
Biarpun Nevan masih mencari dipikirannya dimana pernah melihat pria yang ada di bar bersama wanita.
Karena saat ini Nevan sedang di Inggris, tapi Nevan yakin pernah melihatnya tapi bukan di Inggris.
"Sayang.. botol pertama abis.. tambah 2 botol lagi ya sayang.." ujarku sudah mulai sedikit mabuk.
Nevan yang baru meneguk 2 gelas kecil, masih sadar karena belum merasakan mabuk.
"Kamu udah agak mabuk loh sayang.. mending kita kembali kekamar yah" ajak Nevan.
"Gak ah sayang.. sudah jam berapa memangnya sekarang?"
"Jam 1 malam sayang, sudah larut.. kamu butuh istirahat"
"2 botol lagi pleaseeeeee.." aku memohon sambil mencium pipi Nevan.
"Baiklah.. hanya satu, tidak lebih.." Nevan akhirnya luluh juga oleh permintaanku.
"Okey.. sayang" aku mengangguk dan menunggu di sofa selagi Nevan memesan satu botol minuman beralkohol.
Nevan mendekati bar dan berdiri di sisi wanita bersama pria yang Nevan mencoba untuk mengingat-ingat.
Karena sedang berbicara kearah wanita itu, jadi Nevan bisa melihat dengan jelas pria dan langsung mengingatnya.
"Alvaro..." Panggil Nevan yang akhirnya mengenali siapa pria tersebut.
Seketika Alvaro yang sedang berbicara dengan teman wanita, menatap Nevan yang berada tepat dibelakang teman wanita Alvaro.
Alvaro dan Nevan saling menatap satu sama lain.
"Kamu mengenalnya?" Tanya wanita itu.
"Oke.. sebentar aku bertemu teman disini" kata Alvaro kepada teman wanitanya.
"Oke aku baru ingat kamu Alvaro.." ujar Nevan menyakinkan dirinya karena Alvaro menyahut panggilan Nevan.
"Iya betul.. kita pernah bertemu?" Alvaro berpura-pura tidak tahu mengenai Nevan.
"Oh kenalkan, saya Nevan.." Nevan memperkenalkan diri dengan hangat.
"Oh tidak.. kita memang belum pernah bertemu, tapi saya pernah melihat foto anda di ruang kerja tunanganku" ungkap Nevan jujur.
"Maksudnya?" tanya Alvaro.
"Kamu dahulu mantan pacar dari tunanganku, yaitu Jovita" Nevan memberitahu.
Wajah Alvaro sedikit berubah, khawatir akan terjadi sesuatu yang membuat hubungan Nevan dan Jovita berantakan.
Nevan yang berpikir sejenak sambil melihat kearah Jovita dan Alvaro.
"Apakah ini kebetulan kalian di Negara yang sama dan Hotel yang sama?" Nevan mulai merasakan sesuatu yang aneh.
"Tidak.. aku baru melihat kamu dan Jovita disini" Alvaro berbohong demi kebaikan mereka berdua.
"Jovita pernah bicara tentang ini saat pertama kali kita bertemu. Jovita akan ke Inggris bersama temannya. Katakan, apakah itu kamu" selidik Nevan dengan tatapan sedikit tajam.
Alvaro memalingkan wajahnya.
"Baiklah, itu sudah menjadi jawaban untukku" Nevan meninggalkan bar dan menuju kearah Jovita.
"Nevan.. tunggu ini bukan seperti yang kamu pikirkan" Alvaro sedikit menahan Nevan dengan menarik lengannya.
"Lepaskan.. aku tak tahu apa yang terjadi dibelakangku saat ini. Tapi aku sudah cukup melihatnya dengan mata kepalaku" Nevan tetap pergi meninggalkan Alvaro dan melepaskan tangannya yang menahan Nevan untuk pergi.
Alvaro terpaku melihat Nevan kearah Jovita yang sedang duduk disofa dengan setengah mabuk hingga hampir tidak sadarkan diri.
"Jovita, kita kembali ke kamar sekarang!" Ujar Nevan sedikit tegas.
"Ada apa sayang.. aku masih ingin minum disini" kataku dengan tubuh sedikit lunglai.
"Aku bilang, sudah cukup kita disini, aku butuh penjelasan dikamar sekarang" Nevan memapahku dan kami meninggalkan bar.
Aku tak tahu apa yang terjadi, kepalaku sedikit pusing akibat meminum minuman beralkohol. Tapi penglihatanku melihat Alvaro yang sedang berdiri dibar sambil melihat kami pergi meninggalkan tempat ini.
Aku yang menuruti Nevan kembali kekamar dan kami hanya terdiam sampai akhirnya kami tiba dikamar hotel tempat ku singgahi.