
Alvaro belum lama singgah di apartemenku, lalu dia mengajak jalan keluar. Sekalian makan malam nantinya, akupun belum lama sampai di apartemen. Untuk jalan keluar lagi lesu rasanya.
"Jalan yuk, ini malam minggu pertama setelah sekian tahun" ujar Alvaro.
"Sekian tahun, lebay banget" ujarku mencoba membela diri.
"Iya hampir 5 tahun gak sih ya, yaampun aku tuh gak nyangka selama itu kamu gak punya pacar ya yang"
"Demi masa depan yang, mau sukses dulu. Cari pasangan cukup dengan doa" candaku.
"Kamu masih nungguin aku kan" ledeknya.
"Masa sih" aku memutarkan mataku.
"Buktinya kamu sendiri yang datang menemuiku" lanjut bercandanya.
"Haha itu kebetulan sayang, aku juga gak menyangka"
"Itu namanya jodoh, sejauh apapun kamu pergi selama apapun kamu pergi. Kamu akan kembali kesisiku. Jangan pergi-pergi lagi ya"
Deg!!!
Aku mencoba menutupi sesuatu dengan ketenangan.
"Kamu mah, ngajak jalan tapi ngeledekin aku dulu" sok ngambek.
"Haha bercanda sayang, biar kamu tau. Aku tujuan terakhir kamu" jelas Alvaro.
Aku memeluknya dari samping, tanpa berkata banyak.
"Udah mau malam nih, nanti kamu laper ga. Dinner diluar aja yuk"
"Iya, yuk. Kamu kalau kelamaan disini. Aku dijamah terus"
"Iih gemesin banget sih jujurnya" dia menggelitik hidungku dengan hidungnya.
"Oke, aku mandi sebentar ya. Gerah seharian diluar"
"Aku mandi juga gak"
"Ya terserah kamu"
"Aku kucel yah?"
"Gak juga sih, kamu kan dari rumah sakit. Gak terlalu berkeringat, kena AC. Aku kan tadi ngiterin mall, makanya keringetan"
"Kamu ngiterin mall lari sayang?" ledek Alvaro lagi.
"Haha lucu ya kamu, udah aah kelamaan lagi nanti mandinya. Tunggu ya"
"Yuk" ucapku. Setelah mengambil tas dan handphone dan berdiri didekat pintu.
"Kemana sih buru-buru, udah cantik, wangi. Sini cium dulu sama abang" Alvaro meraih tubuhku dan mulai menggelitik leherku dengan hembusan nafasnya.
"Kamu tuh ya, aku udah mandi. Nanti lengket" ledekku.
"Emang aku lem apa sayang"
"Bis kamu nempelin aku terus"
Masih menjamah sekitar leherku.
"Tadi kamu ledek aku kayak lem, sekarang aku nempelin kayak hantu kali aku"
"Udah yuk, nanti keringetan lagi aku males mandi"
"Kalau keringetan yang kayak begitu gak apa-apa sayang"
"Apaan sih. Ayuk.." aku mencoba mendorongnya untuk berhenti menjahiliku lagi.
"Gemes.. gemes, cepetan nikah ajak yuk yang. Biar bisa kawin" ujarnya tepat didepanku. Menatap jauh kemataku.
" Yaampun, buru-buru banget. Nikah itu panjang prosesnya sayang"
"Ya kita jalanin itu, kalau gak diurus ya gimana mau nikah. Kamu mau kan nikah sama aku" tanyanya serius.
"Iya aku mau, selama kamu serius sama aku" jawabku. Entah apa aku benar-benar mengatakannya atau hanya untuk menyenangkannya.
"Aku sudah serius semenjak kita ketemu lagi kemarin, aku sudah selesai dengan pencarianku. Kalau kamu?" tanya Alvaro.
Aku berpikir dalam hati.
Aku..? Aku.. aku masih dalam memilih sayang, entah aku mulai ragu pada hatiku atau aku telah tergoda dengan yang lain.
"Akupun begitu" jawabku singkat.
"Syukurlah, tetap dengan keyakinan itu ya sayang. Karena dengan itu kita bisa sama-sama mewujudkan pernikahan nanti"
"Iya" sahutku mengangguk.
Alvaro mencium pipi kanan dan kiriku.
"Yaudah yuk" dia mengandengku keluar apartemen.
Sambil aku mengunci unit dan menuju basement.
Hari ini akhirnya aku berkencan dengan 2 orang pria dewasa yang sama-sama mengajakku serius. Aku tidak tahu sampai kapan hal ini dilakukan. Ini membuatku menjadi seorang pembohong.