
Kami sampai di Mall tempat mobilku tinggalkan sebentar.
"Makasih ya, hari ini kamu memberiku begitu banyak"
"Sama-sama"
"By the way nanti kukabari lagi untuk besok ya"
"Oke kutunggu, kalau kamu bisa datang aku sangat senang. Nanti biar aku jemput saja"
"Baiklah"
Nevan membukakan pintu mobilku.
"Hati-hati dijalan, kabari jika sudah sampai ya. Aku memastikan kamu baik-baik saja"
"Oke, bye" aku menyalakan mobilku.
"Bye"
Aku menjalankan mobilku perlahan keluar parkiran mall. Sambil mengingat hangatnya hari ini bersama Nevan.
Saat pemberhentian lampu merah, aku menyadari handphoneku bergetar. Memang sebelumnya sudah ku ganti mode senyap agar tak mengganggu kegiatanku hari ini.
"Alvaro" aku mengangkatnya. "Iya" jawabku.
"Hay.. aku menghubungimu sedari tadi. Kamu kemana saja?"
"Oh maaf tadi aku baru saja shopping"
"Shopping, astaga kamu membuat aku khawatir. Sudah berapa kali aku mencoba menghubungimu tanpa ada respon. Sekarang kamu dimana?"
"Iya maaf, aku keasyikan shopping jadi tidak menyadari handphone ku bergetar"
"Kamu tidak membunyikannya?"
"Aku memang tidak membunyikannya, maklum aku mau shopping. Nanti banyak rekan kerja meneleponku dan aku tidak bisa leluasa"
"Baiklah, sekarang kamu dimana?"
"Otw ke apartemen"
"Oke aku sudah selesai 1 jam lalu, aku mau kesana"
"Baiklah" sahutku.
"Hati-hati dijalan"
"Oke"
Lampu baru saja berganti menjadi hijau dan aku bergegas menjalankan mobilku. Kuingin sampai di apartemen dengan segera.
"Tuh kan, aku yang memulai semuanya. Aku yang akan membuat ini rumit.
Tapi aku tak bisa memilih satu diantara mereka. Bagiku mereka sangat aku inginkan, memilihpun aku tak mampu.
Bagaimana dalam waktu dekat ini aku menilai mereka, siapa yang sesuai denganku. Bagaimana mereka memperlakukanku dan mencoba membahagiakanku. Uuhhh rasanya kok manis banget ya. Dicintai oleh 2 pria menawan. Hatiku tak kuasa bersorak girang.
Aku sampai diapartemen, segera memarkirkan mobilku dan memberitahu Nevan aku sudah sampai di apartemen sesuai janjiku untuk mengabarinya.
Tapi aku hanya bisa mengabari lewat WA. Tak lama Nevan membalas lalu mengirimkan foto selfie kita tadi. Ooww cute. Gemesin banget sih.
"Makasih fotonya"
Nevan membalas dengan emoji love.
Nyesss nyess hatiku.
Segera ku pindahkan foto di folder tersembunyi dan WA nya ku arsipkan. Jaga-jaga jika Alvaro memeriksa handphone ku dan menjadi masalah.
Aku turun dari mobil dengan membawa barang belanjaanku.
Alvaro sepertinya belum sampai, aku menuju keatas di Lantai 3. Membuka pintu lalu bersender di sofa dan melepaskan kantong belanjaanku dilantai.
"Hem manis banget ya Nevan, memang dari zaman dia masih jadi Bos ku perilakunya sangat baik. Cara bicaranyapun lembut, bisa menjadi bijak disaat tertentu. Bisa menjadi teman disaat santai.
Kami sering makan bersama dikantin, tapi dengan staff lainnya. Kok rasa mimpi yah. Lama tidak jumpa, sekalinya jumpa malah..."
Handphone ku berbunyi.
"Aku sudah sampai" ujar Alvaro.
"Oh iya. Aku turun"
Apartemenku menggunakan id card untuk penghuni keluar dan masuk. Jadi jika ada tamu, penghuni harus menjemputnya di lobby.
Aku menjemput Alvaro di lobby.
"Hay" sapaku.
"Kamu sudah sampai dari tadi?"
"Baru.. baru aja"
kami menghampiri lift dan sesampainya di unitku. Kami duduk disofa.
"Iya sudah tadi di mall" jawabku.
"Makan apa?"
"Nasi goreng" jawabku sambil cengigisan.
"Masih favorit ya nasi goreng, banyak belanjaan kamu. Buat apa sayang?"
"Buat disana, aku butuh ini sayang" manjaku.
"Iya, iya perempuan memang kalau sudah hobi ya"
"Ih aku jarang juga shopping sebanyak ini loh, karena mau pergi ke Inggris aja"
"Haha iya"
"Aku sediain minum ya" aku berdiri menuju dapur.
"Kamu kesana dari antar aku kerumah sakit tadi?"
"Iya"
"Gak kepagian?"
"Iya sih, jadi aku minum-minuman coklat dulu sambil nunggu tokonya pada buka"
"Oh"
Aku memberikan teh dan Alvaro meminumnya.
"Beli apa aja semua?" Tanya Alvaro.
"Baju, celana, aksesoris, tas, topi.. apalagi tadi ya. Lumayan banyak tadi. Oh iya sama kacamata"
"Kamu beli kacamata, yang tadi kenapa?"
"Udah ketinggalan zaman sayang, masa kesana pakai kacamatanya nanggung gitu"
"Masih bagus kok kulihat tadi"
"Masa sih, gak ah bagiku"
"Yaudah, kamu beli berapa"
"Hemm tadi lucu-lucu jadi aku bingung, aku beli 3"
"3 sayang, itu gak berlebihan?"
"Iyasih, tapi aku suka" alasanku.
"Hem puas ya shopping, pantesan gak bisa dihubungi"
Aku mesem-mesem sambil menyender dibahunya dengan manja.
"Kerjaan kamu sudah selesai?" tanyaku.
"Iya, aku cuma melihat jadwal dan merubah beberapa operasi dan konsultasi. Kayaknya seminggu kedepan jam praktek kutambah, gak apa ya?"
"Gak apa, aku tidak keberatan"
"Iya sejauh ini sudah beres. Jadi saat cuti nanti gak ada yang dihiraukan"
"Syukurlah, lagian kamu kenapa sih ikut-ikutan"
"Ya karena kamu dong, kalau kamu gak kesana ya aku juga gak kesana"
"Aku sendiri juga gak masalah, aku sudah rencanakan ini berbulan-bulan. Ngilangin penat aja"
"Tuh kan, kamu gak suka gitu aku ikut?" Selidik Alvaro sambil menatapku.
"Haha suka kok, suka banget"
Tiba-tiba Alvaro menyerangku dengan ciumannya.
Dia menciumku dengan hangat begitupun aku membalasnya.
Tangannya menyentuh pipiku, membuatku tak berkutik untuk menghindar.
"I love you" ujarnya setelah menciumku.
"I love you too" sahutku. "Sekarang kamu jadi cium aku tiba-tiba gitu ya"
"Gemes, kangen"
"Baru pagi ketemu, sudah kangen"
"Namanya juga udah sayang, sebentar-bentar kangen"
Aku geleng-geleng mendengarnya.
"Ih kenapa sih gak boleh" ujar Alvaro sedikit manja.
Aku hanya tertawa kecil melihatnya.