
Sedikit obrolan ringan antara aku dan Alvaro. Dia masih baik, pembawaannya makin kharismatik, apa Dokter memang seperti itu ya. Tapi dia memang berubah, berubah kearah yang baik, penampilannya sangat rapi dan manis, cara bicaranya makin hangat.
OMG kenapa hati ini, it beats for you.
Kenapa aku malah fokus akan menilai dirinya saat kami diizinkan bertemu. Bukannya memberikan kesan yang nyaman untuk dia. Mungkin dia tau aku sedang menilainya, bisa saja dia sudah menikah atau minimal sudah punya kekasih. Kenapa.. kenapa aku berpikiran seperti ini. Aish.... fokus-fokus hanya untuk ngobrol santai saja Jovita.
"Oke kamu pesan apa?" Tanya Alvaro.
"Aku steak aja"
"Oke Sirloin steak ya.. jus Alpukat?"
"Oh iya boleh"
"Oke.."
Alvaro masih ingat pesanan kesukaanku dan memesankan makanan lalu memanggil pramusajinya. Seraya mengulang pesanannya.
"Iya itu aja mbak, makasih ya"
Ucapnya dengan balas senyuman.
Deg!!!
OMG kayaknya gak beres gue nih. Kenapa jadi terpesona coba aku sama senyuman dia. Ini nih kelamaan jomblo jadi baru ketemu cowok cakep dah dag dig dug. Oke calm down Jovita.
"Aku mau ngobrol sesuatu tapi apapun itu kamu jangan tersinggung ya. Kita memang hanya ketemu lepas kangen aja gak lebih" ujarnya menjelaskan.
"Kamu bisa kangen juga nih?" Ledekku gak sopan. Yaampun norak banget jawabanku tadi.
"Haha ya ada. Makanya aku ngajak kamu kesini, kapan lagi ketemu orang sibuk , kebetulan bisa minta waktunya kan"
"Kamu juga orang sibuk loh"
"Haha.. gimana kabar kamu selama ini" Alvaro menyeimbangi pembicaraan dengan baik.
"Baik.. everything is fine"
"Masih sibuk sama kerjaan kamu? Sampe lupa kontrol mata kamu. Sibuk boleh, tapi kesehatan dijaga"
"Ya baru sekarang ini berasa"
"Kalo gak berasa gak kontrol ya?" Candanya.
"Aku gak sibuk seperti yang kamu bilang kok, sekarang sudah nyaman tidak seperti dulu saat baru memulai semuanya dari nol"
"Syukurlah.. aku senang mendengarnya"
"Jika ada waktu bisalah kita bertemu untuk sekedar jalan santai kayak ini"
Duuaarrrr... Yaampun dia bilang gitu aja ini hati udah meletup-letup.
"Boleh, akupun banyak waktu santai sekarang" ujarku setuju.
"Kadang... ada gak sih kamu keinginan tuk hubungin aku?"
Seraya bersuara beepppp..
"Ya hem.. aku.." aku gugup tak tahu bilang apa yang tidak menyakitinya.
"Ya mungkin dulu kita sama-sama punya ego, harusnya aku bisa hubungin kamu biarpun hanya mendengar kabar kan"
"Yasudah kalau ditanya yang lalu kayaknya rumit mau dibahas, kamu bagaimana sudah menikah?" Yaampun kok bisa-bisanya ngomong gitu. Kayak lagi lepasin anak panah tepat kejantungnya.
"Ahh belum Jovita. Masih single. Maklum mana mau sih perempuan sama pria yang gak selalu ada buatnya"
Nah kan. Kena deh. Tuh anak panah berbalik ketuannya. Karena dulu kami sering bertengkar masalah waktu kami yang sibuk dan suka bentrok jika ada dari kami mengajak jalan atau pergi sekedar mengisi waktu berdua.
"Hemm" pura-pura gak tau.
Makanan pun tiba. kami bersiap memakannya yang terasa lapar sekali setelah obrolan ringan yang terasa berat bagiku.
"Kamu masih seperti dulu ya, gak terlalu banyak berubah. Tapi, kenapa kamu gak gemukan?"
" Haha memangnya kalau lama gak ketemu harus gemukan"
"Haha iya iya maaf, aku cuma bercanda biar gak kaku"
"Kamu juga masih kayak dulu, ya tambah gantenglah"
"Haha serius nih, duh aku kok jadi geer" wajah Alvaro terlihat memerah.
Yaampun liat dia begitu kok hati aku gemes yah, gak nyangka pertemuan ini bikin aku berasa gak kayak biasanya.