It Beats For You

It Beats For You
I will always love you



Sabtu pagi adalah alasan bagi setiap orang untuk bangun siang dan bermalas-malasan.


Jam 8.30 aku baru bangun dan aku tidak melihat Alvaro diapartemen.


"Mungkin dia sudah pulang" aku menoleh ke meja makan dan sudah tersedia makanan dan minuman.


Kupegang susu yang dibuatkan untukku.


"Masih hangat, apa dia keluar sebentar ya" aku menjadi bertanya-tanya sambil meminum perlahan susu ini.


Tiba-tiba Alvaro datang.


"Kamu sudah bangun?" tubuhnya berkeringat.


"Iya sudah, kamu dari mana?" Tanyaku keheranan melihat Alvaro berkeringat.


"Olahraga pagi, hanya jogging sekitar apartemen disini saja. Ternyata banyak yang jogging ya" dan mengelap tubuhnya dengan handuk kecil.


"Memangnya kenapa, bukannya sudah biasa?" ucapku yang duduk dikursi depan meja makan.


"Iya sih, tapi.. saat jogging tadi beberapa wanita menatap kearahku, sebagian malah meminta nomor teleponku.


Apa aku ada yang aneh?"


"Apa...?! Kamu kecentilan kali godain perempuan.." ucapku dengan sinis dan menggigit roti dengan kasar.


"Buat apa aku seperti itu, setiap aku baru saja berlari, aku harus berhenti karena beberapa wanita mengajakku bicara dan meminta nomor teleponku" sambil membuka sepatu.


"Lalu?"


"Ya aku cuma senyum aja"


"Astaga" kataku sedikit ketus.


"Belum tadi saat ditempat outdoor fitness, ada yang minta foto bareng.


Katanya aku seperti selebritis.." sambil cengar-cengir.


"Yaampun, masa sih orang sini senorak itu" sambil melirik Alvaro yang sedang membuat roti bakar untuk dirinya.


"Akupun terkejut, apa iya aku seperti selebritis. Apa aku beralih profesi saja menjadi selebriti?" Dan menyenggol siku Jovita yang sedari tadi tak percaya dengan apa yang dikatakan Alvaro.


"Sudah, jangan jogging lagi. Kamu pasti akan menggoda wanita lebih banyak dari hari ini"


"Loh aku gak menggoda, serius deh.."


"Ya.. ya.. ya.." aku tak ingin mendengarkan kata-kata darinya.


Alvaro tertawa melihat sikapku.


"Kenapa aku suka melihat dia tertawa seperti itu yah" batinku.


"Hari ini kita akan makan siang diluar yah" sambil memakan roti bakar dengan perlahan.


"Makan siang, ada apa?" heranku.


"Ya gak ada apa-apa, aku ingin saja mengajak kamu makan siang. Kamu ada rekomendasi makan siang dimana?"


"Wah aku suka kalau ditanya seperti ini, dimana ya.. yang sudah lama tidak kesana.


Hem.. ke Anigre di Sheraton Grand Jakarta yuk" ajakku antusias.


"Boleh" Alvaro menyetujui.


"Oke"


"Nanti jam 11 kita jalan yah, aku tahu kalau bumil itu laperan, jadi jam makan siang gak boleh kelewat. Karena macet juga jalan kesananya kan" pinta Alvaro yang sudah menghabiskan roti bakarnya.


"Oke" aku merasa seperti sedang diajak berkencan oleh Alvaro.


Entah mengapa, kali ini kehadirannya memang sangat kubutuhkan. Orang yang pernah kupermainkan cintanya, kini malah menemaniku saat aku membutuhkan seseorang disisiku.


🌼


Nevan sudah menunggu di Anigre seorang diri.


Alvaro dan aku dalam perjalanan dan hampir sampai, selama perjalanan semua seperti biasa kita hanya mengobrol walaupun sedikit konyol, membuatku tertawa dengan humor receh Alvaro.


Kami sampai, baru saja aku melepaskan seatbelt, Alvaro menahanku.


"Jovita, aku mau mengatakan sesuatu sebelum kita masuk"


"Kenapa gak didalam sana?" tanyaku heran.


