It Beats For You

It Beats For You
I can't tell you what it really is



Aku bergegas membersihkan diri dan berpakaian. Segera kutemui Nevan dikamarnya, ku ketuk pintunya tiga kali.


Tok.. tok.. tok..


"Semoga Nevan tidak salah paham yang berlarut" gumamku, walaupun apa yang nanti terlintas dipikiran Nevan ada benarnya.


Nevan membukakan pintu, aku masuk kedalam kamar dan menutup pintunya lagi.


"Kamu kenapa sayang, apa kamu baik-baik saja?" aku khawatir dengan penampilan Nevan yang tidak seperti biasanya.


Kulihat Nevan yang masih memakai piyama dan wajah seperti begitu lelah.


Nevan berbaring lagi dikasur.


"Maaf yah.. aku tadi malam mabuk, apa kamu marah sama aku?" ujarku sambil mengelus tangannya yang berbaring membelakangiku.


"Iya kamu mabuk dan tidur duluan" ucap Nevan.


"Lalu semalam kamu tidur disini?" tanyaku.


"Iya" jawabnya singkat.


"Owh.. kamu gak mau sarapan?" tanyaku lagi.


"Belum lapar.." ujar Nevan sambil menarik selimut dan menutupi badannya.


"Aku lapar.. kamu benar gak mau sarapan" aku berusaha membujuknya.


" Kamu kalau mau makan, makan saja. Aku butuh istirahat"


"Kamu semalam tidur jam berapa sayang?"


"Entahlah.. yang pasti aku masih ingin tidur"


"Okey.. nanti aku datang kesini dan membawakan makanan untukmu ya" kataku.


Nevan tak membalas.


Aku tak ingin membuat keributan, kupikir Nevan butuh waktu untuk sendiri, jadi aku berniat sarapan direstoran dihotel ini.


Aku meninggalkan Nevan sendiri dikamar hotel.


"Aku yakin dia sedang memikirkan hal yang semalam.." aku tertunduk sedih sambil beranjak menuju restoran.


Aku memakan cukup banyak, entah mungkin karena aku sedang banyak pikiran atau aku butuh energi untuk bersilah lidah nanti.


Aku melihat Alvaro disudut sana sedang sendiri sambil menikmati makanannya, kami tak bisa mendekat, karena aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak berada didekatnya lagi, mungkin Alvaro juga mengerti karena takut akan terjadi salah paham yang hebat jika Nevan menemukan kami bersama.


Selesai makan aku membawakan beberapa roti untuk Nevan dan aku menemuinya disana.


Tok.. tok.. tok..


Aku mengetuk pintu, tak ada jawaban.


"Nevan.. apa kamu disana?"


Tak lama terdengar suara ketukan di pintu kamarku.


Aku mengintip sebentar dan memastikan siapa yang sedang didepan kamarku.


"Nevan.." aku membukakan pintu.


"Aku tadi dari kamarmu" ujarku dan menutup pintu.


"Aku membawakan beberapa roti untukmu" sebelum kata-kataku disela oleh Nevan.


"Jovita, aku seperti orang kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi disini, dan.. dan siapa yang sebenarnya yang kamu cintai?" Nevan terlihat marah dan mencoba meluapkan semuanya.


"Nevan.. apa maksud yang kamu katakan"


"Aku minta kamu jujur, siapa yang kamu cintai?"


"Tentu kamu Nevan, apa lagi yang perlu ditanyakan.."


"Lalu mengapa aku merasa kamu sedang bermain dibelakangku" Nevan sudah merasa curiga padaku.


"Aku sama sekali tidak seperti yang kamu katakan" aku berbohong.


"Kalau itu benar, lalu mengapa mantan kamu Alvaro ada disini?"


Deg!!!


"Benarkah..?" aku memulai drama ini dengan ketidaktahuanku.


"Serius.. kamu merasa tidak tahu kalau dia berada disini" Nevan menggelengkan kepalanya seakan tahu aku sedang berbohong.


"Aku.. aku sungguh tidak mengerti apa yang kita bicarakan"


"Aku bertemu dengan Alvaro di bar, aku mengenalinya karena dulu kamu memajang foto kalian berdua diruang kerjamu dan aku pernah bertanya siapa itu, apa kamu sudah mengingatnya?" ungkap Nevan.


"Oh iya aku baru ingat, tapi kamu bertemu dengan Alvaro di bar apakah dia sendiri?"


"Tidak.. dia bersama teman wanitanya"


"Mungkin dia kesini untuk menemui teman wanitanya dan bukan bersama aku, aku baru tahu darimu kalau Alvaro disini.."


"Apakah itu benar Jovita, kamu tidak mengetahuinya?"


"Tentu, untuk apa aku berbohong.. aku sudah lama tidak bertemu dengannya"


Nevan mematung mendengar penjelasanku, mungkin Nevan sedang berpikir apa benar tentang apa yang kukatakan saat ini.


"Nevan.. mengapa kamu meragukan cintaku padamu, akupun tak mengerti apa yang kamu pikirkan tentang diriku. Apakah aku terlihat mempermainkan dirimu selama ini?"


"Entahlah Jovita, aku merasa.. situasi ini begitu membingungkan ku, apakah ini benar-benar suatu kebetulan.


Aku tak berpikir kalau kamu mencurangiku, tapi bagaimana bisa ini terjadi"


Akupun merasa bersalah membohongi Nevan terus-terusan dan membuatnya terbebani tentang diriku, tapi.. aku terpaksa berbuat seperti ini karena aku mencintaimu.