It Beats For You

It Beats For You
Only you can melt my heart



Morning. 6.02 pagi


Pagi ini udara segar rasanya berbeda seperti kemarin. Apa aku sudah benar-benar lupa bagaimana perasaan orang yang lagi kasmaran. Dada inipun selalu berdebar, karena ingat orang yang aku mulai cintai lagi, sayangi.


Kubuka jendela balkon apartemenku, masih sangat pagi untukku bangun dihari weekend ini. Memang tak seperti biasanya, lelah yang kurasakan dan hanya ingin merebahkan diri dikasur selama mungkin. Hingga baru terbangun disaat laparpun tiba.


Kupandang semua pemandangan, pikiranku juga berubah. Rasanya sangat kunikmati sudut demi sudut. Menjadi lebih Positif thingking.


Sekarang Alvaro sedang apa yah, apa dia sudah bangun. Apa dia langsung menggingatku setelah membuka matanya, biasanya gimana sih ya. Duh ku malu memikirkan bagaimana kita menjalin hubungan dulu.


Apa lagi yang kurisaukan, dia sudah menjadi milikku dan dia ingin menikahiku. Rasanya seperti mimpi, sudah 4 tahun lebih jomblo. Tiba-tiba pacaran dan lalu merencanakan untuk menikah, apa ya nanti kata orang kantor. Aahh apa yang aku pikirkan, bisa-bisanya mikirin kata orang, toh aku juga gak ingin hal ini orang tahu.


Jam 6.30 aku bingung apa yang akan aku lakukan. Mungkin bergegas untuk mandi, dan membeli persiapan apa saja saat selama berlibur.


...


Selesai mandi dan berpakaian aku mengambil tas ku dan melihat tempat kontak lens didalamnya. Lalu aku teringat nasihat Alvaro untuk menghindari memakainya.


Baiklah, mulai sekarang aku pakai kacamata. Tapi, kacamataku sudah tidak menarik lagi. Ketinggalan jaman, ya setidaknya aku pakai hingga ke mall nanti gak masalah.


Tok tok..


Terdengar suara ketukan pintu apartemenku.


Astaga siapa sepagi ini yang berkunjung, apa karyawan apartemen? Memangnya sudah mulai pengecekan unit ya. untung aja udah berpakaian.


Aku membuka pintu, sambil melirik siapa yang datang.


"Halo" sapa Alvaro.


"Yaampun kamu lagi apa sepagi ini" ucapku terkejut dan mempersilahkannya masuk.


"Ya aku.. " ujarnya.


"Iya kulihat orang bisa masuk dan keluar tanpa menggunakan access card, jadinya aku masuk aja langsung kesini, dan aku tau pasti kamu langsung inget aku kan, buktinya aku langsung datang"


"Oh gitu iya kadang suka ada maintenance, memangnya kalau ingat kamu dan kamu bisa langsung datang?"


"Karena kita sekarang sudah sehati, oh iya ini aku beli sarapan. Aku ingin kamu sarapannya sama aku. Karena aku hari ini agak padat, aku harus mejadwalkan ulang semua kegiatan ku selama seminggu, biar saat cuti bisa beres"


"Tuh kan aku bilang, aku gak apa-apa pergi sendirian"


"Sst sudah, aku memang ingin bersamamu selama disana, jadi jangan bahas hal ini lagi oke. Aku cuma ingin hal yang baik-baik aja untuk permulaan hubungan kita. Gak lebih dari itu" jelas Alvaro.


"Oke, heemm nasi uduk. Harumnya enak, beli dimana" tanyaku dan merubah topik pembicaraan.


"Ada tadi disimpang sana rame banget, jadi ku beli aja. Biasanya yang rame itu enak. Semoga aja ya, mari kita coba"


Kami mulai sarapan bersama, lapar perut serasa hilang saat melihatnya datang. Hati ini seperti melompat-lompat kegirangan. Aku suka kamu datang hari ini. Hatiku nyaman bersamamu.


"I love you" ujarku.


"I love you too" sambil mencium pipiku dengan lembut. "Makan, jangan ngeliatin aku mulu" candanya.


"Iya ini aku lagi makan"


"Gimana enak gak?"


"Enak aku suka, makasih ya sayang"


"Aahh kamu tuh bikin gemesin aja deh, jadi geer nih" ujarnya sambil menyipitkan matanya.


Aku tersenyum melihatnya, aku tak bisa menutupi apapun lagi. Aku benar-benar memilikinya. Tak ingin kulepas, aku menginginkannya dan kuharap diapun begitu.