"Lebih baik disini, hem.. sebenarnya aku mau minta maaf sama kamu, beberapa waktu lalu aku sempat lost control, mungkin membuatmu ketakutan dan tentunya tidak nyaman oleh sikapku.


Aku berpikir, apa yang kulakukan beberapa hari ini untuk menebus kesalahan yang kuperbuat.


Mungkin kamu tahu, aku memang mencintaimu. Aku seperti tak bisa menghilangkan kamu dipikiranku walaupun kamu sudah bersama orang lain. Tapi terakhir aku sadar, kamu bisa lebih bahagia dengannya.." jujur Alvaro sambil menatapku.


"What are you talking about?" aku merasa aneh dengan kata-katanya.


"Walaupun hanya sebentar, waktu bersama kamu sangat kunikmati. Aku bahagia bisa dapat membantumu sebisaku, aku takkan lupakan kenangan kita beberapa hari ini"


"Alvaro, sumpah aku tidak mengerti"


"Dengerin aku dulu Jovita..


Aku ingin kamu bahagia, aku ingin kamu menjalani hidupmu bersama orang yang kamu cintai.


Hem.. ini kok seperti yang pernah kulakukan, tapi yang sekarang tetap harus dilakukan"


Aku makin tak mengerti arti dari semua kata-kata Alvaro padaku.


"Kamu mau meninggalkanku? Aku pernah bilang, aku tidak apa-apa, kamu jangan khawatir" ucapku menyakinkan Alvaro.


"Tolong ingat aku sebagai bagian hidupmu yang menyenangkan, aku ingin kamu menyimpan kenangan dimana kita saling melengkapi dan bukan sebaliknya.


Karena aku juga akan menyimpan kenangan indah selama bersamamu, walaupun kita pernah menjalani masa sulit dan akhirnya membuat kita berpisah.


Kuanggap kamu sebagai kenangan terindah, yang pernah hadir dihidupku" Alvaro menggapai tangan kananku dan menciumnya.


Aku masih tak mengerti, entah bagaimana aku harus mendapat jawaban dari maksud semua perkataan Alvaro.


"Baiklah, kita masuk sekarang" ajak Alvaro dan membukakan pintu untukku.


Aku yang kebingungan hanya diam dan mengikuti Alvaro masuk ke restoran.


Alvaro tak banyak bicara, diam dan matanya lurus kedepan.


Sampai kami tiba didepan restoran dan diantar oleh pelayan restoran, ternyata ada seseorang yang sudah menungguku.


Aku terkejut, ternyata ini yang Alvaro maksud. Dia hanya ingin mengatakan kata perpisahan untukku, agar aku bisa kembali pada Nevan.


Nevan yang berdiri menyambut kedatanganku dengan Alvaro.


Langkahku terhenti, tak menyangka Alvaro membawaku pada Nevan. Aku yang rapuh saat ini, tak bisa menahan gejolak saat melihat Nevan dihadapanku.


"Apa ini tujuan yang kamu katakan tadi?" selidikku meminta penjelasan.


"Memang inilah yang harus kulakukan, kembalilah padanya, dia ayah dari anak-anakmu" ucap Alvaro sambil menggandeng tanganku kehadapan Nevan.


Nevan yang sudah dihadapanku, menggapai tanganku dan langsung memelukku.


"Maafkan aku Jovita, aku terlambat tahu tentang dirimu" ucap Nevan dengan nada suara sedikit parau.


"Aku mencintaimu dan akan selalu begitu"


Seketika aku menangis dan terbawa suasana haru yang sedang kami hadapi.


"Aku juga mencintaimu Nevan" aku tak bisa berkata apa-apa karena aku memang merindukannya.


Alvaro melihat Jovita dan Nevan yang sudah kembali bersama, ikut terenyuh.


"Terimakasih Alvaro, aku tidak akan melupakan hari ini karenamu" ucap Nevan setelah melepaskan pelukannya.


Alvaro hanya tersenyum.


"Baiklah, aku ada pekerjaan. Aku pergi sekarang" ujar Alvaro terburu-buru.


"Alvaro.." aku menahan langkah Alvaro.


"Terimakasih atas semuanya, aku akan ingat semua yang kamu katakan" ujarku yang menatapnya.


"Sama-sama, sampai jumpa" Alvaro melangkah pergi tanpa melihat kami.


Kini hanya aku dan Nevan.


