
Risma mulai gusar mengenai Alvaro, hanya karena mantan mbak Jovita membuat pikiran Risma bertanya-tanya. Mengingat kembali awal mula Risma mengenal Alvaro.
"Apakah karena mbak Jovita meneleponku dan bisa saja Alvaro mendengar pembicaraan kami.
Membuat Alvaro memberanikan diri mengajakku bertemu..." Risma melamun sambil menatap laptop.
"Tapi aku telah terjerat oleh pesona Alvaro, apa mungkin Alvaro masih menyimpan rasa pada mbak Jovita yang sudah memiliki kekasih saat ini.." gumam Risma.
Jam 4 sore dan pesan singkat dari Alvaro berbunyi.
"Maaf baru menghubungi kamu, aku ada operasi dari pagi dan sekarang baru selesai jam praktek.. bagaimana kabar kamu hari ini, bisakah kita bertemu lagi.
Mungkin kita bisa makan malam bersama.." WA dari Alvaro.
Seketika pemikiran sebelumnya hilang, membuat hati Risma kembali berseri membaca pesan dari Alvaro yang mengajaknya makan malam, tentu Risma menyetujui. Apapun alasannya, karena Risma sangat menantikan pertemuan selanjutnya dengan Alvaro.
Senyum merekah mulai terpancar dari wajahnya yang sempat layu sejenak.
"Boleh.." Risma membalas singkat WA Alvaro.
"Baiklah, aku akan menjemputmu sepulang kerja nanti. See you.." balas Alvaro.
Seketika hati Risma langsung bergetar mengetahui Alvaro akan menjemputnya hari ini.
Alvaro membereskan meja dan bersiap untuk menjemput Risma.
"Risma.. kamu satu-satunya cara untuk membuatku bertemu dengan Jovita..
Entahlah mengapa aku masih bingung dengan diriku sendiri, haruskah aku tetap meneruskan semua ini ataukah menyerah begitu saja..." pikiran ini menghantui Alvaro sepanjang hari.
š¼
Aku mulai merapikan berkas dan mejaku, jam pulang kantor tinggal 5 menit lagi dan aku akan berdiri didepan absensi untuk menjadi yang pertama, aku tak ingin Nevan terlalu lama menungguku di Surabaya.
Jam 5 tepat aku sudah absen pulang dan menuju lift untuk turun ke lobby, lalu menuju mobil Nevan, kerena driver nya telah menantiku.
Masih sepi dan hanya aku yang berjalan pulang, setelah aku men-tap id card karyawan di perbatasan lift.
Aku kurang fokus berjalan karena aku sedang melihat handphone untuk mengabari Nevan.
Tiba-tiba seseorang menyenggol tubuhku dengan menumpahkan minuman lalu membasahi kemeja biru yang kupakai.
Seketika aku begitu marah oleh perbuatan orang ini.
"Astaga..." Aku terkejut melihat baju kemejaku terkena noda kopi.
Aku melihat kearah orang yang dengan ceroboh berbuat seperti ini.
Terkejut lagi setelah aku melihat Alvaro didepanku.
"Alvaro..." Ujarku dengan tidak menyangka.
"Maaf aku benar-benar tidak sengaja.." bersikap seolah-olah benar adanya, dan mencoba membantu membersihkan bajuku yang sudah basah oleh tumpahan minuman darinya.
"Tidak perlu, apa yang kamu lakukan disini..? Kamu tidak pernah lelah untuk mengangguku ya.." nada suaraku agak pelan karena tidak ingin menjadi pusat perhatian sambil menatap sinis kearah Alvaro.
Dengan tidak terduga, Risma baru saja keluar dari lift dan langkahnya terhenti saat melihat Alvaro dan Jovita didepannya.
"Maaf.. Sungguh aku tidak sengaja.." permintaan maaf dari Alvaro.
"Kamu itu.." aku tidak bisa berbuat banyak, karena sekelilingku telah dipenuhi karyawan yang pulang kerja.
Aku pergi begitu saja menuju toilet untuk membersihkan baju yang sudah lepek dan menempel ditubuhku.
Wajahku kini tentu tidak karuan, mood ku pun sudah berubah menjadi amarah.
Apalagi mengetahui Alvaro masih tak berhenti mengangguku.
Toilet berada sedikit diujung gedung dan menaiki tangga. Memang toilet ini agak sepi, karena hanya sedikit yang menggunakan toilet di lantai dasar.
