It Beats For You

It Beats For You
Love you so much that it scares me



Alvaro yang sudah berlutut didepanku menolak untuk bangkit, padahal aku sudah menyuruhnya untuk tidak melakukan itu.


Dia menggapai tanganku. Meraihnya dan menggenggam dengan kedua tangan Alvaro, tanpa menatapku yang sudah berurai air mata karena menghancurkan hati seseorang yang kusayangi. Biarpun aku tak tega, tapi aku harus melakukannya.


"Mungkin kamu sempat berpikir aku gila atau gak punya harga diri. Tapi yang ingin kamu harus tahu, untuk orang yang benar-benar ada dalam setiap doaku aku harus mempertahankannya, apapun itu"


Deggg!!!


Aku musti bagaimana. Aku masih terpaku dalam diamku.


"Beberapa wanita memang ada dikehidupanku, tapi aku harus kembali sama kamu karena aku yang tak mampu menggantikan kamu. Aku gak sanggup harus rela lagi kehilangan kamu kedua kalinya, takkan bisa dan takkan mampu"


Menangis hatiku karena tersayat oleh semua kata-katanya.


"Aku minta maaf jikapun ada sikap aku yang salah dimata kamu. Aku minta maaf dengan tulus. Jika benar ada kesalahanku, tolong kamu beritahu biar aku bisa merubahnya. Tapi tidak dengan meninggalkan aku gitu aja"


Kulihat Alvaro juga menitikan air mata, astaga aku telah melukainya begitu dalam. Baru ini aku melihatnya menangis karena aku.


"Saat aku melepaskan kamu demi semua keinginan dan cita-citamu demi karir, aku rela. Aku mencoba untuk kuat meski aku terjatuh, aku coba mencari wanita lain tapi itu tak berhasil. I still thinking about you, aku masih menginginkanmu. Aku jatuh lagi saat mengingat kesalahan karena mau melepaskanmu, tapi apa dayaku aku tak bisa menggapaimu saat itu.


Tapi aku tetap berdoa, jika kita bertemu lagi aku akan memintamu menjadi milikku lagi, dan saat semua terkabul. Tak kan kusia-siakan, aku memintamu langsung menjadi pendampingku. Kamupun menyetujuinya dan kita sudah bersepakat untuk kearah itu"


"Bahagia hanya itu yang aku tahu semenjak kamu hadir dihidupku, ditambah kamu menerimaku untuk menjadi pendampingmu.


Sesekali kuingat saat kita bertemu kembali, kamu bilang tak ada yang menjadi kekasihmu setelah kita putus. Itu membuat aku menjadi pria bodoh, disaat aku masih mengiginkanmu.


Ternyata kamu sebenarnya masih sendiri, harusnya aku bisa menghubungimu lebih dulu. Setidaknya aku mendengar kabarmu atau bertindak sebagai teman. Sesekali menemanimu kemanapun kamu mau pergi, tapi ternyata semua itu adalah egoku. Entah apa yang menyebabkan aku bisa tidak menghubungimu padahal sebenarnya i need you, atau aku begitu gengsi jika kamu tahu i still love you no matter what"


Alvaro, rasanya hati ini tak kuat untuk mendengarnya lagi. Apakah aku goyah untuk melanjutkan keputusanku ini. Aku benar-benar tidak mengetahui bahwa itu yang sebenarnya terjadi, disaat aku tidak memperdulikan atau memikirkan kamu. Ternyata kamu memikirkanku selama ini, seperti yang kamu katakan.


"Kali ini aku takkan sungkan untuk bilang, aku sangat menginginkanmu dan takkan kubiarkan ini berakhir begitu cepat. Jika aku harus berusaha lebih kuat lagi untuk kamu tetap disampingku. Lalu menjadi bagian dari hari-hari setiap kisah hidupku"


Aku tak bisa menahan air mata ini berhenti, pada setiap kata yang Alvaro ungkapkan padaku. Tak bisakah kamu berhenti mengucapkan hal-hal yang dapat merubah keputusanku.


"Beritahu aku, apa yang kamu inginkan untuk aku menjadi prioritas dalam hidupmu, menjadi pelabuhan terakhirmu"


Alvaro terdiam dan kali ini menatap kearahku. Tapi raut wajahnya berubah dengan sedetik yang lalu, ada apa?


"Jovita, katakan jika ini tidak benar. Apa ada pria lain yang menggantikan aku saat ini" terlihat Alvaro begitu ketakutan jika perkiraanya adalah benar.