It Beats For You

It Beats For You
He looks perfect



Aku tiba di Surabaya jam 7.15 malam kurang lebih satu jam perjalanan.


Nevan sudah menunggu kedatanganku dengan senyum yang menyambut ku begitu hangat, sungguh dia begitu tampan kulihat. Betapa bersyukurnya diriku.


Aku turun perlahan dengan dibantu Nevan yang memberikan tangannya untuk memapahku.


"Kamu begitu cantik.. selalu menjadi yang tercantik untukku.." Nevan mencium pipiku.


"Makasih sayang, kamu juga selalu menawan untukku.." aku membalas mencium pipinya.


"Bagaimana sayang diperjalanan?" Tanya Nevan saat aku telah berdiri disampingnya dan Nevan merangkul pinggangku dan berjalan masuk ke gedung.


"Awalnya aku gugup, tapi lama kelamaan sudah mulai berkurang dan aku mencoba menikmati pemandangan.." kataku sambil tertawa dengan anggun.


"Kuharap kamu menyukai perjalananmu tadi.."


"Tentu.. jadi apa acaranya sudah dimulai, apa aku terlambat?"


"Tidak.. ini hanya acara pernikahan tidak akan terjadi apa-apa jika terlambat" ujar Nevan menyakinkanku.


"Oo baiklah.. tapi aku harus ke toilet, sedikit merapikan diriku.."


"Oke, sebentar lagi kita sampai.."


kami sedang berada dilift.


Telah sampai lantai yang dituju, sebelum itu kami berfoto sebelum masuk ke tempat acara.



Baru setelah itu bergegas ketoilet dan Nevan berada tak jauh dari toilet, bersama dengan temannya. Aku merapikan sedikit rambut dan riasanku, juga tidak lupa menambah lagi harum ditubuhku dengan parfum ukuran mini yang kutaruh ditas pesta.


"Oke perfect..." aku masuk kebilik toilet agar tak bolak-balik nantinya.


Tak lama ada beberapa wanita yang datang.


"Eh eh Nevan dateng loh Rose" sahut perempuan yang baru saja datang.


Seketika aku menjadi penasaran karena mereka menyebut nama Nevan.


"Iya tadi gue lihat, pasti dia datang.. ini kan teman kuliah dan partner kerja dia..


Ini yang gue tunggu, akhirnya bisa bertemu dengan dia.." balas wanita yang dipanggil Rose.


Aku tak jelas mereka sedang apa, tapi aku jelas mendengar mereka membicarakan Nevan.


"Kayaknya ada yang mau CLBK nih.. ciye.." ujar wanita lainnya lagi.


Aku tidak tahu ada berapa wanita ditoilet ini, karena hanya mendengar dari dalam bilik toilet.


"Emangsih cinta kita sudah lama berlalu, tapi mungkin gak sih Nevan akan ngajak gue balikan?" Kata Rosa yang terdengar begitu percaya diri.


"Ya kan lo pernah buat dia klepek-klepek.." canda temannya itu.


"Ya gue gitu, siapa coba yang nandingin kecantikan gue, belum lagi gue juga kaya kan.." kesombongan yang haqiqi.


"Nah berani gak lo ngajak ngobrol dia duluan?"


"Palingan juga Nevan yang ngajak ngobrol duluan.. kita lihat aja nanti.."


"Eh Rose, si Tama bagaimana kan lo juga lagi pedekate sama dia.."


"Kalau lihat kemapanannya sih Nevan lah ya, cuma kali ini Tama gue keep dulu..


Nevan itu awet muda yah, kayaknya gantengnya gak berkurang.. malah makin ganteng.." puji Rose.


"Iya walaupun lihat cuma sekilas.." sahut temannya.


"Nanti kalau Tamara datang juga gimana..?" Sambung temannya yang satu lagi.


"Hah.. Tamara, mantannya yang sebelum gue?"


"Iya.. kan Tamara diundang juga, apalagi gue dengar dia sudah banyak merintis bisnis menengah gitu deh.."


"Memang Tamara mampu nyaingin gue..


kita lihat ya darling.. Semoga mata Nevan tertuju pada gue.."


Aku yang mendengar terasa aneh dengan tingkat percaya diri yang namanya Rose.


