
Kami baru saja tiba dirumah orangtuaku, di perumahan Royal Mansion Yogyakarta.
Ternyata sudah menunggu Ayah, Ibu, adikku yang bernama Pratama, dan tante Lastri adik dari ibuku, juga paman Anto kakak dari ayahku, tante dan paman datang karena rumahnya memang tak jauh dari rumah orangtuaku.
Aku cukup terkejut tante dan paman datang tapi tak apa aku mengerti. Kami disambut dengan hangat oleh keluargaku, terutama Nevan. Seakan aku dinomor duakan setelah Nevan, entahlah mengapa mereka terlihat antusias dengan kedatangan calon mantunya ini.
Setelah bersalaman dan sedikit basa-basi, aku dan Nevan diajak masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Orangtuaku memperkenalkan diri beserta semua yang ada dirumah ini. Nevan terlihat sangat nyaman tanpa gugup, walaupun pertama kali bertemu. Aku memandangi tawa dan sopan santunnya yang sangat baik. Selalu bersyukur saat menatap Nevan yang sudah menjadi milikku sekarang.
"Ayo nak Nevan, kita makan dulu.. maaf ya kalau hidangan kami tidak banyak" ujar mama mendayu-dayu.
" wahh ibu, ini terlihat enak dan sangat banyak.. terimakasih atas jamuannya, saya minta maaf jika merepotkan ya" kata Nevan dengan sopan kepada mama ku.
Mamaku tersenyum, entah apa yang tersirat disenyumannya.
Kami mulai menyantap hidangan yang disediakan keluargaku, kehangatan diruangan ini sangat kental terasa. Ayahku juga sangat baik pada Nevan dengan segala pembicaraannya, tak lupa tante dan paman mengajak bersenda gurau yang ditanggapi baik oleh Nevan, sedangkan adikku menjadi pendengar sama sepertiku.
Biarlah.. mereka memang sedang mencoba mengenal calon mantu dari anak pertama.
Setelah makan malam, dilanjutkan dengan mengobrol santai, mama dan tante sedang didapur, ayah dan paman juga mengobrol bersama.
Aku dan Nevan sedang duduk ditaman dekat kolam renang.
"Kamu pernah tinggal disini?" Tanya Nevan.
"Datang sesekali saja saat cuti kerja, karena mereka pindah saat aku sudah bekerja di Jakarta" jawabku.
"Oh.. kota ini sangat nyaman, pasti keluargamu betah berada disini" Nevan sambil meminum teh yang telah kusediakan.
"Iya.. mama lebih menyukai tinggal disini ketimbang di Jakarta, tidak terlalu padat penduduk dan tidak terlalu macet, lagipula mereka dipindahkan bekerja disini" aku memandangi taman belakang rumahku yang asri.
"Ayahmu bekerja dirumah juga?"
"Hanya buka praktek, sabtu minggu seperti dipapan depan pagar. Selebihnya dirumah sakit" ayahku seorang dokter anak di salah satu rumah sakit di Yogyakarta dan ibuku seorang dokter kandungan dirumah sakit lain, tapi tidak buka praktek dirumah.
"Wah waktunya cukup full untuk bekerja yah.."
"Iya, anaknya juga sudah besar semua, jadi untuk mengisi waktu mereka masih bekerja" kataku.
"Iya kamu anak pertama dari dua bersaudara ya, bagaimana rasanya hanya ada adik satu?" ledek Nevan.
"Yah.. begitulah, kadang ribut, kadang baik, kadang ada maunya.." aku sambil tertawa pelan mengatakannya.
"nah.. maka dari itu, nanti kita punya anak 5 yah.." pinta Nevan.
"Kamu serius soal itu sayang?" Aku terkejut Nevan membahasnya lagi.
"Iya.. aku serius, aku mau punya banyak anak" sambil memgangguk.
Aku hanya tersenyum malu sambil menatap kearahnya.
"Aku merasa lega telah bertemu keluargamu, mereka sangat baik. Betapa beruntungnya aku nanti punya mertua yang baik seperti mereka" ujar Nevan.
"Keluargamu juga sangat baik padaku, walau pertama kali bertemu" kataku.
