It Beats For You

It Beats For You
Unconditional love



Alvaro sudah menunggu Jovita untuk menjemputnya pulang kerja, karena suasana masih sepi, Alvaro menunggu Jovita dikantin gedung kantor itu.


Selang 10 menit, beberapa karyawan berdatangan untuk pulang kantor. Alvaro masih berkutat dengan handphone untuk menemani kesendirian saat menunggu.


Tiba-tiba seseorang memanggil Alvaro.


"Alvaro..?" Sapa Risma dengan terkejut.


Alvaro menoleh dan mendapati Risma didepannya.


"Kamu kesini untuk menemuiku?" Risma memastikan dan tak menyangka.


"Tidak, ini bukan seperti yang kamu pikirkan"


"Atau menunggu mbak Jovita?" Risma menebak tapi itulah jawaban yang benar.


"Kamu.. apa yang sebenarnya terjadi, mbak Jovita tunangan pak Nevan.


Lalu untuk apa kamu menemuinya"


Alvaro diam seribu bahasa, tanpa memberitahu rasa penasaran Risma.


"Apa kalian berbaikan?


Jadi.. aku hanya sebatas selingan untukmu, demi mendapatkan mbak Jovita lagi?" Banyak pertanyaan yang Risma lontarkan tanpa jawaban dari Alvaro.


"Kenapa kamu hanya diam saja, katakan sesuatu.. aku sudah tersiksa menunggu kabar darimu.


Karena aku dicampakkan begitu saja" prasangka Risma.


"Risma, buang semua pemikiran dan prasangka itu. Karena tidak benar"


"Lalu, kamu tak membalas semua pesan ku ataupun mengangkat telepon dariku.


Setelah kamu dapatkan apa yang kamu inginkan, kamu hilang begitu saja" Risma menyudutkan Alvaro.


"Maaf Risma, tapi bukan itu yang terjadi" berusaha menyakinkan tanpa memberi alasan.


"Lalu apa..?" Mata Risma berkaca-kaca dan hampir menangis.


Alvaro menjadi kebingungan menghadapi Risma.


"Aku tak bisa melanjutkan apa yang kamu inginkan, maafkan aku Risma" dan berpaling menghindari tatapan Risma yang begitu mendiskriminasi Alvaro.


Jovita datang menghampiri Alvaro, tanpa tahu ada Risma didepannya.


"Ayo kita pulang" ajakku dan baru tersadar, sedang berada disituasi rumit antara Alvaro dan Risma.


"Hm.. apa aku menganggu disini?" Tanyaku sambil menatap kearah Alvaro dan Risma.


"Tidak, mari kita pulang" Alvaro meninggalkan Risma yang mematung dan menatapnya.


"Apakah aku menyebabkan sesuatu diantara kalian?" Aku penasaran sambil berjalan menuju basement.


"Tidak ada.. lupakan saja" Alvaro mengacuhkan rasa penasaranku.


Risma hanya mampu melihat Jovita dan Alvaro berjalan beriringan.


"Hanya demi mendapatkan mbak Jovita, sebatas itu" kekecewaan menyelimuti perasaan Risma.


"Hay.. Risma, kamu sedang apa?" Tepuk Felycia rekan kerja Risma.


"Ah tidak, pulang bareng yuk, atau kita ke club.." ajak Risma untuk melupakan kekecewaan terhadap Alvaro.


"Boleh, sudah lama kita gak kesana.. yuk" Felycia menyetujui.


🌼


Alvaro membelikan beberapa makanan via drive thru, untuk menemani malam Jovita di apartemen.


Sampai diapartemen.


"Aku sudah terasa lapar dari tadi, mari makan" tanpa menunggu lama aku sudah tidak sabar menyantap semua makanan ini.


"Cuci tangan dulu dong" Alvaro mengingatkan.


"Aku lapar....." Ucapku memanja.


"No.. cuci tangan dulu, baru makan.." sambil menggelengkan kepala.


"Hem.. oke oke" dengan wajah manyun.c


"Astaga, ini baru hamil, nanti pas punya anak bagaimana coba" ledek Alvaro.


"Makin gemes" balasku bercanda dan selesai cuci tangan.


Aku berburu makanan yang sudah dibeli, rasanya tak berhenti mulut ini mengunyah.


