
Hari ini adalah hari pernikahanku, hari dimana semua perasaan dan masalah yang pernah kualami sedang berdamai, hanya bahagia yang meliputi hati dan pikiranku, dan kin Nevan akan mempersuntingku menjadi istrinya.
Dia dan aku akan bersatu selamanya, dimana hanya ada kita dan anak-anak kita dilembaran baru ini.
Tak bisa kulukiskan bagaimana aku menantikan hari ini dan akhirnya aku berdiri dengan mengenakan gaun putih yang cantik, semua wanita pasti akan terharu berada dititik ini.
Aku belum berjumpa dengan Nevan dalam dua hari, kerinduan ku pun memuncak, karena Ingin sekali memeluk dan menciumnya seperti yang selalu kita lakukan.
"Sabar Jovita, dalam satu jam aku akan bertemu dengan Nevan" gumamku yang sedang dalam penyelesaian menyempurnakan penampilanku.
Akhirnya semua selesai, kini untukku berfoto sebelum pernikahan dimulai.
Tak lama ada 6 wanita yang datang keruangan tempat ku menunggu acara dimulai.
"Halo Jovita"
"Jovita Hay.."
"Hello apa kabar"
"Hay Jovita kamu cantik sekali.."
"Itu benar, selamat yah Jovita.."
"Hay Jovita"
Mereka bergantian menyapaku dan aku terheran-heran siapakah orang ini. Mereka berpakaian dengan warna yang senada yaitu warna putih.
"Hay Jovita, Kenalin aku Nadine, dia Friska, Sherly, Quuinsha, Ivona, dan Helen..
Kamu pasti bingung, kami disini untuk menjadi Bridesmaid kamu.." ucap Nadine yang mengenalkan semua orang wanita yang tidak kukenal ini.
"Hallo semua" sapaku sedikit terheran-heran.
"Apa kalian kesini karena undangan Nevan?" Sambil mengernyitkan keningku yang penasaran.
"Tidak hanya aku dan aku berinisiatif mengundang mereka karena kita saling kenal, ini karena kita semua mantannya Nevan, jadi perlu untuk kita menjadi bridesmaid kamu, tenang saja kita mantan Nevan yang baik" ucap Sherly menjelaskan sambil tertawa dengan elegan.
"Betul, karena Nevan itu sosok pria idaman kan" sambung Ivona.
"Iya, kalian pernah gak sih dibawa naik kapal pesiar mewah saat jalan-jalan ke Singapore, padahal saat itu aku baru seminggu jadian sama dia.." Quuinsha menimpal.
"Oooh..." Sahutan manja dari yang lainnya.
Aku terkejut mendengar penyataan itu ditambah lagi sahutan berbarengan dari mereka.
"Kalian juga pernah gak sih, setiap minggu Nevan selalu ngajak ke Bangkok, Thailand, Vietnam kemanapun yang aku mau.." sahut Friska.
"Oooh..." Sahutan manja dari yang lainnya.
Oke kali ini aku tidak terkejut lagi dan mencoba mendengarkan saja.
"Kalian juga selalu dihadiahin perhiasan mahal setiap bulan ditanggal Anniversary, itu romantis banget kan.." ujar Helen dengan wajahnya yang lugu sambil mengingat masa itu.
"Oooh..." Sahutan manja dari yang lainnya.
Baiklah ini semakin menarik dan aku akan bersabar mendengar kelanjutannya.
"Yaampun belum lama dari jadian, aku bilang aku tuh mimpiin banget mau ke Paris, ya langsung diwujudkan dong sama Nevan" ujar Nadine dengan gaya centilnya.
"Woaahh..." Sahutan manja dari yang lainnya.
Oke tidak masalah itu hanyalah masa lalu, aku hanya cukup berbesar hati untuk mendengarkan.
"Aku juga, aku juga.. gara-gara aku bilang gak suka nonton bioskop karena terlalu ramai, jadinya apa..?
Di booking dong hanya untuk aku dan Nevan.." ucap Sherly dengan bangganya.
"Woaahh..." lagi-lagi mereka bersahutan manja dari yang lainnya.
Hm.. Nevan sungguh royal terhadap mantan-mantannya.
"Terus aku dong, dia rela bawain penyanyi Bunga Citra Lestari karena aku ulang tahun, aku kan fans beratnya Bunga Citra Lestari.. menggemaskan gak sih Nevan.." ungkap Ivona yang sedang membayangkan masa lalu.
"Woaahh..." lagi-lagi mereka bersahutan manja dari yang lainnya.
Wow.. banget pikirku.
"Ladies.. hello..
Semua itu cerita yang menarik, terimakasih atas berbagi pengalaman kalian, aku sungguh mengapresiasinya.." aku yang dengan sabar mendengar semua apa yang tadi mereka katakan tanpa bergeming, kini meminta mereka untuk menyudahi kenangan masa lalu bersama Nevan.
Aku menghela nafas, untuk mengatakan hal yang seharusnya kukatakan untuk menyudahi pembicaraan mereka selanjutnya.
