jangan dikucek, nanti jadi iritasi dan peradangan.. kemarin aku begitu, terpaksa aku ke rumah sakit.." ungkap Risma berbaik hati memberitahu.


"Oyah.. sama dokter siapa mbak Ris kalau boleh tau?" tanya Chessy.


"Baru pertama kali juga kesana, namanya dokter Alvaro.." Risma mengatakannya dengan tersenyum.


"Hah.. Alvaro...." Hifza dan Chessy terkejut berbarengan dan saling menatap satu sama lain.


Risma sedikit aneh melihat reaksi mereka.


"Memangnya kalian kenal?" Tanya Risma.


"Iya kenal, dia mantannya mbak Jovita.." sahut Chessy.


"Oyah.." sikap Risma menjadi canggung, wajahnya berubah menjadi kaku.


"Tapi gak apa Chess, kan bener mantannya mbak Jovita dokter mata, nanti kalau tambah parah gue akan cek ke dokter.." ujar Hifza.


"Iya bener sih mbak, makanya jangan diperparah lagi.." kata Chessy.


"Iya mungkin kamu bisa cek ke dokter mbak Hifza.." dengan suara sedikit terbata-bata.


"Iya makasih ya mbak Risma.." sahut Hifza.


"Oke deh, ku tinggal dulu yah.." Risma mencoba menghindar dari Hifza dan Chessy.


Risma berjalan menuju meja kerjanya sambil berpikir, apa yang baru saja dia ketahui.


Alvaro mantan mbak Jovita, suatu kebetulan yang aneh. Tapi semalam Alvaro mengatakan tidak ada yang dia kenal dikantor ini.


Sebenarnya apa yang terjadi, Risma memang merasakan ada sesuatu yang aneh mengenai Alvaro, tapi hal itu musnah hanya karena ketampanan dan kemapanan Alvaro dan membuat Risma jatuh cinta pada Alvaro.


Tetapi hingga siang ini, Alvaro tidak menghubunginya.


Risma menjadi berpikir negatif tentang Alvaro.


Bersambung.....✨✨✨