"Maka dari itu sepertinya kita memang berjodoh" Nevan tertawa pelan padaku.
Nevan membuat hatiku berdebar mendengarnya, inilah namanya jatuh cinta apapun yang dikatakannya membuat aku makin jatuh cinta pada Nevan.
Kami kembali keruang keluarga, setelah beberapa saat kami berada ditaman.
Kami duduk bersama seperti saat pertama datang, ayahku memulai pembicaraan, bertanya sesuatu kepadaku dan aku menjawabnya.
"Jovita, ada yang ingin kamu katakan?" Ayah membuka kesempatan untukku berbicara.
"Papa.. mama.. tama, tante dan om.. kami datang kesini ada maksud dan tujuan.." aku melihat kearah Nevan.
"Aku dan Nevan telah menjalin hubungan dan Nevan bermaksud memperkenalkan diri kepada keluarga kita" kataku sedikit terbata-bata.
"Iya, ibu, bapak, tama, om.. tante, karena saya serius menjalaninya dengan Jovita, saya bermaksud meminta izin dan restu untuk dapat meminang Jovita" Nevan memandang kearahku menunjukkan keseriusannya pada orangtuaku.
"Alhamdulillah.." semua mengatakan hal yang sama setelah Nevan berbicara.
"Kami terima niat baik kamu nak Nevan, jawaban kami akan sama dengan Jovita.. Sayang.. bagaimana dengan kamu?" Tanya ayahku.
Dengan tersipu malu aku harus menjawab pertanyaaan ayah.
"Jovita sudah bersedia menerima lamaran Nevan pa.. ma.." aku tersenyum tersirat sangat terharu dengan moment ini.
"Masya Allah.. Alhamdulillah" seruangan ini menjadi sumringah, telah terjadi suasana yang sedikit formal, membuat semua yang ada disini ikut merasakan kebahagiaan aku dan Nevan.
"Saya kesini bermaksud untuk meminta izin orangtua dan keluarga Jovita, saya ingin segera melangsungkan pernikahan dengan Jovita" Nevan menoleh kearahku dengan senyuman.
Ruangan ini menjadi riuh dalam sekejap. Kulihat wajah ayah dan ibuku sangat bahagia mendengar hal itu dari Nevan. Anak gadisnya telah dilamar oleh seseorang yang akan jadi suaminya. Mata ibuku berkaca-kaca, begitupun juga ayah tapi dengan wajah yang bijak.
"Maaf jika sepertinya saya terlihat terburu-buru, tapi.. dari awal saya memang sudah mengatakan kepada Jovita untuk menjalani hubungan yang serius dan saya tidak ingin menunda-nunda lagi, untuk semua persiapan akan saya lakukan dengan segera, jadi ibu dan bapak tidak perlu khawatir"
"Kami sudah bertemu dengan keluarga saya, dan orangtua saya sudah mengetahuinya, maaf jika kami baru bicarakan ini sekarang" kata Nevan.
Ayah dan Nevan banyak berbicara mengenai keinginan kami untuk menuju pernikahan, semua yang ayah tanyakan telah dijawab oleh Nevan, tentang pribadi Nevan, pekerjaan dan bagaimana Nevan dapat menjagaku seumur hidupnya.
Malam ini membuatku ingin menangis terharu, ternyata hari itu akan tiba, hari dimana setiap perempuan akan dipertemukan didalam suatu ikatan pernikahan.
Pembawaan Nevan begitu dewasa dan santun, aku melihat kedua orangtuaku merestui kami, senyuman ibuku menandakan dia setuju atas penikahan kami.
Semoga Nevan akan menjadi yang pertama dan terakhir.
Pembicaraan inti sudah tersampaikan, hari sudah menjelang malam. Tadinya Nevan akan menginap dihotel, tapi orangtuaku mengatakan lebih baik menginap disini, Nevan menyetujui dan kamar Nevan berada dilantai atas, selisih 2 kamar dari kamarku.
Hari makin larut karena sudah jam 10 malam, dan aku mengantarkannya kekamar yang akan ditempati Nevan.
