
Alvaro dan Della berangkat ke Manchester, banyak tempat yang menarik dan cocok untuk melancong disana.
Della mengajak Alvaro ke tempat Royal Exchange Theater, sebuah bangunan dipusat kota dan didalamnya sangat indah .
Terdapat juga kafe dengan ornamen theater yang mendukung, akan jadi salah satu tempat favorit untuk menikmati makanan didalam gedung theater bersejarah.
Alvaro cukup terkesan dengan tempat yang Della tunjukkan yang ada cafe juga didalamnya. Mereka menikmati hidangan yang tersedia disana.
"Ooh ini tempat yang dulu kita belum sempat datangi yah" ujar Alvaro yang masih melihat-lihat sekeliling dari tempat duduknya.
"Iya.. sekarang tempat ini cukup menarik wisatawan" kata Della sambil mengaduk minumannya perlahan.
Della dan Alvaro masih mengobrol santai sambil menikmati hidangan.
Satu sisi lain ternyata Nevan mengajak Jovita ke tempat yang sama dengan Della mengajak Alvaro yaitu ke Royal Exchange Theater.
"Wow.. tempat ini sangat bagus sayang, theater dan cafe, kamu sudah pernah kesini?" Aku begitu bersemangat sambil menggandeng Nevan.
"Belum.. baru ini. Kamu suka?"
"Suka.. bagaimana kalau kita ke cafenya dulu yah.." kataku.
"Oke"
Kami duduk di kursi yang belum ditempati, dan langsung didatangi pelayan yang menanyakan pesanan lalu kami memesannya.
Telepon Nevan berdering.
"Hemm papa ku, mungkin ada sedikit pekerjaan, boleh aku menerima panggilan sebentar?" Seraya memegang ponselnya.
"Tentu.. aku akan disini"
"Oke, aku segera kembali ya.." Nevan meninggalkanku untuk menerima panggilan telepon dari orangtuanya.
Sambil di tempat duduk aku melihat-lihat sekeliling betapa menakjubkan tempat ini.
Tak lama ada yang menyapaku dari belakang.
"Jovita.." sapa Alvaro yang datang bersama teman wanitanya.
"Alvaro.." aku sedikit terkejut dan perlahan berdiri dihadapan mereka, bagaimana bisa kita bertemu ditempat seperti ini.
"Kamu sendiri?" Tanya Alvaro.
"Tidak, Nevan sedang menerima telepon dari orangtuanya" aku menjelaskan dengan sedikit salah tingkah karena melihat teman wanitanya lebih cantik dariku.
"Ooh.. aku melihatmu disini sendirian, jadi aku berpikir setidaknya bisa menyapa kamu untuk terakhir kalinya" kata Alvaro sambil melirik kearah teman wanitanya.
"Maksudnya...?" Aku kurang paham kata-kata Alvaro tadi.
"Besok aku akan kembali ke Indonesia, kupikir aku sudah cukup berada disini. Tapi untunglah ada Della yang menemaniku selama beberapa hari disini. Oyah kenalkan Della ini Jovita, Jovita ini Della" Alvaro memperkenalkan teman wanita yang bernama Della.
"Oh ternyata wanita ini yang pernah kulihat saat sarapan dengan Nevan pagi itu" batinku berbisik.
"Hay.. Aku Jovita" aku menyodorkan tangan untuk berkenalan.
"Hay.. aku Della, nice to meet you" sahut Della dengan menyambut tanganku.
Kami menjadi sedikit canggung dalam situasi yang membingungkan untuk berhadapan seperti ini.
"Kamu kapan pulang?" Tanya Alvaro.
"Belum tahu, sedang kami bicarakan. Karena kami akan ke rumah orangtuaku" aku membuka obrolan yang pasti akan menjadi pertanyaan.
"Oyah.. secepat itu.." raut wajah Alvaro sedikit berubah dengan nada suara terkejut.
"Hm.. aku sebetulnya pernah melihat kalian saat sarapan dihotel" aku mengalihkan pembicaraan.
Alvaro memegang lenganku.
"Katakan apa yang sedang kalian rencanakan" Alvaro terbawa perasaan.
Aku terkejut dengan reaksi Alvaro seperti itu.
"Aww.. Alvaro lepaskan" aku meringis karena terasa sakit kurasakan.
"Alvaro.. lepaskan, apa yang sedang kamu pikirkan" Della menyadarkan Alvaro.
