
Kami bersiap untuk berangkat ke Batam, dan dalam perjalanan menuju bandara. Kami punya banyak waktu berdua.
Aku tak tahu harus berkata apa, aku menikmati kebersamaan ini dengan Nevan.
Cara bicara dan sikapnya begitu menghargai diriku sebagai tunangannya, tak berhenti aku bersyukur telah memilikinya dan dia memilihku.
🌼
Kami tiba di Batam, barang-barang sudah kami taruh dikamar hotel, karena kami langsung pergi ketempat yang dituju.
Nevan bertemu dengan rekan kerja yang sudah menunggu.
"Bagaimana semua sudah di koordinasi sesuai tidak dengan standart yang kita miliki..?" tanya Nevan pada temannya bernama Marcel.
"Ini semua sudah sesuai, tempat ini dekat tengah kota, harga tanah pasti mahal.. kita ada 3 opsi, dua lagi nanti kami antarkan pak.."
Kata Marcel salah satu manager diperusahaannya.
"Oke, kita tetap lihat semua beberapa kemungkinan, kelebihan dan kekurangan.. kita akan ke 2 tempat lainnya hari ini.." pinta Nevan.
Aku melihat-lihat sekeliling, tanahnya begitu luas, memang cocok untuk digunakan sebagai mall.
Tiba-tiba Tamara datang bersama beberapa rekan kerjanya dan menghampiri Nevan dengan senyum menggoda.
"Halo semua.." sapa Tamara yang didampingi 3 orang wanita dan 2 orang pria, terlihat seperti rekan kerja Tamara.
"Tamara...?" Heran Nevan dengan suara lirih.
"Ya.. kamu pasti bingung kenapa aku disini.. seperti yang kamu tahu, bisnisku mulai berkembang pesat, kali ini aku memutuskan untuk membangun mall dikota ini.
Tentunya aku memilih proyek ini diberikan kepada kamu, walaupun sudah banyak perusahaan lain yang menginginkan proyek ini.." ungkap Tamara dengan gaya sedikit angkuh.
"Jadi ini mall milikmu?, Marcel...." Nevan menatap Marcel, tentang yang sebenarnya terjadi.
"Iya pak, ini memang proyek milik bu Tamara dan beliau memprioritaskan kita untuk membangun mall ini" singkat Marcel menjelaskan.
Nevan terdiam sejenak, sambil memikirkan sesuatu.
"Kalau memang banyak perusahaan yang menginginkan proyek ini, kenapa kamu harus memilih perusahaan ini, tentu ini tidak adil bagi pencari proyek besar.." sahut Nevan.
"Aku sudah kepalang percaya dengan kerja perusahaan milikmu.. jadi kamu perlu bersyukur aku langsung memilih perusahaan yang tepat untuk mendapatkan proyek ini" balas Tamara sambil berpangku tangan.
"Marcel.. sebentar ikut saya.." Nevan menjauh dari keramaian itu bersama Marcel.
"Iya pak.." Marc mengikuti.
"Aku lepas tangan untuk mengurusi proyek ini, jika kalian ingin melakukannya, saya tidak ingin menjadi penanggung jawab atas pembangunan proyek ini.." ujar Nevan dengan tatapan serius.
"Bagaimana maksudnya pak, lalu siapa yang akan handle semua pekerjaan ini..?" tanya Marcel kebingungan.
"Kamu koordinasikan kembali dengan Bpk. Rahmad, biar dia yang handle proyek ini.." ucap Nevan sedikit berbisik, Bpk Rachmad adalah General Manager diperusahaan milik keluarga Nevan.
"Lalu survei selanjutnya bagaimana pak?" tanya Marcel lagi.
"Kalian koordinasikan semua pekerjaan kepada Bpk. Rahmad mulai sekarang, agar dia yang mengaturnya.. saya anggap ini selesai disaya hari ini" jelas Nevan.
