
Nevan memandangiku seakan tahu, bisa saja apa yang dibicarakan Bimo membuat hatiku cemburu.
"Sayang, are you okay?" Bisik Nevan.
"Im fine.." balasku.
"Apa kamu lelah, kita bisa pulang..." Ajak Nevan.
"Tidak, aku akan menemanimu lebih lama.." rasanya aku ingin memeluk Nevan disini, tapi aku agak segan karena terlalu banyak orang.
"Apa kamu mau aku ambilkan sesuatu, akan kuambilkan..?" Nevan mengedipkan matanya.
"Tidak, aku hanya ingin disampingmu.." memeluk erat lengan Nevan.
"Tadi kamu makan sedikit loh sayang, tunggu sebentar aku akan ambilkan makanan ringan untukmu.." Nevan berniat mengambil makanan untukku tapi kutahan.
"Gak sayang, nanti kalau lapar aku akan ambil sendiri.. sekarang aku maunya sama kamu saja.." kataku pelan.
"Oke.. jangan segan sama aku, kamu bisa katakan jika kamu merasa bosan"
Aku mengangguk.
Tiba-tiba datang teman Nevan lainnya yang menghampiri satu persatu dan kini kami bertambah makin banyak.
"Hay bos Nevan.. apa kabar..?" Salam dan sapa dari temannya yang baru datang.
"Oh hay, bos Gerry, baik..baik.. kemana aja jam segini baru datang?" Sambut Nevan.
"Iya biasa, masih ada kerjaan.. eh bos Bimo, apa kabar..?" Gerry menyapa Bimo dan beberapa orang yang sedang ada dilingkaran ini.
"Haha hay bos Gerry, baik.." sahut Bimo.
"Udah ke pegantin tadi..?" Tanya Gerry.
"Sudah tadi" sahut Bimo.
"Gue nanti deh, bareng sama Tamara.." ujar Gerry.
Seketika Bimo dan Nevan saling tatap, lalu aku merasakan situasi awkward mereka.
"Loh masih kontak dengan Tamara bos Gerry?" Tanya Kevin penasaran.
"Iya.. kan dia juga salah investor diperusahaan milik keluarga gue kan.." ungkap Gerry.
"Di UBS bos?" Sahut Leo, itu adalah salah satu perusahaan pembuat perhiasan.
"Iya, belum lama sih baru 6 bulan ini dia gabung, sekarang Tamara banyak bisnisnya loh.. salut" puji Gerry.
"Wah.. wah.. gue baru denger soal ini, lalu lo janjian sama dia datang malam ini?" Timpal Aditya.
"Gue hanya tanya, dia datang atau gak.. lalu dia bilang datang..
yaudah kalau datang gue kan juga ada sedikit bahas kerjaan lah nanti sama dia.."balas Gerry.
"Oh.. by the way dia single Gerr?" Selidik Bimo.
"Haha.. jangan harap bisa deketin Tamara" ledek Gerry.
"Yah.. kok gitu sih Gerr, langsung minder gue nih.." ucap Bimo seperti patah semangat.
"Tipe nya dia ga kayak lo Bim..
sorry to say, sedikit lah gue ada tau soal dia punya type..
Contohnya nih Nevan.. iya gak.." ledek Gerry sambil melirik ke arah Nevan.
"Oh iya, sorry sampai lupa.. ini Jovita, tunangan gue.." sahut Nevan memperkenalkan Jovita dan memberitahu status Nevan yang sudah punya pasangan.
"Jovita.." aku memperkenalkan diri.
"Oh hay, Gerry.. haha tadi bercanda aja kok.. jangan diambil hati ya.." Gerry menjelaskan.
"Its okay.." aku hanya tersenyum.
Ternyata benar, akhirnya nama yang disebut dari tadi datang juga.
Tamara berjalan sendiri dari pintu masuk, lalu ada seorang pria yang mendekatinya dan berjalan beriringan dengan Tamara.
Aku melihat aura dalam diri Tamara sangatlah kuat, tentu dia cantik dan sangat anggun. Lalu pria disampingnya adalah pria yang memperhatikanku sebelumnya, yang membuatku sedikit terganggu.
Gerry melambaikan tangan ke Tamara, memberitahu posisi Gerry berdiri saat ini. Senyuman Tamara sangat berkharisma, membuat para pria disini ikut tersenyum.
Hanya wajah datar yang bisa kutampilkan saat ini.
Tamara datang dan menemui Gerry tak lupa menyapa beberapa orang lainnya yang berada disini, Tamara terlihat mengenal semua orang yang berada dilingkaran ini.
"Hay Gerry, apa kabar..?" Tanya Tamara dengan suara yang begitu lembut.
Terlihat mata Tamara ke arah Nevan dan melihat diriku yang sedang berpegangan tangan dengan Nevan.
"Hay Tamara, baik.. kamu apa kabar.. kita dah nungguin dari tadi.." sahut Gerry.
"Iya maaf masih ada sedikit kerjaan tadi.." balas Tamara diakhiri dengan senyuman.