Karena tidak sabar untuk melihat secara langsung aku keluar dari bilik toilet.


Benar saja aku melihat 3 wanita didepan kaca yang sedang merapikan lipstik mereka, dengan wajah sinis menatap kearahku.


Aku mencuci tangan dengan dibayangi tatapan mereka yang seperti meremehkanku.


Lalu kemudian mereka pergi.


"Astaga, Nevan pernah punya mantan seperti itu" tawaku sedikit tak menyangka.


Selesai mengeringkan tangan, aku keluar dan aku bisa melihat Nevan sedang berdiri lurus kearahku bersama temannya.


Lalu para wanita tadi berada didepanku, aku berjalan perlahan melihat reaksi mereka saat menemui Nevan.


Benar saja, wanita bernama Rose yang berhenti didepan Nevan dan langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Nevan.


Nevan yang ramah tentu menyambut salam wanita itu, aku masih menahan langkahku untuk melihat reaksi lainnya.


Belum lama mereka bicara, Nevan sudah melambaikan tangan padaku. Senyumnya berubah menjadi begitu ceria saat memandangku.


Aku menghampirinya, seketika wanita itu memberi jalan padaku.


Seakan tak kuat menahan tawa karena melihat wajah keki mereka padaku.


"Hai Rose, Via, Clara.. Kenalin tunangan aku.. Jovita" ujar Nevan dengan dengan merangkulku begitu dekat.


Membuat para wanita halu ini kecewa seketika.


Aku hanya tersenyum menatap mereka.


"Oh okay, sorry yah Nevan aku ada telepon penting, sampai ketemu lagi" ujar Rose mencoba menghindar dari kami, diikuti dengan 2 temannya.


Aku menahan tawa dengan tersenyum.


Aku menggeleng sambil tersenyum.


"Oh iya Bimo ini tunangan aku, Jovita" Nevan memperkenalkan aku pada temannya.


"Hay.. Bimo" sapa Bimo.


"Hay.. Jovita.." sahut Jovita sambil memperkenalkan diri.


"Jovita harus kuat hati ya, brader satu ini salah satu inceran banyak wanita.. salah satunya ya itu.." seru Bimo yang tertawa mengingat kejadian tadi.


"Ah iya.. apakah itu mantan Nevan..?" Aku bertanya sambil menatap Nevan, Nevan hanya menggeleng sambil tertawa pelan.


"Haha nanti coba di selidiki sama tunangan kamu ini.. Jovita" Bimo masih tergelitik oleh kelakuan Rose.


Nevanpun juga tertawa pelan.


"Nevan orangnya baik, wajar banyak wanita yang mengantri..


apalagi dia juga pengusaha muda yang sukses kan.. kamu harus pandai menjaganya, takut-takut diterkam macan lainnya.. kadang ada juga sih pria yang mau sama dia" ledek Bimo cekikikan.


"Astaga... ada-ada aja loh bro..


Itu tidak benar sayang, jangan kamu ambil hati" Nevan hanya tertawa mendengar pernyataan Bimo.


Aku tertawa pelan mendengar candaan mereka. Nevan menggenggam tanganku, aku merasakan perhatiannya ditengah para teman-temannya.


Nevan selalu berada disisiku dan tak lupa memperkenalkan aku pada mereka.


"Woaahh.. Nevan, pak Nevan..." Panggil seorang temannya lagi yang makin banyak mengumpul dilingkaran pembicaraan ini.


"Oh hay bos batu bara.. Keanu, apa kabar..?" Ujar Nevan sambil bersalaman.


"Baik-baik bos property, ah gila nih baru berapa tahun dipegang Nevan, hampir satu kota Surabaya ini didominasi sama perusahaan dia.." puji Keanu.


"Ah gak juga, kan ada Leon juga sebelumnya.. belum Aditya walaupun baru, sudah berapa tempat dia prospek." Ujar Nevan.


"Haha.. merendah untuk meroket ternyata yah bos Nevan.." sahut teman Nevan lainnya.


Otomatis lingkaran ini begitu seru, diselingi canda teman Nevan yang juga para pengusaha muda.


Walaupun beberapa diantaranya juga membawa pasangan disisi mereka.


