It Beats For You

It Beats For You
In the bedroom and all around



Aku masih berada dipangkuan Alvaro, kami saling memandang saat itu.


"Apa aku berat jika terlalu lama disini?" Tanyaku.


"Tidak, tidak sama sekali. Yang berat adalah kamu yg mau lari dariku" ujarnya pelan seperti tak bersemangat.


Mendengar itu, aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Setahu aku kamu tidak merokok, apa sekarang kamu mulai merokok?" tanyaku.


"Dimulai dari pengurangi depresi" jawab Alvaro.


"Oh ya, karena apa?"


"Kamu, sejak kita putus. Ya biasalah ketemu teman ajak minum, merokok. Tapi gak menjadi kebiasaan hanya saat tertentu aja"


"Berarti sudah lama?, Apa sampai sekarang"


"Iya, tapi sesekali aja kalau lagi banyak pikiran"


"Lalu, apa sekarang banyak pikiran?" Aku bertanya sok polos.


"He'em" Alvaro memelukku. Akupun memeluknya.


"Aku gak tau lagi kalau musti diposisi yang sama, aku takut.. jika aku tidak bisa mengontrol diriku tanpamu.


Kenapa sih bisa-bisanya terlintas dipikiranmu untuk bicara seperti itu, asli gemeteran aku sayang. Aku gak bisa kehilangan kamu lagi, Tuhan sudah memberikan kesempatan untuk kita bertemu dan aku gak mau menyia-nyiakan hal ini. Apa ada didiri aku yang kurang untuk kamu?"


"Gak sayang, gak sama sekali. Kamu gak ada kurangnya bagi aku" ucapku.


"Trus.. kenapa hari ini bisa terjadi?" selidik Alvaro.


"Aku.. mungkin aku takut akan keseriusan ini, kadang aku berpikir apa aku sanggup jadi istri kamu nanti, apa aku sanggup untuk setia dan sayang sama kamu seterusnya, ada kepanikan soal itu didiri aku"


"Jadi kamu gak mau menikah dengan aku dalam waktu dekat?"


"Entahlah, aku gugup aja, gak ngerti kenapa aku juga bisa begitu"


"Kenapa harus gugup, toh akhir dari hubungan kita juga akan menikahkan.. masa kita pacaran aja terus sampai tua"


"Ya.. bukan maksud aku, aku sepertinya belum siap untuk merencanakan pernikahan secepat ini"


"Oke kalau itu masalahnya, kuberi waktu untuk kamu bisa menyesuaikan diri kamu denganku lagi, aku akan tunggu hingga kamu siap, tapi jangan tiba-tiba kamu berubah pikiran lagi"


"Iya sayang" sahutuku.


"Lalu, kapan kamu mau kenalkan aku kekeluargamu?"


"Kamu memangnya sudah siap?"


"Sudah lebih dari siap, aku sudah menanti ini sekian lama. Jadi aku siap kapanpun"


"Oke.. tapi tadi orangtuaku sedang berkunjung kerumah nenekku dijawa. Jadi belum bisa dalam waktu dekat ini" ujarku.


"Oh baiklah, tahun ini aku sudah 29 loh. Jika tahun depan terpaksa aku menginjak umur 30 tahun baru menikah, sedih gak sih"


"Aww sayangku, jangan sedih. Banyak juga kok yang nikah umur kepala 3" aku mencoba menghiburnya.


"Kenapa musti aku coba"


"Kenapa kamu nanya begitu?" heran Alvaro.


"Ya mau tau jawaban kamu" ucapku.


"Gimana ya, hati sudah berbicara. Pikiran dan otak sudah tidak akan bisa mengerti. Intinya aku sudah merasa cocok sama kamu"


"Owww so sweet.. lalu, memangnya gak ada yang cocok sama kamu?"


"Yah kurang tahu ya, wanita dihidupku datang dan pergi gitu aja. Gak ngerti kenapa, kadang aku berpikir apa yang kurang dari aku sampai semua wanita gak mau sama aku"


"Oh yah.. hehe masa sih sayang"


"Ya kayak kamu aja contohnya, hampir 2 kali kamu mau tinggalin aku. Jangan sampai yg kedua kali"


"Hemm.. kamu paling bisa nyinyirin aku yah"


"Loh kok nyinyir, kenyataan dong"


"Hemm.. baiklah" aku beranjak dari pangkuannya.


"Eit mau kemana sih sayang, sini aja sama aku" Alvaro menarik tanganku yang sudah berdiri didepannya.


"Aku mau pakai baju, mau pulang. Ini dah hampir tengah malam"


"Aku gak mau pulang, kita disini aja. Besok kita baru berangkat ke apartemen kamu ganti baju, besok aku agak siang jadwal praktek. Aku masih bisa antar jemput kamu"


"Gak aah sayang, aku pulang sekarang aja"


"Tuh kan kamu gak mau denger aku"


"Aku takut nanti saat aku tidur kamu perkosa aku"


"Yaampun ngapain aku perkosa kamu pas tidur, sekarang juga bisa. Pas kamu lagi sadar begini" elak Alvaro.


"Tuh kan, nakutin banget sih, kalau gitu gak ah, aku lebih suka diapartemenku aja"


"Kamu rela aku pulang anterin kamu tengah malam, trus nanti aku dibegal"


"Yaampun gak gitu juga kali sayang"


"Yaudah disini aja, aku janji gak ngapa-ngapain"


"Heem.. gak mau, aku mau pulang"


"Yaudah aku diapartemen kamu aja"


"Gak mau, kamu pulang aja"


"Hemm kamu tega deh, nanti kalau aku ngantuk dijalan bagaimana"


"Aah kamu.. " aku bimbang.


Begitu banyak janji kuutarakan ke Alvaro, entah bagaimana nanti kujelaskan.