Banyak pria yang menanyakan tentang diri Tamara, pesona Tamara menarik para pria disini untuk mengajaknya bicara.
Nevan tak merespon Tamara, dia hanya diam tanpa mencuri pandang kearah Tamara. Aku bersyukur karena Nevan berbeda dengan pria lainnya yang berada disini, yang mencoba untuk mencari perhatian Tamara.
Sedangkan Nevan masih memperhatikan aku.
"Hay Nevan.." sapa Tamara, dia begitu menginginkan perhatian Nevan padanya.
Seketika aku menoleh kearah Tamara, berpikir Tamara mencoba menggoda Nevan lagi, inilah yang terjadi dipikiran wanita jika kekasihnya bertemu dengan mantan.
"Hay.." balas Nevan singkat.
"Apa kabar..?" Tanya Tamara lagi.
Lalu teman-teman mereka mulai berseru saat Tamara mencoba berbicara dengan Nevan.
"Baik.. thanks..." Sahut Nevan.
"Duh Van, jangan mentang-mentang ada cewe disamping kamu, jadi kaku gitu.." ledek Kevin cekikikan.
"Oh iya, kenalin Jovita tunanganku.." ujar Nevan sambil tersenyum.
Otomatis aku mengajukan tanganku untuk bersalaman.
"Jovita.."
"Tamara.."
Hanya itu kata yang terucap dari kami.
"Tam.. kata Rafael, kamu disuruh memberikan Speech gitu.." ujar Gerry memberitahu.
"Oh yah.. aduh aku gak ada persiapan untuk itu.." wajah Tamara berubah merona.
Aku yang memperhatikannya merasa aneh, kenapa dia bisa begitu manis.
"Ayolah.. masa sama sahabat gitu sih, nanti sama Nevan juga.. " ungkap Gerry.
Karena Rafael yaitu pengantin pria adalah sahabat dari Tamara dan Nevan sejak dulu.
"Ah jangan aku Ger, aku gak bisa.." tolak Nevan.
Tamara melirik Nevan, sambil memasang wajah lugunya.
Lalu aku, merasa seakan tidak ada disini.
"Yah jangan gitu dong Van, jangan gara-gara masa lalu lo sama sahabat gak care gitu.." sambung Gerry mengungkit kisah Nevan dan Tamara.
"Tamara ajak dong Nevan, hanya speech aja kan gak jadi masalah dong.." Gerry terus mendorong Tamara dan Nevan agar tetap memberikan speech kepada pengantin.
"Kenapa Nevan, kapan lagi kita bisa memberikan kenangan dihari pernikahan Rafael" Tamara mencoba menyakinkan Nevan.
Nevan menatapku, seperti memberi kode. Tanpa mengatakan apapun, aku tahu maksud tatapan itu.
"Silahkan.." senyumku, padahal itu berlawanan dengan hati ini.
"Please.. jangan Nevan..
please... tetap bersamaku" Batinku berteriak.
"Kalau Jovita mengizinkan" ujar Nevan.
"Nah kan Jovita sudah mempersilahkan, jadi gak masalah ya.. sepertinya sebentar lagi akan diminta pembawa acara, karena Tamara sudah datang" ungkap Gerry sepupu Rafael.
Tak lama waiters memberikan minuman beralkohol di tengah-tengah kami sedang berbicara.
Nevan memberikan aku gelas berisi minuman itu.
"Makasih sayang.." sahutku dan meminum sedikit demi sedikit.
Ku merasakan Tamara sempat membeku beberapa detik saat aku memanggilnya sayang pada Nevan.
Nevan mendekat kepadaku.
"Apa tidak masalah bagimu saat aku kedepan nantinya?" tanya Nevan yang berbisik.
"Tidak apa-apa.." ujarku pelan, posisi kami sangat dekat saat berbisik, jadi tidak terdengar oleh yang lainnya.
"Baiklah, aku tidak akan lama sayang.. tunggu aku disini.." bisik Nevan.
Aku mengangguk, aku memeluk lengan Nevan, minumanku sudah habis dan Nevan yang memberikan gelas kosongnya kepada waiters yang sedang datang kearah kami.
Walaupun begitu Nevan tidak berubah sikapnya padaku, walau ada mantannya disini.
Lalu pembawa acara memanggil Tamara dan Nevan untuk maju keatas stage dan memberikan speech tentang pengantin yang sahabat mereka.
Tamara melihat kearah Nevan seakan mengisyaratkan untuk berjalan beriringan dengannya.
Hatiku terasa sedikit meronta saat melihat Tamara menikmati sosok Nevan disamping dirinya.
Semua mata tertuju pada Nevan dan Tamara yang berada diatas panggung didekat pengantin berdiri saat itu.
Saat semua hening dan mendengar speech dari Nevan, tiba-tiba pria yang memperhatikanku tadi mendekatiku dan berbisik pelan padaku.
"Mereka terlihat seperti dulu, sangat serasi.." ujarnya disamping kananku.