Alvaro mengikutiku tanpa kuketahui.
Risma hanya menonton apa yang baru saja terjadi yaitu Alvaro yang mengikuti Jovita.
Padahal dia memiliki janji dengan Risma, seketika hati Risma berubah menjadi jelous dan sedikit kecewa.
"Jovita maafkan aku.." Alvaro berhenti dibelakangku.
"Alvaro kamu ngapain ada disini, ini toilet wanita..
PERGI DARI SINI..!! dan pergi dari hidupku mulai sekarang..." aku terbawa emosi karena sikapnya.
"Sungguh aku minta maaf atas segala yang kulakukan terlebih yang kemarin..
bukan maksudku untuk menyakitimu.." Alvaro berdiri dibelakangku.
"Cukup Alvaro, jika kamu ingin kumaafkan, lebih baik jangan temui aku lagi" aku masih sibuk mengambil beberapa tisu untuk sedikit menyerap air yang menempel dibajuku. Terasa dingin membuat tubuhku tidak nyaman.
"Aku ingin Jovita, aku benar-benar ingin melupakanmu..
Hanya saja aku tak ingin kamu membenciku"
Entahlah banyak rasa tak karuan dalam diriku.
"Apa yang kamu lakukan kemarin sudah membuatku mulai membencimu..
Sudahlah Alvaro, aku tidak punya waktu untuk ini" aku mengambil tas dan paperbag.
Baru saja membalikkan badanku untuk segera keluar dari toilet. Alvaro menahanku dan memojokkanku kedinding.
"Aku tidak sejahat yang kamu pikirkan Jovita, apakah kamu tidak berpikir bahwa kamu yang sudah membuat semua seperti ini.." Alvaro mengatakannya tepat dihadapanku.
"Aku mengakuinya, tapi semua ini sudah ku akhiri dan tak akan kuulangi lagi kesalahan yang telah kuperbuat.."
"Pasti kamu terlupa akibat dari semua ini kan..
Kalau bagimu dengan memberikan semua pada dia, membuat ikatan kalian terasa kuat.
Aku akan menyerah.. walaupun sebenarnya aku bisa saja masih berjuang..
Jika nanti ku dengar Nevan menyakitimu dan kalian berpisah..
Aku yang akan mengambilmu dengan begitu cepat.." bisik Alvaro di telingaku.
Situasi ini membuat jantungku berubah menjadi berdebar. Deru nafas Alvaro terdengar begitu tenang, apakah yang dia katakan itu benar adanya..?
Beberapa detik aku membeku dihadapan Alvaro. Wajah kami terasa begitu dekat diposisi seperti ini, membuatku berpikir mimpi semalam tentang Alvaro.
Astaga apa yang kulakukan hanya terdiam kaku dihadapan Alvaro, aku harus lupakan semua mengenai dirinya.
"Lepaskan.. aku tak mau lagi memberi ruang untukmu berada didekatku.." aku menghempas Alvaro hingga dia terdorong beberapa langkah.
"Baik.. baik, aku lepaskan kamu..
Melepaskan kamu bukan berarti kalah.." Alvaro menatapku dengan mata yang sendu.
"Karena ulahmu, aku menjadi telat untuk bertemu Nevan malam ini.." aku menyalahkan Alvaro.
"Oke Nevan.. Nevan dan Nevan, kalau begitu pergilah.. pergilah kasih kejarlah keinginan mu, selagi masih ada waktu.."
Aku terdiam sambil mengedipkan mata, apa maksud ucapan Alvaro yang bermakna aneh untukku, lalu segera pergi dari toilet, meninggalkan keanehan yang baru saja terjadi.
Aku menuju mobil Nevan yang sudah sedari tadi menungguku, aku telat setengah jam karena bertemu Alvaro dengan omong kosongnya.
Risma menunggu Alvaro dikantin, dilihatnya Jovita pergi setelah tanpa Alvaro.
"Sebenarnya ada apa dengan mereka, baru saja kudengar Alvaro mantan mbak Jovita.. sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Alvaro mengejar mbak Jovita..
hatiku terasa perih dengan kenyataan ini" batin Risma terusik.
Alvaro keluar dari toilet wanita yang kosong.
"Jovita.. aku membiarkanku pergi, tapi tak untuk melupakanmu.."
Alvaro menghubungi Risma.
Bersambung.....āØāØāØ