
Aku yang hanya memakai piyama bentuk kimono, dan dengan mudahnya Nevan membuka tali yang terikat diperutku. Tanpa kancing apapun, tubuhku sudah terlihat hanya memakai underwear yang kupakai dan dipesan dari butik tadi pagi.
"Sayang, aku sungguh merasa takut untuk melakukannya" gugup ini sudah merajaiku mengetahui ini akan berlanjut kearah yang ku ketahui.
"Tenang aja, aku perlahan. Kamu tidak perlu takut" Nevan mencoba menenangkanku dengan sentuhan lembutnya.
Aahh aku tak kuasa menahan nafsu ini, ternyata Nevan pandai membangkitkan gairahku. Hingga aku yang mencoba membuka celana Nevan dengan tanganku dan kini Nevan hanya mengenakan underwear.
Setiap kecupan dan suara desahan ini membuat kita makin menggila, memberikan kenikmatan satu sama lain.
"Aah.. sayang.. i love you" ujarku.
"I love you sayang, aahh.."
Nevan terus saja membuatku mendesah, dan bergelora jiwa ini merasakan kenikmatan sentuhan dan ciuman nafsu kami.
Telepon berbunyi.
"Handphone kamu sayang" ujarku terkejut.
"Hemm.. mengapa saat seperti ini, mengganggu saja. Sebentar ya sayang" Nevan mengangkat telepon disampingku dan berbicara seadanya dengan sedikit bad mood.
"Hemm.. aku ada rapat direksi dadakan sayang.. aku harus bergegas kekantor pagi ini, ayahku hanya bisa pagi dikantor, siang dia akan ke Singapore dan Thailand" ujar Nevan menjelaskan yang masih duduk disampingku.
"Baiklah, memang harusnya seperti ini" ujarku, yang sebenarnya sedikit merajuk sambil menggigit perlahan bibirku yang basah karena ciuman Nevan.
"Maaf ya sayang, ini memang tidak ada di jadwal, tapi hal ini memang sering terjadi" ungkap Nevan terburu-buru beranjak dari kasur.
"Iya gak masalah, pagi ini aku bisa kekantor sendiri" ucapku.
"Gak, kamu tetap dengan bang Harris, aku dengan driver lain. Aku gak mau kamu kenapa-napa, karena kamu sudah milik aku" ujar Nevan begitu lugas.
"Oke.." kataku.
"Yasudah, aku bersiap berangkat dulu yah.. cium lagi sebentar" ujar Nevan sambil beberapa kali menciumku dengan kasih sayangnya.
Astaga hati ini meledak-ledak, setiap Nevan mencumbuku hari ini.
Nevan bergegas mandi dan berpakaian, akupun begitu. Mandi setelah Nevan selesai mandi, lalu baru aku berpakaian. Kulihat bajuku begitu banyak dilemari, melebihi baju diapartemenku.
"Sayang.. maaf banget, aku harus pergi. Nanti malam aku jemput ya, aku kabarin lagi oke.." ujar Nevan sambil mencium pipiku dan berlalu pergi.
"Oke.." ujarku saat aku masih berdandan dan menyisir rambutku.
Nevan sudah meninggalkanku diapartemennya untuk berangkat kekantor jam 7 pagi.
Yaampun, baru dua hari tinggal bersama Nevan, tapi aku sudah begitu dimanjakan olehnya, ternyata Nevan orang yang begitu perhatian dan penyanyang, hingga aku tak boleh pergi sendirian. Katanya aku sudah miliknya, uuhhh gemes banget gak sih denger itu dari kekasih sendiri, aku sekarang sangat menyayanginya.
Aku yang sudah berpakaian rapi dengan blazer cream dan rok pendek span warna senada.
"Kebetulan Nevan sudah menyediakan semua yang kubutuhkan, karena make up aku ada di tas, terus tasnya ketinggalan dimobil Hifza.
Untunglah sekarang bisa pakai make up, kalau gak pucet banget muka ku..
hmm ada parfum, banyak ya varian nya wangi-wangi lagi, Nevan luar biasa" gumamku.
Entahlah mengapa aku tadi begitu pasrah dan cenderung menginginkan hal itu terjadi, apakah aku tidak takut jika hal buruk terjadi, apakah aku terlalu yakin Nevan akan menjadi milikku selamanya, apakah aku tidak takut jika nanti Alvaro akan merusak hubungan kami dan jika Nevan mengetahuinya apa aku yakin Nevan akan selalu ada disisiku.
aahh untunglah tidak sampai terjadi, memang yang namanya nafsu itu membutakan segalanya, walaupun aku berusaha untuk menghindarinya, baiklah stop.. lamunan ini akan menjadikanku telat datang ke kantor.
Setelah berpakaian, berdandan, lalu memakai parfum. Aku siap turun ke lobby apartemen dan menghampiri driver yang sudah menungguku dimobil Nevan.