Sesekali mataku mengarah ke meraka hanya untuk berbaur.


Tadinya aku tidak sadar, tapi ada satu pria yang aku belum tahu siapa namanya. Memandangi aku dan sesekali kurasakan dia mencuri pandang kearahku.


Aku bukannya mau geer, tapi saat aku mulai mengetahui itu dan kami tertangkap saling tatap, entah dia sengaja atau tidak. Itu membuatku merasa tidak nyaman, kini aku akan lebih menjaga kemana arah penglihatanku, lalu aku memegang lengan Nevan dengan tangan kananku.


Banyak candaan teman Nevan yang membuat aku dan lainnya tertawa, ternyata mereka juga suka saling bersikap konyol tanpa menjatuhkan atau menjelekkan seseorang.


Hingga akhirnya kami dipanggil pengisi acara untuk berfoto bersama pengantin, padahal aku dan Nevan belum bersalaman dengan pengantin.


"Mari kita foto bersama sayang..


kamu jangan diambil hati yah, kadang kalau ketemu dengan mereka suka seperti ini, tapi hanya untuk hiburan saja.." sambil mengandengku berjalan menuju stage.


"Iya sayang, kupikir mereka juga cukup menjaga diri untuk tidak terlalu berlebihan.." sahutku.


"Yah syukurlah jika kamu berpikir seperti itu.. mari.. " Nevan mendahulukan aku berjalan menuju pengantin dan tetap menggandengku.


Posisi kami berdiri beberapa orang dari pengantin, karena sedang banyak orang saat pemotretan ini.


Aku merasa ada seseorang yang mencolek bahuku.


Refleks aku menoleh mencari tahu siapa itu, dan ternyata orang yang sedari tadi memperhatikanku.


Astaga orang itu sudah mulai menggangguku, kini dia berani walaupun hanya mencolekku,


aku merasakan risih kali ini. Tapi aku mencoba tenang dan berpikir positif thinking, mungkin hanya perasaanku saja karena sedang banyak orang diatas stage ini.


Sudah jam 8.30 malam dan para tamu belum beranjak pergi.


Kurasa teman-temannya ini lebih ke acara reuni dan aku banyak melihat sisi lain Nevan yang humoris dan banyak teman.


Tak kusangka, karena Nevan tak terlalu banyak membicarakan hal ini, atau mungkin aku yang tidak bertanya.


Tapi apa yang harus aku tanyakan, tentang siapa teman-temannya begitu..


Terasa aneh untuk mengetahui Nevan bergaul dengan siapa, mungkin ini salah satu cara untukku mengetahui sisi lain Nevan.


"Nevan, dari tadi aku belum lihat Tamara.. kudengar dia mengambil alih saham Marie Clare dan beberapa store Charles and Keith, belum lagi mall baru di Jakarta Utara..


Sekarang dia benar-benar fokus ke bisnis.." ungkap Bimo.


"Oh ya, aku malah aku baru dengar sekarang.." dengan gaya santai.


"Ya kan kamu mantannya, masa gak tau..


rencana aku, kalau dia datang aku mau pedekate sama Tamara..


Izin dulu nih sama mantannya" ledek Bimo.


"Ah bisa aja lo Mo.. bukan urusan aku lagi soal itu.. kamu bisa lakukan jika mau" sahut Nevan.


"Bercanda.. apa dia terlalu sibuk yah hingga gak bisa datang.." Bimo mencari-cari sosok wanita itu.


"Mungkin.. coba tanya sama yang lain, mungkin masih punya kontak Tamara.." sambil mencium tanganku.


Aku hanya menjadi pendengar saja.


"Wah.. kamu dah gak punya kontak Tamara lagi?" tanya Bimo.


"Sudah sejak lama..." Singkat Nevan.


Aku mendengar apa yang dikatakan Bimo soal Tamara mantan Nevan yang disebut juga oleh wanita yang bernama Rose tadi di toilet.


Ternyata mantan Nevan seorang businesswomen sukses, tapi mengapa Nevan putus dengannya, itulah mengapa harusnya aku bertanya tentang kehidupan pribadinya. Batinku kini merasakan kecemburuan, padahal itu hanya kisah lama Nevan.


Bersambung.....✨✨✨