"Maaf.. perasaan ini belum sepenuhnya menghilang, aku masih merasakan kamu milikku, walaupun aku tahu sebenarnya tidak. Aku tahu ini bukan urusanku lagi..
Baiklah.. aku doakan yang terbaik untuk kalian" perilaku Alvaro menjadi gelisah dan salah tingkah, tersadar dari perilaku yang tak seharusnya dilakukan.
"Oke. Semoga hari kalian menyenangkan" Della menarik Alvaro menjauh dariku.
Akupun juga bingung dengan sikap Alvaro yang terkejut mendengar aku akan membawa Nevan bertemu dengan keluargaku.
Nevan kembali.
"Maaf agak lama, ayahku sedang monitor beberapa pekerjaan yang sedang berlangsung, kamu baik-baik saja kan?" sambil duduk dihadapanku.
Aku tak tahu Alvaro muncul dari mana dan duduk disebelah mana, aku tak bisa menoleh dan mencari sosoknya saat Nevan sudah ada didepanku.
"Iya gak masalah, im fine.." kataku sambil mengelus rambutku dengan tangan kanan.
"Makanan belum datang?" Tanya Nevan.
"Belum.. mungkin sebentar lagi, sayang aku akan ke toilet sebentar ya" aku ingin menghilangkan risau ku tentang Alvaro.
"Oke" ujar Nevan.
Aku pergi menjauh dan berjalan kearah toilet.
Della yang melihat Jovita pergi dari tempat duduknya dan Della mencoba mengikuti Jovita. Alvaro yang membelakangi arah Jovita duduk tak melihatnya.
"Aku akan ke toilet sebentar, aku akan cepat kembali" kata Della terburu-buru ingin mengikuti Jovita.
Aku baru tiba ditoilet, dan memandang cermin yang ada dihadapanku, lalu muncul Della yang baru saja tiba yang kini ada dibelakangku.
"Tidak perlu kamu pikirkan lagi perasaannya" Della mengagetkanku dengan suaranya.
"Itu bisa jadi hal yang wajar terjadi jika seseorang masih memiliki perasaan cinta terhadap kamu.
Aku bukan ingin ikut campur, tapi.. selama disini aku menjadi pendengar setianya, mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah di hati Alvaro" ungkap Della.
"Maaf aku tak bermaksud lancang, tapi aku tak ingin dengar" aku mengalihkan pandanganku yang sebelumnya melihat kearah Della dari cermin.
"Sikap kamu seperti ini, mungkin kamu sebenarnya juga masih memiliki hati terhadap Alvaro, dan berpikir untuk tidak mendengarkan agar tidak membuat hatimu risau" Della menebak.
"Apa yang kamu katakan itu tidak benar" aku masih membelakanginya.
"Entahlah itu hanya kamu yang tahu.. aku sedikit kaget ternyata wanita seperti kamu yang membuat Alvaro menjadi hilang arah, ku pikir setidaknya wanita itu melebihi diriku. Bukan bermaksud sombong tapi itu benar.." ujar Della sambil berpangku tangan.
"Iya harusnya Alvaro juga sudah move on, hanya wanita seperti aku tidak sulit untuk melupakan.." aku berbalik dan berdiri berhadapan dengan Della.
"Kita tidak bisa salahkan jika hati sudah berbicara, ku anggap statement kamu ini kekanak-kanakan" Della seperti menyudutkanku dengan perkataannya.
"Buat apa kamu berbicara seperti ini, toh kulihat kamu bersama Alvaro dipagi hari. Apa kamu menginap dihotel bersama Alvaro?"
"Itu benar.. yang terjadi adalah.. Alvaro mabuk dikarenakan perasaannya tersakiti oleh mu, hal terberat dalam hidupnya saat keseriusan telah dia putuskan untuk wanita seperti kamu.
Disaat penghianatan yang kamu lakukan dengan begitu cepatnya tanpa memikirkan perasaan Alvaro sama sekali"
"Aku mengaku salah, tapi itu sudah terjadi" dadaku terasa sesak mengakuinya.
"Lalu pria seperti apa Alvaro yang masih ingin menemani kamu bepergian ke Inggris yang sudah tahu telah dicampakkan olehmu. Apa kamu pernah memikirkannya?" Della menatap tajam kearahku.
Aku menitikan air mata, aku tahu perasaan Alvaro yang telah kuhianati.
"Yang aku tidak habis pikir, kamu masih mempermainkannya saat pacar baru kamu datang kesini menemui kamu. Didepan mata Alvaro, kamu menerima lamarannya"
"Dia pun telah mengikhlaskanku, saat itu kulihat persetujuan dari anggukannya"
Kami makin berdebat.