Aku terkejut mendengarnya dan menjadi begitu emosi, karena pria itu mengatakan hal yang menyakitkan bagiku.
"Pria mandiri juga mapan dan wanita hebat tentunya" sambungnya lagi.
Astaga, dia makin sengaja untuk membuatku gelisah, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak ingin ribut di acara pernikahan sahabat Nevan.
Aku tak boleh terbawa emosi, aku mencoba tetap tenang dan tak menghiraukan apa yang dia bicarakan yang bertujuan memancing amarah ataupun kecemburuanku.
Nevan bersikap begitu kaku didepan Tamara, sedangkan Tamara begitu manis dan memanja disamping Nevan.
Akhirnya mereka selesai memberikan speech, lalu didahului Tamara untuk turun dari stage.
Saat di tangga kedua Tamara terlihat tergelincir dan membuat Tamara hilang keseimbangan.
Refleks Nevan membantu Tamara untuk tidak jatuh.
Aku yang melihatnya makin aneh, hal ini mengapa seperti dibuat-buat, jelas terlihat bagiku.
Kulihat dari kejauhan Tamara mengatakan sesuatu, tapi aku tak tahu apa itu.
"Ah maaf, aku tidak sengaja.." ujar Tamara.
"Kamu baik-baik saja?" Kata Nevan melihat Tamara yang bersender dilengannya.
"Iya aku tidak apa-apa.. terimakasih.." Tamara mendirikan tubuhnya.
Lalu berjalan menuju kearahku.
"Sabar Jovita..." Ujarku dalam hati.
Tamara begitu mempesona dengan senyuman yang selalu dia tampilkan. Membuat pria disini memujinya begitu cantik.
Tamara datang dan merasa malu soal insiden tadi, tentu yang lainnya menyakinkan Tamara kalau itu bukan jadi masalah.
Nevan menghampiriku dan menggenggam tanganku.
"Sayang, kamu mau makan..?" Ajak Nevan.
"Ah iya.. boleh" ujarku, sekalian untuk menjauhkan Tamara dari Nevan.
Tamara masih saja mencuri pandang pada Nevan.
"Kami tinggal dulu yah, mau cari makanan.." ujar Nevan dan tak mengindahkan teman-temannya yang menahan Nevan pergi.
"Yah.. belum juga saling ngobrol kok udah pergi.. " beberapa teman Nevan mengatakannya bersahutan.
Nevan hanya tersenyum dan merangkul pinggangku menjauh dari mereka.
"Maaf ya sayang, jika kamu merasa tidak nyaman.. mereka memang akan seperti ini pada siapapun yang pernah punya kisah masa lalu.." ungkap Nevan.
"Benarkah..?" aku terkejut.
"Iya sudah jadi tradisi bagi mereka membuat seperti ini yang kebetulan ada aku juga setiap kejadian itu" kata Nevan sambil berjalan menuju makanan yang tak begitu jauh.
"Untuk apa mereka melakukannya?" selidikku.
"Seru-seruan mungkin.. hal biasa bagi mereka.. tapi aku tak pernah ikut saat mereka mulai menjahili contohnya seperti tadi, saat itu"
"Ya sedikit aneh, tapi apa kamu masih merasakan sesuatu saat ini dengannya?"
"Tentu tidak sama sekali tidak ada, aku hanya menjaga untuk tidak menjadi pembicaraan.." jujur Nevan sambil menatapku.
"Dan insiden itu..?" Tanyaku saat Tamara tergelincir dan Nevan menyelamatkannya.
"Entahlah, mungkin itu tidak disengaja..
Makanya lebih baik kita makan untuk bisa menjauh dari suasana itu" Nevan menjelaskan.
"Sepertinya Tamara begitu populer.. banyak teman pria yang dikenalnya.."
"Dia memang selalu seperti itu dari kuliah.."
"Kamu mengenalnya dari kuliah..?"
"Sayang, aku tidak ingin membicarakan dia saat ini, karena banyak teman dia juga disini.. aku tidak ingin menjadi bahan pembicaraan nantinya.."
"Maaf.." lalu kami mengambil salad buah yang sudah tersedia.
Nevan mengajakku berbicara hal lain, tentunya yang membuatku tersenyum kembali.
Posisi kami berdiri tidak begitu jauh dari teman-teman Nevan dan Tamara berdiri.
Walaupun aku sedang bersama Nevan sesekali saat Nevan tak menatapku, aku melihat kondisi apakah Tamara kembali mencuri pandang kearah kami.
Ternyata firasatku benar, walaupun sekali. Tapi aku menangkap Tamara memperhatikan kami dari jauh.
OMG, wanita dengan segala kelebihannya itu yang mungkin kelemahannya hanya itungan jari, apa mungkin tidak mampu mencari pria lain untuk menjadi kekasihnya.
Apa dia tidak malu untuk mengharapkan pria yang sudah milik orang lain.
Sekejap saja kecemburuan menyelimuti hatiku dengan segala pikiran negatif yang terlintas begitu saja dipikiranku
Bersambung..... ✨✨✨