"Oh baiklah pak.. lalu malam ini bagaimana pak, akan ada makan malam bersama dengan bu Tamara dan beberapa pekerja lainnya.." Marcel mengingatkan.
"Adakan saja, saya tidak ikut.. karena semua sudah terjadwalkan.." ujar Nevan memberi solusi.
"Baik pak.."
"Baiklah, saya ada keperluan lain.. saya akan pergi sekarang..."
"Baik pak.."
Nevan menghampiri kami dan berdiri disampingku, yang sedari tadi diperhatikan sedikit sinis oleh Tamara sesekali.
"Tamara, semua pekerjaan akan dilanjutkan oleh Marcel dan diambil alih oleh Bpk. Rahmad.
Karena saya ada urusan lain, jadi mohon maaf kami permisi dahulu.." ujar Nevan dengan tegas.
"Nevan.. apa yang kamu lakukan..
Kamu tidak bisa bekerja seperti itu, semua sudah sesuai kontrak, tidak bisa kamu alihkan ke orang lain begitu saja.." Tamara terlihat kesal dengan sikap Nevan yang tidak profesional.
"Semua akan sesuai kontrak, jika tidak berkenan, mungkin kamu bisa pilih perusahaan lain untuk proyek besar ini.." kata-kata Nevan masih tertata dengan baik.
"Hanya orang... Hem maksudku kamu mau melepaskan proyek ini?" Tamara mencoba menjaga sikap angkuhnya didepan Nevan.
"Itu semua tergantung pihak dari kamu.."
"Aku tak mengerti, Nevan aku perlu bicara sekarang..." Pinta Tamara.
"Maaf, tidak bermaksud apa-apa, tapi mohon dibicarakan oleh Marcel terlebih dahulu.. kalau begitu saya ada pekerjaan lain jadi mohon maaf untuk pergi lebih dulu.." Nevan berlalu sambil menggandengku.
Semua merasa terheran atas sikap Nevan, apalagi Tamara yang beberapa kali mencoba mendekati Nevan tapi malah menghindarinya.
"Kita lihat Nevan, sampai mana kamu bisa bertahan dengan wanita rendah disampingmu itu.." batin Tamara yang sangat marah oleh sikap Nevan.
Nevan dan aku masuk ke mobil.
"Sayang apa yang terjadi..?" Aku penasaran.
"Entahlah, aku juga tak mengerti.. aku sudah baca kontraknya dan aku tak melihat ada nama Tamara disana.. sepertinya dia sengaja menutupi namanya di surat kontrak.." ungkap Nevan.
"Bagaimana bisa.. apakah itu bisa terjadi..?" heranku tak habis pikir.
"Dia selalu membuat keanehan belakangan ini, dan aku tak ingin terlibat dalam permainannya.." ucap Nevan yang sedang melihat handphone miliknya.
"Lalu kita akan kemana..?"
"Kita akan bermalam disini, besok kita akan ke rumah ku.." lalu menutup handphone.
"Iya, perayaan ulang tahun pernikahan orangtua ku, kamu mau datang kan?"
"Oh ya.. kenapa kamu baru bilang?" aku terkejut mendengarnya, apalagi Nevan baru katakan hari ini padahal itu adalah hari penting bagi kedua orang tuanya.
"Maaf, kadang aku tak sehafal yang dikira orang.." canda Nevan dan tertawa, yang mulai melunak.
"Astaga.. haha.. ulangtahun pernikahan yang keberapa?" selidikku.
"yang ke- 32 tahun.." jawab Nevan.
"Owh ya.. aku harus punya hadiah khusus untuk mereka.." seketika aku berpikir keras apa yang harus kuhadiahi untuk calon mertuaku.
"Tenang saja, sudah disediakan olehku.. jadi kamu tinggal datang bersamaku saja dan menikmati pesta" Nevan mencium tanganku.
"Wekend ini menjadi hari yang panjang untukku.." celetukku, sambil bermanja dibahunya.