"Untuk apa lagi menahan, Alvaro hanya bisa pasrah dalam perasaan yang melukainya. Setelah janji yang kamu ucapkan untuk menerima Alvaro sebagai pendampingmu. Kamu malah balas dengan penghianatan"
"Aku tak mengerti mengapa kamu begitu memburu ku dengan semua ucapanmu mengenai Alvaro. Aku tidak bisa berbuat banyak, aku sudah mengakui kesalahanku didepan Alvaro dan meminta maaf padanya" mataku mulai berkaca-kaca.
"Lalu apa kamu telah mengakui semua pada pasangan barumu?"
Aku terdiam, karena ku tahu aku tak mampu untuk mengatakan sebenarnya didepan Nevan.
"Aku pernah bertemu dengannya saat kami berada di bar hotel saat bersama dengan Alvaro. Yang kulihat dari pertemuan pertama aku dan pasangan baru kamu adalah.. kamu melihatnya dari kemapanan"
"Itu tidak benar, kamu tidak tahu apa-apa mengenai kami. Tidak perlu mengada-ngada"
"Entahlah.. aku bisa melihat dan menilai seseorang dari luarnya begitu saja. Bukankah semua itu kita mulai dari luarnya"
"Cukup.. aku terlalu banyak membuang waktu denganmu" aku menyerah berdebat dengan Della.
"Lalu mengapa kamu lebih memilih dia ketimbang Alvaro?"
"Itu urusanku, bukan urusanmu"
"Itu memang urusanmu, tapi aku malu sebagai wanita, yang mengetahui wanita seperti mu begitu tega mempermainkan perasaan pria demi harta"
"Aku bukan wanita seperti yang kamu katakan.. lebih baik kamu urus Alvaro, kamu bisa menggantikan seseorang dihatinya dan semoga lebih baik dariku"
"Setidaknya aku tidak seperti yang kamu lakukan pada mereka"
Hatiku sudah terkoyak begitu dalam, semua yang dikatakannya memang kesalahanku. Tapi aku tidak terima diperlakukan seperti ini, memang ada benarnya, tapi aku tetap tidak ingin diperlakukan seperti ini.
Aku keluar dari toilet, menjauh dari wanita yang telah menyudutkanku. Menghampiri Nevan dengan melewati Alvaro. Kami hanya saling bertatapan tanpa sepatah katapun. Lalu ku duduk di depan Nevan.
"Maaf lama" kataku sedikit gelisah.
"Tidak apa.. mari makan?" ajak Nevan dengan senyumannya.
"Aku tiba-tiba tidak nyaman ditempat ini, lebih baik kita pergi dari sini"
"Loh.. katanya tadi kamu suka tempat ini, kita belum makan"
"Aku berubah pikiran, ayo kita pergi" aku memaksa Nevan meninggalkan tempat ini.
Kulihat Della yang sedang berjalan didepanku dengan wajah datar, melihat kami meninggalkan tempat ini. Aku hanya menatap sinis kearahnya.
Della baru saja duduk.
"Maaf ya agak lama.."
"Kamu bertemu dengan Jovita ditoilet?"
"Hanya berpapasan saja, lalu dia pergi"
"Ooh.. aku harap kamu tidak mengatakan apa-apa dengan apa yang telah kamu dengar dariku"
"Tidak.. tidak ada yang kukatakan" Della menutupi apa yang terjadi ditoilet.
"Kulihat Jovita pergi terlalu terburu-buru" sambil menengok kearah meja yang ditempati Jovita.
"Mungkin dia takut ketahuan oleh pacarnya" tebak Della sedikit menyindir.
"Ooh.." respon singkat Alvaro.
Della dan Alvaro menikmati hidangan disana, sedangkan aku dan Nevan meninggalkan tempat itu. Aku menghindari kekacauan yang kutakutkan nantinya, mengapa Della bersikap seperti itu, sebenarnya apa yang terjadi Alvaro dan Della hingga Della mengetahui banyak tentang hubungan ku.
Wanita itu tak seharusnya menyudutkanku, semua ini bukan urusannya.
Lagipula aku sudah tidak mendua lagi, tidak perlu dia membahas hal yang telah berlalu.
Jika dia ingin bersama Alvaro, tak perlu membuatku makin merasa bersalah dengan semua kesalahanku padanya.
Bersambung... ✨✨✨✨✨