"Aku senang jika kalian masih mengingat kenangan baik bersama calon suamiku yang sebentar lagi akan menjadi suamiku satu-satunya..
Jika kalian datang kesini berniat baik untuk menjadi bagian dari bridesmaid aku.. bagaimana kalau kita mulai dari tugas bridesmaid sesungguhnya" pintaku pada mereka.
"Ah iya, itu benar.. maaf ya Jovita. Kadang ada banyak hal yang membuat kita gagal move on dari Nevan" ujar Nadine yang mengerti maksudku.
"Baiklah, karena kita sudah disini"
"Dan kita sudah memakai pakaian cantik yang senada.."
"Membuat foto-foto kita nanti terlihat keren"
"Benar padahal semua ini tidak direncanakan"
"Oke deh, mari bersiap posisi ladies.."
Ucap mereka bersahutan seperti sebelum-sebelumnya.
Aku duduk di tengah-tengah mereka, dan sang fotografer bersiap sambil mengatur pose kami lalu memotret dengan sangat piawai.
Berbagai pose dan angle sudah kami lakukan, hingga saat waktunya aku diminta untuk menghadiri acara pernikahanku.
Para bridesmaid itu mengiringku begitu baik dan tak lupa ayah juga ibuku yang membawaku untuk menghampiri Nevan.
Tibalah saat aku berdiri sambil menatap Nevan yang berada jauh didepanku. Aku hanya bisa menahan air mata ini, karena aku tak ingin air mata membuat make up ku menjadi kurang maksimal dan aku hanya bisa berkaca-kaca seraya menahan air mata jatuh kepipiku.
Melihat Nevan diseberang sana, dengan gagah dan tampannya menatap haru kearahku.
Suara musik lembut dan romantis yang mengawali keberadaanku ini membuat suasana syahdu.
Aku menatap ayahku dan kami mulai berjalan beriringan menuju meja akad nikah.
Dan pada bridesmaid mengiringi kami dibelakangku.
Kulihat mata Nevan berkedip dua kali, mungkin dia juga terkejut bagaimana bisa semua mantannya kini berada dipernikahan kami.
Aku tidak mempermasalahkannya, malah jika aku bisa tertawa, aku akan tertawa, ternyata momen sakral ini dihiasi dengan hal yang tak terduga.
Hingga Ayah menyerahkanku ke tangan Nevan, bahagia dan terharu tentu kurasakan di momen seperti ini.
Kulihat senyum Nevan yang menerimaku dan begitupun dengan diriku.
Kami duduk berdampingan didepan penghulu dan kulihat Nevan begitu tampan dan gagah.
Para tamu dan undangan yang lebih banyak diantaranya adalah keluarga kami yang telah hadir menyaksikan prosesi pernikahan kami pagi ini.
Mata ku ingin sekali menatap Nevan yang berada disampingku, melihat bagaimana dia saat mengatakan ijab kabul, tapi.. sepertinya aku harus menahan keinginanku dahulu.
Semua acara proses akad nikah telah dimulai, hingga waktunya Nevan bersalaman dengan ayahku dan mengikat janji pernikahan denganku.
"Wahai ananda Nevan Harun bin Ranendra Harun, saya nikahkan dan kawinkan Jovita Freya Arabelle, putri saya, binti Farzan Malik kepadamu dengan mas kawinnya seperangkat alat shalat dan logam mulia 20 gram dibayar tunai" ucap Ayah Jovita dengan lugas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Jovita Freya Arabelle binti Farzan Malik dengan mas kawinnya yang tersebut dibayar tunai" balas Nevan dengan sangat lancar.
Seisi ruangan bergemuruh sambil berkata.
"Alhamdulillah sah"
Kulihat kearah wajah ayahku yang matanya berkaca-kaca karena telah menikahkan anaknya dengan pria pilihanku.
Semoga pernikahan kami akan selamanya hingga maut memisahkan.. amin.
Akupun mengucap syukur pada Tuhan YME, karena resmi sudah aku menjadi istri Nevan Harun.
Selanjutnya pembacaan doa dan nasihat pernikahan, hingga acara selesai dengan sangat khidmat.
Aku mencium tangan suamiku pertama kali. Tak terbendung lagi air mata bahagia yang kurasakan kini, karena telah dipersunting oleh kekasih dan mantan atasanku dulu.
Kami berdua mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama seperti layaknya pernikahan pada umumnya.
Lalu diteruskan berfoto dengan buku akad nikah lalu dengan foto mahar yang Nevan berikan yaitu logam mulia dalam bentuk bingkai yang cantik, aku tak tahu Nevan sudah mempersiapkan ini dengan sangat baik, lagi-lagi aku bersyukur memilikinya.
Lalu dilanjutkan dengan prosesi sungkeman oleh kedua orangtua kami. Disinilah aku menyampaikan sedikit kata-kata untuk orangtuaku dan orang tua Nevan yang telah membesarkan kami dengan sangat baik.