Alvaro hanya bisa tersenyum sambil menatap Jovita yang masih kalap dengan makanannya.


"Kamu tidak makan?" tanyaku.


"Aku sudah makan donat 1 tadi"


"Itu saja?"


"Ya itu saja, melihatmu sudah membayangkan kenyang nya seperti apa"


"Hemm" sambil melirik tajam ke Alvaro.


"Astaga, kenapa kamu melihatku seperti itu"


"Jangan membuat bumil tiba-tiba jutex ya"


"Yaampun, baiklah baiklah.. aku menonton tv saja kalau gitu" Alvaro berpindah kedepan tv.


Aku menyelesaikan makanan yang terasa lezat ini.


Hari sudah malam, aku bersiap untuk tidur dan sudah berbaring dikasur.


Alvaro mengetuk pintu.


"Masuk" ucapku.


"Aku bawakan air putih dan susu untuk ibu hamil, diminum yah" menaruhnya dimeja rias.


"Makasih ya" aku memiringkan posisi tubuhku secara perlahan menghadap Alvaro.


"Kamu mau menginap disini lagi?" Tanyaku.


"Iya, jika ada apa-apa aku akan membantumu" jawan Alvaro.


"Aku sudah baik-baik saja, tidak mengapa jika kamu mau pulang dan bisa tidur dengan nyaman"


Alvaro menatap kotak perhiasan yang dia kenal berada diatas meja rias lalu membukanya.


"Ini hadiah ulang tahun mu dariku, apa kamu tidak pernah memakainya lagi?" selidik Alvaro yang menatap kalung pemberiannya pada Jovita.


"Ya sesekali kupakai, kalung itu sangat indah. Sayang jika selalu dipakai nanti cepat rusak" aku beralasan.


"Begitukah?" Alvaro mengambil kalung itu.


"Bolehkah aku memakaikannya lagi?" Sambil mengarahkan ke leherku.


"Boleh" kataku dan Alvaro mendekati lalu memakaikan nya padaku.


"Aku suka saat kamu memakainya, bisakah kamu pakai selama aku masih disisimu seperti sekarang?" Pinta Alvaro dengan suaranya yang lembut.


"Tentu" aku mengabulkan permintaannya dengan sedikit keheranan.


"Dan mengabadikan dengan foto bersama" sambil mengeluarkan handphone dari sakunya.


"Tapi wajahku begitu polos" aku malu melihat wajahku yang tanpa make up untuk foto berdua.


"Memangnya wajahku mau diapakan, polos pun kamu tetap cantik" ucap Alvaro yang sudah duduk tepat disampingku untuk mengambil beberapa foto bersama.


"Oke, siap ya.. jangan lupa senyum" ucap Alvaro dengan senyum mempesonanya.


Cekrek cekrek.. berulang kali Alvaro mengambil foto bersamaku.


"Banyak banget sih fotonya" celetukku.


"Pelit banget, namanya juga jarang-jarang begini. Yasudah jangan dilepas yah kalungnya, kecuali saat aku gak bersamamu.." pinta Alvaro lagi.


"Coba liat fotonya" aku meminta handphone Alvaro.


"Nanti kukirim ke WA mu, tenang aja"


"Astaga, mau liat sekarang kenapa coba?!"


"Yaampun, maksa banget bumil.." akhirnya Alvaro memberikannya.


"Wah kamu terlihat tampan disini, sedangkan aku seperti gemukan.." sambil memegang pipi.


"Gemukan karena ada anak gak masalah Jovita, malah nanti kamu akan kelihatan aura kecantikannya saat hamil beberapa bulan kedepan"


"Hanya karena hamil, aku bisa lebih cantik.. benarkah?"


"Lihat nanti kalau gak percaya"


"Yaudah nih handphone nya" aku memberikannya ketangan Alvaro.


Tiba-tiba Alvaro membeku sambil menatapku, aku merasakan hal aneh saat dia seperti itu dan membuatku salah tingkah.


Alvaro makin mendekatiku, kearah wajahku.


"Astaga, dia sedang apa.." batinku bertanya.


Posisi tubuh Alvaro sudah didekat wajahku, membuatku menutup mata dengan sedikit canggung.


