It Beats For You

It Beats For You
When everything feels like the movies



Nevan baru saja landing di Heathrow Airport, karena tidak membawa barang di bagasi hanya tas ransel yang berisikan pasport dan lain-lain, Nevan dengan leluasa dapat pergi meninggalkan pesawat. Tak lupa mengecek handphone yang mungkin saja Jovita sudah dapat dihubungi. Tapi pertama yang Nevan lihat adalah WA, kebetulan Nevan melihat status terbaru dari Jovita dan itu sedang berada di Buckingham Palace.


"Buckingham Palace.. lebih baik aku langsung menemuinya tanpa memberitahu aku sudah disini" ujar Nevan saat melihat status Jovita.


.....


Aku dan Alvaro yang masih asyik mengelilingi sekitaran Buckingham Palace, berfoto dan mengobrol betapa indahnya berada disini.


"So.. katakan kamu pernah kesini kapan?" Tanyaku.


"Sekitar dua kali, satu liburan dan satu lagi menemui seseorang" jawab Alvaro.


"Oyah.. siapa, saudara?" tanyaku lagi.


"Tidak, kekasih dong" jawab Alvaro seperti membanggakan diri sendiri.


"Kekasih.. wow okey.." aku langsung minder.


"Ya.. dia orang Indonesia juga, tapi lanjut kuliah disini. Awalnya kita masih LDR-an.. dan sempat aku menemui dia di apartemennya, kita hangout dibeberapa tempat disini. Yah masih baik saat itu hubungan kita, tapi berjalannya waktu kita nyerah, sama-sama sibuk, jarang menghubungi dan gak bisa sering-sering kesini, jadi kita memutuskan untuk berpisah" jelas Alvaro begitu panjang.


"Sedih yah" responku benar-benar tidak bersimpati.


"Haha iya sedih, padahal orangnya baik, anggun dan cantik, lemah lembut.. itu yang aku suka. Tapi menjalin hubungan kan banyak faktor yang harus diperhatikan" ungkap Alvaro.


"Duhh.. sayang banget.." ucapku.


"Ketemu gantinya lagi, aku malah diselingkuhin"


"Hemm terus.." ujarku jutek.


"Hehe kenapa sih, memang kamu merasa?" ledeknya.


"Yah.. gak sih, tapi.." aku menjadi salah tingkah.


"Tapi.. apa" Alvaro lanjut meledekku.


Kami pun tertawa, kami tertawa dengan kesalahan yang telah dilakukan olehku. Menertawai masa lalu, yah.. sedikit meringankan beban yang pernah mengganjal selama ini.


"Eh aku mau beli minuman di vending machine, aku haus.. kamu mau?" Alvaro menawarkan.


"Boleh"


"Mau apa?"


"Fanta yah.." kataku.


"Oke, tunggu disini, jaga diri jangan pergi terlalu jauh.. oke" ujar Alvaro mengingatkan.


"Oke Mr" kataku.


Alvaro pergi sebentar untuk membeli minuman, dan aku masih disini sambil menikmati pemandangan dan udara yang hangat. Sambil berjalan kearah ujung Buckingham Palace, aku ingin tahu disetiap seluk beluk yang dapat kulihat dari sini.


Banyak pasangan dan warga sekitar sini yang memadati diluar pagar Buckingham Palace ini, selain aku.. banyak yang antusias melihatnya. Nama nya begitu harum hingga banyak orang yang berdatangan untuk melihat secara langsung, termasuk aku.


Perjalanan ini memang sudah kurencanakan beberapa tahun belakangan, pada saat aku masih tidak memiliki kekasih. Walaupun saat ini aku juga tidak memiliki kekasih, tapi setidaknya ada Alvaro yang mau menemaniku disini. Aku tidak tahu apa yang kuyakini sekarang, hatiku sedang tidak labil untuk memilih siapa yang sebenarnya aku cintai.


Entahlah jika terlalu rumit, lebih baik aku sendiri dulu dan menikmati indahnya berlibur di negara ini.


tiba-tiba..


"Jovita" panggil seseorang yang ada dibelakangku.


Siapa yang memanggilku, buat apa Alvaro memanggilku seperti itu, tapi dari suaranya berbeda, itu bukan Alvaro.


Tapi tidak mungkin, tidak mungkin ada seseorang yang menyusulku kesini, tidak mungkin.


"Jovita" seseorang itu masih memanggil namaku.


Apa benar yang dipikiranku, kakiku tak bisa bergerak hanya untuk berbalik dan mengetahui siapa yang ada dibelakangku. Aku masih tidak percaya, jika dipikiranku itu benar.