"Apa kamu baik-baik saja selama ini?" Tanya Nevan yang khawatir karena keadaanku.


"Aku baik-baik saja, Alvaro menjagaku dengan baik" mataku masih berkaca-kaca.


Bagaimana bisa Alvaro yang sebelumnya membantuku menghindari Nevan, saat ini Alvaro juga yang membawaku kepada Nevan.


Dia sosok orang yang baik dan memang selalu punya hati baik padaku.


"Aku sungguh merasa bersalah, baru mengetahuinya. Tapi mulai hari ini aku akan menjagamu selamanya" janji Nevan.


"Mama dan Papa juga akan menjagamu Jovita, kamu jangan khawatir" terdengar suara dari belakangku dan suara itu yang kukenal.


"Tante, Om.." aku terkejut mengetahui kedatangan mereka dan langsung menyambut kedatangan orang tua Nevan.


Ibu Nevan langsung memelukku, begitupun denganku.


Kini kami duduk berempat, pertemuan yang tidak disangka-sangka. Membuat hari ini terasa menyenangkan.


Orangtua Nevan yang sebelumnya tidak seperti kupikirkan sebelumnya.


Nevan dan kedua orangtuanya sangat menyukaiku dan mereka sudah mengetahui tentang kehamilanku.


"Mama sangat terkejut, kamu hamil kembar tiga sekaligus. Itu akan membuat hari-hari kami nantinya akan berubah, kami menantikan cucu kami" ucap Ibu Nevan.


Aku tersenyum mendengarnya, yang kupikir kehamilan ini akan menjadi masalah dihidupku. Kini malah menjadi anugerah untuk kami semua.


Suasana menjadi begitu hangat, setiap orangtua Nevan membicarakan tentang calon cucunya kelak.


Hingga Nevan mengatakan sesuatu.


"Jovita, aku ingin mengatakan sesuatu. Ini memang tak diduga-duga. Tapi kita harus melakukannya.


Aku ingin kita menikah dalam minggu depan 14 Desember, aku tak mau menunda lagi. Ini salahku, karena sempat menunda pernikahan kita karena pekerjaan.


Tapi ini yang sebenarnya aku inginkan. Bagaimana?"


"Aku menyetujuinya" kataku dengan penuh haru, karena hari ini begitu banyak kejutan membuat aku menangis bahagia.


Aku, Nevan dan orangtua Nevan sepakat pada tanggal 14 Desember 2019.


Tapi Nevan tetap mengingat orangtuaku, kami berempat video call dengan orangtuaku yang kebetulan ada dirumah saat weekend ini.


Orang tua Nevan dan orang tuaku menjadi saling kenal dan cukup akrab dalam membicarakan tanggal pernikahan kami.


Sesekali candaan ringan menyertai topik dari pembicaraan mereka.


Tak kusangka, hadirnya Alvaro menyatukan hal yang pernah kutinggalkan. Tak kuduga, orang tua Nevan jauh dari prasangka burukku, atau memang karena aku sedang mengandung anak Nevan.


Selesai video call, tak terasa aku cukup banyak memakan porsi makan siangku. Apalagi Nevan sesekali memberikan suapan padaku, tapi aku suka, makanannya juga enak.


Nevan tak jauh berbeda dengan Alvaro, dia sangat hati-hati dan memperhatikan kondisiku saat ini. Padahal aku masih baik-baik saja.


Pertemuan makan siang sudah selesai, aku dan Nevan pamit dengan orang tua Nevan.


"Jaga baik-baik Jovita ya sayang" ucap Ibu Nevan.


"Iya ma.." sahut Nevan.


"Baiklah, jaga kesehatan juga ya, tak terasa kamu akan menikah secepat ini.


Rasanya dulu papa masih menggendongmu saat kecil" ujar Ayah Nevan.


Kami tertawa saat mendengar perkataan Ayah Nevan.


"Baiklah Pa.. Ma, hati-hati dijalan"


"Kalian juga yah" balas orangtua Nevan.


Lalu aku pulang dengan Nevan.


"Mulai hari ini kita tinggal di apartemenku"


Aku mengangguk pada calon suamiku ini sambil menggandengnya.


Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dan bermanja pada lelaki yang kucintai ini.


Bersambung..... ✨✨✨