"Ayah, ibu, kami mohon restu untuk pernikahan kami. Doakan kami agar mampu mengikat cinta kami dengan kuat, sebab kami tahu ini tak akan mudah.
Tapi kami percaya, dengan restu tulus dari ayah dan ibu, pernikahan ini akan bahagia. Seperti pernikahan ayah ibu yang hingga kini makin rekat jalinannya, tak lekang oleh hujan dan tak rapuh oleh panas.
Ayah ibu, kami mencintai engkau dengan tulus. Kami menyayangi engkau, sangat-sangat sayang.
Jadi apapun kami setelah ini, kami tetap butuh tegur dan nasehat bilamana salah masih kami perbuat. Bimbing kami menjalani kehidupan baru ini.
Semoga ayah dan ibu selalu dalam keadaan sehat, dan selalu bahagia. Percayalah, langit runtuh pun tak mampu, membunuh cinta kami untuk ayah dan ibu. Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih" ucapku pada mereka yang ku hormati dan hargai dengan sedikit terbata-bata karena terharu.
Nevan mengenggam tanganku sambil tersenyum, lalu kami sungkeman satu persatu pada orangtua sambil meminta ridho dan restu pada keempat orangtua kami.
Tangis harupun tak dapat terhindarkan, sebagai bentuk syukur kami pada hari pernikahan ini.
Ayah dan Ibuku memberikan restu dan sedikit nasihat untukku yang sudah memulai hari baru bersama suamiku.
Lalu dilanjutkan dengan Ayah dan Ibu Nevan, sama seperti keluargaku. Mereka memberikan restu dan nasihat kepadaku untuk mengawali hari pernikahan kami.
Setelahnya kami berfoto dengan keluargaku dan keluarga baruku. Senyum Nevan menghiasi wajahnya yang tampan, begitupun dengan diriku.
Hingga saatnya para mantan Nevan menghampiri kami dengan segala kekonyolan mereka.
"Hay.." Sapa Nadine.
"Hallo.." dilanjutkan oleh Helen.
"Selamat yah kalian resmi menjadi suami istri" Ivona melambaikan tangan kearah kami.
"Iya, langeng terus ya, menjadi sakinah, mawadah dan warohmah" Quuinsha melanjutkan.
"Amin..." sahut Friska.
"Maaf ya, kami harus datang.. menurut kami, kamu tuh mantan terindah" ucap Sherly dengan candaan.
"Iya" sahut mereka berbarengan diselinggi tawa.
Nevan menatapku dengan sedikit salah tingkah.
"Apa mereka menganggumu atau mengatakan hal-hal yang membuatku dalam masalah?" Bisik Nevan.
"Tidak kok, mereka baik" jawabku dengan sedikit tertawa.
"Ayo.. ayo kita harus berfoto bersama.." pinta Nadine.
"Smile please.." ujar Ivona dan mulai berpose dengan sedikit formal.
Tubuh Nevan menjadi kaku saat didekati dengan mantannya yang sengaja ingin berdekatan dengan dirinya.
"Oke.. makasih semua atas doa dan kehadirannya.." ujarku dengan ramah.
"Iya, tenang saja kita gak akan mencoba menganggu kalian.." Quuinsha menjelaskan dengan menggoda kami.
"Betul, ya walaupun sedikit sedih, tapi kita ikhlas kok kalian menikah" kata Friska dengan lugu.
"Pokoknya Happy marriage, always happy together" ujar mereka berbarengan lagi, membuat ruangan ini menjadi riuh.
"Baiklah, karena mumpung hari ini kita datang bersama, jadi kita merencanakan vacation bersama yang terdekat saja, ke Singapore" ungkap Nadine dengan gaya memukau.
"Iya betul kapan lagi kan kita ngumpul seperti ini" balas Friska.
Nevan hanya menggeleng-geleng melihat kelakukan mereka yang membuat Nevan tidak enak hati padaku.
Aku memeluk lengan Nevan, untuk membuatnya sedikit relax.
"Its Okay" bisikku padanya.
"Baiklah.. bye Jovita dan Nevan" mereka mengucapkan selamat tinggal.
Satu per satu mereka pergi dengan meninggalkan keluguan mereka yang membuatku lumayan terhibur.
"Maaf ya sayang, jika ada perkataan mereka yang membuatmu tak nyaman" sambil mencium tanganku dengan romantis.
"Iya aku gak masalah sayang, aku sedikit kaget saat mereka datang keruang riasku. Mereka hanya sedikit membocorkan kenangan bersama kamu, tentunya membuat para wanita itu tak bisa melupakanmu" ungkapku.
"Haha.. baiklah, semoga saja sepulang dari sini aku tidak dicecar pertanyaan sama kamu yah"
"Haha.. i love you suamiku"
"I love you too istriku"
Mata kami saling pandang, aku merasakan cinta dalam diri Nevan padaku. Tentunya sama denganku yang sungguh mencintainya.
Bersambung..... ✨✨✨