Tiba-tiba Alvaro terhenti, seperti hampir tak berjarak dari wajahku. Menatap wajah Jovita yang menutup mata seperti ketakukan, sambil tersenyum Alvaro mencium pipi Jovita yang sedikit lagi mendekati ujung sisi bibirnya.


"Selamat malam, mimpi indah" satu kecupan dipipi mendekati bibir Jovita membuat jantung Jovita seakan terhenti sedetik.


Aku yang terkejut karena kecupannya mendarat dipipiku lalu membuka mata, melihat Alvaro menutup pintu kamarku.


"Yaampun, dia bikin kaget saja. Bagaimana kalau tadi dia mencium bibirku" sambil memegang bibir dan aku membayangkannya.


"Astaga, kenapa jadi kepikiran sih" aku mengambil susu yang disediakan Alvaro dan meminumnya ditengah salah tingkah karena sikap Alvaro tadi.


"Ternyata dia pandai mengurus ibu hamil" ucapku memuji kebaikannya.


🌼


Nevan pulang kerumah orangtuanya, kebetulan ayah dan ibunya sedang berada dirumah.


"Malam ma, pa" sapa Nevan yang baru saja datang.


"Halo sayang, kamu baru pulang kerja?" Tanya ibu Nevan yang duduk disofa dan Ayahnya sedang menelepon.


"Iya ma" jawab Nevan singkat.


"Belakangan ini kamu bekerja lembur, jaga kesehatanmu ya" Ibu Nevan mengingatkan.


"Iya ma"


"Malam ini kamu menginap disini?"


"Iya"


"Baguslah, besok Tamara akan datang untuk makan siang. Jadi kita bisa makan siang bersama" ujar Ibunya yang terlihat riang.


"Ma, kenapa belakangan ini mama sering bertemu Tamara?" Nevan mulai jenuh mendengar ibunya membicarakan Tamara.


"Ah masa sih sayang, gak ada apa-apa. Hanya silahturahmi saja kan gak masalah" sahut Ibu Nevan.


"Aku sudah tunangan dengan Jovita, mama ingat?


Aku sudah toleransi untuk mengerjakan proyek miliknya. Jangan mama buat lagi untuk sesuatu hal yang mustahil" Nevan mulai mengutarakan isi hatinya.


"Loh bukan itu maksud mama, mama tahu kamu dan Jovita bertunangan.. kan gak masalah jika Tamara ingin bertemu keluarga kita, toh kita juga kenal dia kan.."


"Mama, aku tahu apa yang dilakukan Tamara dan aku paham maksud mama" ujar Nevan masih batas wajar.


"Kenapa kamu tiba-tiba terlalu sensitif seperti itu?" Heran Ibu Nevan.


"Aku akan menikahi Jovita dalam waktu dekat, Nevan tak ingin mama membicarakan Tamara lagi. Apalagi didepannya, tolong hargai pilihan Nevan ma.. dia yang terbaik bagi Nevan" Nevan memberikan hasil USG kepada ibunya.


"Apa ini?"


"Jovita hamil anak Nevan, cucu mama.." ungkap Nevan.


Ibunya terkejut melihat hasil USG yang diberikan Nevan.


"Apa.."


"Kembar tiga, saat ini Jovita sedang sensitif karena kehadiran Tamara belakangan ini. Nevan mohon mama mengerti maksud Nevan.


Besok Nevan akan menemuinya setelah beberapa minggu dia menghindari Nevan, karena mama memihak Tamara" ungkap Nevan.


"Ya Tuhan, ini kabar yang luar biasa. Mama tak menyangka, mama akan segera menjadi nenek dengan tiga cucu" airmata kebahagian menetes begitu saja diwajah Ibunya, tak menyangka ini terjadi.


"Baiklah, Nevan lelah mau istirahat" Nevan mengambil hasil USG yang sedari tadi ditatap oleh Ibunya.


"Maafkan mama sayang, jika mama tak sengaja mengakibatkan masalah dihubungan kalian.. ini semua diluar kendali mama" Ibu Nevan mengakui kekhilafannya.


"Selamat malam ma.." Nevan berjalan menuju kamarnya tanpa merespon apa yang dikatakan Ibu Nevan.


Nevan yang baru saja merebahkan tubuh dikasur, masih memandangi anaknya yang dikandung Jovita.


"Kalian seperti hadiah yang tak diduga.." sambil tersenyum.


Bersambung..... ✨✨✨