It Beats For You

It Beats For You
Tour



Setelah beristirahat di alun-alun Trafalgar Square, kami lanjut melihat Gallery Nasional atau bisa disebut Museum Nasional London yang berada di Trafalgar Square, London, Inggris. Museum ini didirikan tahun 1824, begitulah yang kubaca dari yang terpajang di Museum.



Sejak kami berdiri di depan Museum ini yang sangat lah megah, karena arsitekturnya begitu indah dan aku lebih terpana lagi berada didalam museum. Tempat ini tak boleh terlewatkan untuk dikunjungi, sangat banyak karya seni yang begitu mempesona.


Aku dan Nevan memuji semua bagian dari setiap sisi Museum National London. Berjalan menelusuri setiap karya seni yang terpajang didinding dan tak lupa kami berfoto berdua didekat lukisan yang menawan itu.



Setelah puas menikmati isi Museum National London, kami meninggalkan Museum dan melaju ke tempat wisata favorit lainnya yaitu, London Eye atau Mata London.


Karena hari sudah malam, kami disuguhkan indahnya lampu kota yang berwarna-warni menghiasi dengan begitu cantik dan romantis suasana malam ini.


Kami berencana untuk menaiki London Eye, tapi karena sudah malam, tempat ini sudah tutup. Jadi kami menikmati indahnya malam ini didekat london Eye, semoga besok kita bisa naik kesana sebelum malam.



"Sudah malam, mau lanjut atau balik kehotel?" Tanya Nevan.


"Anginnya sedikit dingin ya.." aku memeluk Nevan.


"Iya.. karena dekat dengan sungai, jadi terasa dingin udaranya. Bagaimana jika kita lanjut besok.." Nevan juga memelukku.


"Rasanya kurang kalau belum sampai malam berada disini" ujarku tak ingin pulang.


"Iya.. besok lagi kita lanjut ya, bagaimana malam ini kita ke bar dihotel" Nevan menyarankan.


"Baiklah, itu lebih baik" kataku menyetujui.


Aku memejamkan mata di hadapan Nevan.


"Maksudnya apa ini" ledek Nevan.


"A..aa.." aku mengisyaratkan sesuatu.


"Okey" Nevan tahu maksudku dan memelukku erat dan mencium kedua pipiku.


Aku masih memejamkan mataku didepannya.


"Kan udah sayang" Nevan menyentuh hidungku dengan hidungnya.


Aku masih menggoda Nevan dengan belum membuka mata. Nevan yang terlihat malu-malu akhirnya mencium bibirku dengan lembut.


"I love you.." dan Nevan menyudahinya.


"I love you too, sekarang aku punya kenangan dicium kamu ditempat ini" ujarku sedikit memanja.


"Untung sudah malam ya, aku agak sedikit grogi cium kamu disini loh sayang" ungkap Nevan sambil celingak-celinguk melihat sekitar kami, tapi biarpun ada pengunjung, tak ada yang memperhatikan kita.


"Sama aku juga, tapi kapan lagi kita gak kesini sering-sering.. aku ingin punya kenangan manis ditempat ini" kataku sambil meledek.


"Yaudah, yuk kehotel.." ajak Nevan.


"Aku mau minum sampai mabuk ya sayang disana" kataku.


"Ow.. kamu bisa sampai mabuk?" Nevan sedikit terkejut.


"Haha gak sih, cuman pengen aja" ujarku sedikit nakal.


"Oke" ujarku setuju.


Kami akhirnya pulang ke hotel dan akan lanjut di bar, untuk beberapa minuman beralkohol untuk dinikmati.


Setelah setengah jam perjalanan dengan naik taxi, kami tiba dihotel dan kami masuk kedalam bar nya.



Suara musik yang kencang begitu memacu kami untuk menggoyangkan tubuh ini.


Aku dan Nevan duduk disofa dengan minuman yang sudah dipesan.


"Satu botol ini cukup untuk memabukkan yah.." ujar Nevan sedikit berteriak karena suara musik yang terdengar begitu kencang.


"Okey.." kataku dan Nevan menuangkan minuman padaku.


Aku yang menyender di bahu Nevan sambil meminum minuman beralkohol ini.


"Kamu pernah minum alkohol sebelumnya?" Tanya Nevan.


"Pernah, hanya saat ada acara yang ada minuman seperti ini saja" jawabku.


"Sampai mabuk?" tanya Nevan lagi.


"Gak.. cuma dua gelas maximal" ungkapku.


"Kenapa sekarang mau sampai mabuk?" masih bertanya padaku.


"Kapan lagi.. kita kan lagi liburan sayang" ujarku berbisik padanya.


"Okey.. tapi jangan jadi kebiasaan ya sayang, tidak baik untuk kesehatan" Nevan melarangku.


"Oke.. kamu sendiri bagaimana?" aku berbalik bertanya pada Nevan.


"Pernah.. tapi gak sampai mabuk" jawab Nevan.


"Paling banyak berapa gelas untuk bisa mabuk?" kataku ingin tahu.


"Mungkin dua botol" ujar Nevan.


"Oh.. kamu kuat juga minum ya.."


"Aku kan pria sayang, jadi gak begitu gampang mabuk.. tapi aku jarang sampai mabuk, kalau sudah sebotol aku berhenti minum" ujar Nevan.


"Ow.."


"Sayang lihat deh, tadi aku perhatikan.. pria berkaos putih di arah jam 11" ujar Nevan yang matanya tertuju pada sosok pria yang baru saja datang dan duduk di bar bersama wanita.


"Kenapa sayang.." aku melihat kearah pria yang ditunjuk Nevan.


"Sepertinya aku pernah melihat dia, tapi dimana yah" ujar Nevan penasaran.


"Siapa sih sayang.. mungkin hanya familiar saja" kataku tak menghiraukan.


"Mungkin.." tapi Nevan masih penasaran dengan apa yang sedang dia lihat.


Rasanya pernah melihatnya tapi bukan karena bertemu, walaupun Jovita tak mengenali, tapi Nevan masih memikirkan pernah melihat sosok pria itu dalam pikirannya.