"Hari ini sangat melelahkan yah, lebih baik kamu beristirahat sekarang sayang" Aku menaruh jaket milik Nevan dikursi.
"Iya, aku mandi dulu sebelum tidur, sudah gak nyaman dari pagi soalnya"
"Masih jetlag juga aku"
"Oyah.. karena belum aku cium kayaknya nih" Nevan mendekatiku, mendekap dan mencium bibirku.
Ciuman ini membuatku candu selalu ingin kulakukan dengannya. Nevan membaringkan tubuhku dikasur dan kini berada diatasku.
"Semakin hari semakin tak terbendung cinta ini padamu, hari ini menjadi permulaan kita menuju halal" ujar Nevan sambil merapikan rambut yang sedikit menutupi wajahku.
"Akupun begitu, hatiku berdebar saat kamu meminta restu pada orangtuaku tadi"
"Akupun lega sudah bertemu dan mengatakannya langsung kepada orangtua kamu"
"I love you.." aku mencium bibirnya sekejap.
"I love you more.."
"Baiklah karena kamarku berada disebelah sana, aku juga akan beristirahat"
"Baiklah.. mimpikan aku sayang"
"Always..." kataku dan mencium pipinya.
Nevan mencium keningku dan aku meninggalkan kamarnya lalu menutup pintu. Aku menghela nafas, memikirkan semua ini hanya tinggal menunggu waktu.
Aku kekamar lalu membersihkan diri, tak berselang lama ada yang mengetuk pintu.
Tok.. tok..
Siapa yang mengetuk pintu malam-malam, apa mungkin itu Nevan.
"Jovita.. ini mama"
"Oh iya ma.." aku membukakan pintu.
"Malam ini mama mau tidur bersamamu boleh?"
"Tentu ma.." aku mempersilahkan masuk mama.
"Kamu sudah mau tidur?" Tanya mama.
"Iya ma"
"Mama mau membicarakan sesuatu sama kamu, sambil menunggu tidur" mama sudah rebahan dikasur.
"Iya tentang apa ma" aku tidur disamping mama sambil bersender dibahunya, mengenang masa manjaku bersama mama.
"Mama kangen sama kamu nak, gak nyangka anak gadis mama sudah mau menikah, kamu sudah bukan anak mama yang manja lagi" suara mama terdengar serak ditelingaku.
"Iya mah, makasih ya ma sudah merestui kami" aku memeluk mama.
"Selama itu pilihan kamu yang terbaik, kita pasti setuju sayang.. lalu bagaimana kamu bisa mengenalnya, coba ceritakan sama mama"
Aku menceritakan semuanya.. aku tidak ingin berbohong atau ditutupi oleh mama, setidaknya akan meringankan beban pikiranku. Kecuali tentang keintiman kami tentunya.
Aku mengatakannya dari awal, dari aku bertemu Alvaro dengan tidak sengaja, mama kenal dengan Alvaro karena aku sempat mengenalkan Alvaro saat orangtuaku tinggal di Jakarta, saat kami menjalin hubungan tentunya.
Lalu aku bertemu Nevan, mengatakan semua termasuk perselingkuhan ku pada keduanya. Mama yang mendengar sedikit risau, karena aku menghadapi hal yang rumit dalam percintaan.
"Mama juga sebenarnya menyukai mantan kamu, dia anak yang baik. Tapi semua sesuai yang kamu tentukan, baiklah semua itu sudah takdirnya, yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang kamu hanya perlu menjalani kehidupan dengan pria pilihanmu sekarang, jadi kamu harus fokus dengan Nevan tanpa memikirkan hal yang lalu" mama menasehatiku.
"Iya ma.. doain Jovita dan Nevan ya ma.. maaf jika waktunya sedikit terburu-buru, Nevan menginginkan segera dilakukan"
"Iya mama selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak mama, semoga selama persiapan lancar hingga hari H, dan kamu bahagia dunia akhirat"
"Amin.." aku memeluk mamaku, gadis kecil yang kini telah beranjak dewasa dan akan menjadi seorang istri.
Hari bahagia itu akan datang..
Bersambung..... ✨✨✨✨✨