
Kami sudah selesai makan malam dan lanjut mengantarkan Nevan berbelanja pakaian dan beberapa hal yang dibutuhkan selama di Inggris bersamaku.
Pakaian sudah pasti, beberapa baju dan celana sudah masuk kekeranjang belanjaan, tak lupa underwear dan kaos dalam. Kaos kaki juga sepatu yang diperlukan, dan peralatan mandi tak ketinggalan juga parfum.
"Ada lagi sayang?" Tanyaku.
"Ini aja cukup, nanti kalau ada yang kurang kita bisa belanja lagi kan" jawab Nevan.
Kami membawa semua belanjaan ke kasir dan membayarnya, lalu kami selesai juga berbelanja.
Setelah lelah mulai melanda karena sudah dua hari tanpa istirahat cukup, kami pulang ke hotel.
Sesampainya dihotel..
"Sayang aku perlu chek-in?" Tanya Nevan.
"Perlu kayaknya sayang.. tempat tidurku single soalnya" ujarku.
"Minta tambahan kasur aja gimana.." Nevan tetap menginginkan bersamaku.
"Kamu pasti gak nyaman, lebih baik kamu pesan kamar lagi" ujarku menyakinkan.
"Aku tunanganmu loh sayang, masa gak boleh sekamar.. kita juga diapartemen bersama" ucap Nevan menggerutu karena aku tidak memperbolehkannya sekamar denganku.
"Tapi beda kamar sayang.." aku tetep kekeh dengan kata-kataku.
"Hemm.. aku gak nyaman kalau tidak ada kamu"
"Sepertinya kamu harus tetap dengan kamar sendiri" aku yakinkan Nevan lagi.
"Astaga.. ngeri banget sih sayang, baiklah malam ini aku nurut.. lain kali gak ya.." ucap Nevan menatapku dengan gemas.
Aku mengernyitkan hidungku seperti meledeknya.
Setelah chek-in, kami menuju lantai 7 dimana Nevan memesan dilantai yang sama, kebetulan ada kamar yang available.
"Oke sayang.. selamat istirahat ya.." ujarku mencium pipinya didepan kamar hotelku.
"Oke.. mimpi indah"
"Oke bye.."
Nevan menuju kamar 716, kamar yang tak jauh dari kamarku.
Aku menutup pintu, dan bergegas membersihkan diri agar nyaman saat istirahat nanti.
"Yaampun.. aku harus bagaimana coba, Nevan.. selangkah lagi akan menjadi suamiku.. ini seperti mimpi.." aku menatap cincin pemberian Nevan yang menjadi cincin tunangan kami.
"Alvaro...sebaiknya aku mengucapkan salam perpisahan padanya.. tak mungkin lagi bagi aku dan dia bertemu. Setidaknya aku akan berterima kasih selama Alvaro menemaniku disini" aku menelepon kamar Alvaro dari telepon milik hotel ini.
Telepon berbunyi, tapi tidak diangkat. Mungkin dia belum sampai dikamar. Aku menutup teleponnya.
Tapi setelah itu teleponku berbunyi.
"Halo.." ujarku menyapa.
"Jovita, kamu sudah pulang..?" tanya Alvaro ditelepon.
"Iya.. aku sudah dikamar" jawabku pelan.
"Kamu sendiri kan?" Alvaro memastikan Nevan tidak bersamaku.
"Iya.. Nevan di kamar 716" ujarku memberitahu.
"Oke.. oh iya selamat ya, tak lama lagi kamu akan menjadi istri orang.. Nevan namanya?" tanya Alvaro.
"Iya.. Nevan.. makasih ya" ujarku mengiyakan.
"Aku turut bahagia akhirnya kamu menemukan jodohmu di Inggris, bagaimana rasanya dilamar didepan istana Inggris?" Alvaro seperti meledekku.
"Campur aduk.. tapi bahagia pasti" aku sedikit mengontrol perkataanku agar tidak terlalu menyakitinya.
"Alvaro.. maafkan aku.. ini diluar dugaanku" ujarku lagi.
"Tak apa.. aku kan sudah bilang.. kalau jodoh kita akan bertemu dipelaminan.. jika tidak.. aku yang mengantarkan kamu ke calon suamimu nanti dipelaminan" kata Alvaro.
Seketika mataku berkaca-kaca mendengarnya, hati Alvaro begitu tegar menerima kenyataan ini.
"Kamu yang bahagia ya dengannya, semoga ini pernikahan yang pertama dan selamanya.."
Tak kuasa aku menitikan air mata mendengar kata-kata Alvaro selanjutnya.
"Apa dia banyak tahu tentang kamu? Makanan yang kamu suka dan tidak suka, minuman yang sering kamu pesan, warna favorit kamu.. atau kebiasaan yang sering kamu lakukan?"
"Belum.. belum semuanya" aku terbata-bata mengatakannya.
Kudengar suara Alvaro begitu tenang berbicara denganku ditelepon. Entah apa yang dipikirannya saat ini.