
Kami seperti mematung sesaat dalam kemacetan ibukota menjelang malam.
Aku sudah berpikir sebelumnya untuk mengatakan ini, walaupun bukan maksud hati. Tapi keadaan memaksaku untuk harus mengatakannya, karena Alvaro sudah ingin membawaku kerumahnya untuk dapat meresmikan hubungan kita kejenjang pernikahan nanti.
"Baiklah, aku tidak bisa untuk menutupi ini. Aku.. maaf Alvaro aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini" akhirnya bibirkupun dapat mengatakan hal tersulit yang kubayangkan.
"Apa.. maksud kamu?"
"Seperti yang telah kukatakan tadi"
"Jovita, saat ini aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran kamu. Kita akan bahas ini sekarang juga" Alvaro memutarkan mobilnya, entah dia akan membawaku pulang atau tidak.
Kulirik wajahnya penuh kekecewaan yang mendalam, walaupun dia masih bisa mengontrol sikapnya, tapi raut wajahnya berbeda. Aku yakin memang akan bereaksi seperti ini, aku hanya harus menghadapinya.
Ternyata Alvaro membawaku ke hotel, sekarang aku yang tidak mengerti jalan pikirannya, untuk apa kita kesini.
Alvaro memarkirkan dan mematikan mesin mobilnya.
"Alvaro, untuk apa kita kesini"
"Aku butuh ruang untuk kamu jelaskan ini padaku, kita bukan anak kecil lagi Jovita yang baru ketemu, pacaran trus putus gitu aja. Maaf aku gak akan terima soal itu"
Deggg!!!
Yaampun kenapa musti kehotel Alvaro membawaku.
Kami turun dari mobil, Alvaro mengandengku dengan erat tanpa ingin melepaskannya.
Alvaro memesan room dan setelah administrasinya selesai, dia buru-buru untuk membawaku kesana. Selama itu kami hanya diam.
Kami masuk kekamar dan aku tidak mengerti harus bagaimana. Alvaro menutup pintu dan mengambil botol air mineral dan meminumnya yang sudah tersedia, dan aku masih berdiri.
"Aku akan selesaikan dahulu dengan orangtuaku yang sudah menunggu kita, lebih baik kamu duduk dan pikirkan apa yang harus kamu jelaskan padaku"
Aku duduk dikursi dekat jendela, sudah malam dan lampu-lampu menghias begitu cantik terlihat dari sini. Aku mencoba menenangkan diri sebentar.
Alvaro sudah selesai berbicara ditelepon dengan orangtuanya.
"Maaf" ujarku.
Alvaro duduk diatas kasur, membuka dua kancing kemeja biru yang ia pakai.
"Aku mohon kamu jujur, karena semenjak kita bertemu lagi aku gak pernah sekalipun bohong sama kamu. Aku serius sama kamu sayang, aku sudah mulai merasakan bahagia menemukanmu. Dari awalpun aku sudah katakan aku ingin menikahi kamu, tapi hanya dalam 4 hari semua berubah. Ada apa dengan kamu, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan" tanya Alvaro dengan nada suara pelan, mungkin dikarenakan sudah kecewa denganku.
"Aku.. aku merasa hatiku belum menerima semua ini" akupun gugup.
"Belum bisa yang bagaimana, tadi pagi kita masih baik-baik saja. Kamu masih bicara manis padaku, masih sempat panggil aku sayang, bisa tidak berbelit-belit untuk aku dapat mengerti"
"Maaf" aku ternyata belum pandai merangkai alasan yang masuk akal.
"Aku gak butuh maaf kamu sekarang, yang aku butuh penjelasan. Kalaupun jawaban kamu hanya maaf, aku juga maaf gak bisa menerima kenyataan ini.
Aku serius sama kamu, aku sudah mulai persiapkan jangka panjang untuk masa depan kita dan aku percaya sama kamu sepenuhnya, rasanya bukan kata maaf jawaban yang harus kamu katakan"
"Aku tahu, aku tahu.. aku berharap kamu bisa mencari pengganti yang lebih baik dariku"
"Aku tidak bilang akan menuruti kamu kan, aku akan fight jika itu memang yang harus dilakukan. Jika ternyata kamu berbelok entah ada hal apa yang aku sama sekali tidak tahu dan diluar dugaan akan terjadi seperti ini. Aku akan berjuang untuk kita" perkataan yang tulus dari Alvaro untukku.
Astaga aku tak tega membuatnya seperti ini, tak terasa aku meneteskan air mata. Aku seperti menusuk hatiku sendiri dengan perlakuanku dan egoku.
Alvaro mendekatiku, berlutut didepanku sambil memegang tanganku.