"Bersamamu akan selalu menyenangkan bagiku..." dengan lembut tangan Nevan membelai pipiku.
Aku tak tahu akan seperti apa jika Nevan menerima proyek dari Tamara, apakah ini jalan Tamara untuk dapat mengambil hati Nevan. Sebegitu besarnya apa yang dilakukan Tamara demi mendapatkan Nevan kembali.
Sedangkan aku, hanya bisa menghindar saat kami berselisih paham.
🌼
Alvaro dan Risma menghambiskan waktu hingga menjelang malam.
Menonton film dibioskop, dari membeli mulai cemilan, minuman dan makan direstoran.
Tentu Risma begitu senang saat Alvaro bersamanya, sedangkan Alvaro hanya berpikir untuk mencoba bersantai agar hatinya tak melulu memikirkan Jovita.
"Baiklah, aku akan antar kamu pulang yah.." kata Alvaro sambil menuju parkiran mobil.
Risma menghentikan langkahnya.
"Kenapa..?"
"Kenapa apanya?" Alvaro jadi ikut menghentikan langkahnya.
"Aku masih ingin bersamamu, hari ini masih terlalu cepat untuk pulang.."
"Aku lelah, aku sudah cukup untuk jalan-jalan" Alvaro beralasan.
"Kalau begitu aku ingin kerumahmu.. kenalkan aku dengan keluargamu.."
"Apa..?"
"Aku tahu kamu mengerti maksudku.."
"Tidak Risma.. aku tidak berencana untuk mengenalkanmu dengan keluargaku.."
"Kenapa tidak, aku ingin kenal dengan keluargamu.."
"Entahlah Risma, aku tidak berniat untuk lebih jauh denganmu.."
"Tapi aku serius denganmu.." Risma menyakinkan.
"Tidak.. aku akan mengantarkanmu pulang sekarang.."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Kalau begitu kita jangan bertemu lagi dari sekarang..."
"Seperti itukah.. kamu mencampakkanku?"
"Aku tidak bermaksud begitu.."
"Iya kamu begitu.." wajah Risma terlihat begitu kesal.
"Sudahlah Risma, aku tidak ingin ada drama"
"Apa.. astaga Alvaro, aku tidak sedang drama, sekarang aku berniat untuk membuatmu melupakan seseorang yang sudah menghianatimu.. mengapa kamu seolah-olah tidak menginginkan itu.."
"Baiklah.. aku pulang duluan.." tak tahan mendengar apa yang dikatakan Risma, Alvaro berjalan begitu terburu-buru menuju mobilnya.
"Alvaro..." Risma mengikuti.
"Kamu mau pulang atau tidak"
Sambil menghela nafas menatap Alvaro yang sudah membuka pintu untuk duduk dibangku driver.
"Aku tak mengira kamu suka menghindar.."
"Aku tak menghindar, hanya aku tidak ingin bertengkar.."
"Aku akan tetap ingin kerumahmu hari ini.."
"Kalau begitu, jangan pernah temui atau menghubungi aku lagi..
aku sudah katakan sebelumnya, bukan karena aku masih memikirkan seseorang yang seperti kamu bilang tadi.
Tapi karena kamu belum menjadi seseorang yang istimewa untukku.."
"Ok.. tinggalkan saja aku disini.." Risma bermaksud menakuti Alvaro.
"Ok.." Alvaro masuk kemobil tanpa mengindahkan Risma, dan melajukan mobilnya keluar dari mall.
Risma benar-benar kesal dengan perilaku Alvaro yang meninggalkan Risma begitu saja.
"Dia benar-benar tidak memikirkanku.. apasih baiknya mbak Jovita dariku... aku jauh lebih muda darinya.. memangnya pria tidak menyukai wanita muda sepertiku.." sambil menghentakkan kakinya dua kali karena begitu terbawa emosi.
Bersambung..... ✨✨✨