
Setelah melewati pagi yang membara, kami berpisah didepan Rumah Sakit tempat Alvaro bekerja. Tak lupa mencium keningku tanda salah satu sayangnya.
Akupun melajukan mobilku ke salah satu mall yang akan aku kunjungi. Mall Graha Village. Disana banyak store dan hal lainnya yang bisa aku jelajahi.
Sesampainya disana aku memarkirkan mobilku di Basement.
Pagi itu mall baru saja buka ada pula beberapa yang belum buka store.
Sambil melihat-lihat sekeliling, karena hal ini jarang terjadi. Kapan lagi datang ke mall yang baru saja buka.
Kulihat ada tempat nongkrong yang asik disudut sana. Sudah buka juga dan ada 3 pelanggan yang sudah nongkrong disana. Aku mendekati tempat itu sambil menunggu semua store lainnya buka.
Aku memesan minuman, bukan coffe tapi minuman coklat. Aku lebih suka minuman coklat lalu membayarnya.
Kupilih tempat duduk di sebelah kanan kasir. Duduknya dari sofa, tidak seperti di depannya yang dari kursi kayu dengan bantalan di tempat duduknya. Kutaruh tas dan minumanku dimeja, lalu mencoba cek email dan jadwalku saat travelling ke Inggris nanti.
...
Tak terasa sudah 1 jam lebih kududuk dikedai itu.
Baru saja mencoba membereskan barang-barangku. Ada seseorang yang mendekat kearahku.
"Mbak Jovita?" Tanya seseorang itu.
"Hem.. pak Nevan" jawabku menggingat beliau.
Beliau adalah Bapak Nevan Harun, yang dulunya menjabat sebagai National Manager Marketing alias Bos aku dulu. Dia masih muda, penampilannya masih rapi dah maskulin seperti yang terakhir kukenal. Orangnyapun baik dan sebagai Bos dia mau mendengar saran dan apapun itu dari karyawan lain.
Tapi hanya 3 tahun aku bekerja dengannya, dia pula yang mengangkatku sebagai Manager Marketing seperti sekarang ini.
Jadi aku sangat antusias bisa bertemu dengannya sekarang. Karena lama tidak jumpa.
"Wah masih ingat yah, sedang sendirian?" Tanyanya lagi.
"Masih dong, iya nih pak saat datang mall masih belum buka semua, jadi sementara duduk disini dulu. Bapak sendirian juga disini?,
Oh ya mari duduk pak lama tak jumpa" aku mempersilahkan beliau duduk didepanku.
"Iya makasih, aku lagi keliling kedaiku aja. Rutinitas tiap pagi"
"Oh ya, sekarang bapak jadi pengusaha ya. Dimana pak?"
"Oh kedai bapak yang ini, bagus juga ya pak. Gak nyangka resign dari IGS udah jadi pengusaha"
Tempatku bekarja PT. Indogrand Sejahtera.
disingkat IGS.
"Ya namanya juga mau mengembangkan diri, kayaknya harus ada yang dikorbankan untuk sesuatu yang kita impikan"
"Bener juga ya pak" aku mengangguk sambil sedikit meminum minumanku.
"Ini cuma usaha kecilku aja Jovita, aku masih bekerja di perusahaan kecil-kecilan gak sebesar IGS"
"Wah ini juga termasuk hebat pak, selain usaha bapak juga bekerja diperusahaan. Perusahaan apa kalau boleh tau"
"Sekarang aku CEO di perusahaan property" ucapnya.
"Oww.. wah bapak udah sukses betul yah" ujarku semangat mendengarnya.
"Aah biasa aja Jo, hanya kapan lagi kita melakukan hal ini kalau bukan sedari muda. Kamu sendiri bagaimana sudah menikah?"
Deg!
"Aah bapak, masih belum. Maklum kerjaan rasanya sudah menyita waktu" padahal yang ngajak juga belum ada. Hanya pengalihan saja
"Oh benarkah, bagaimana bisa. Ingat loh kamu gak boleh terlalu mengejar karir kamu, hingga lupa untuk diri sendiri"
"Ya namanya jodoh pak, siapa yang tau" ujarku senyam-senyum.
"Kalau sama aku bagaimana"
Deg!!!
What???
Astaga gak salah dengar aku. Seketika pikiranku berkelana mengingat masa aku bekerja dengannya dan bagaimana dia begitu baiknya kepada semua orang.
Apa saat ini aku bermimpi.