
Setiap perselingkuhan akan menimbulkan penghianatan dan akibatnya akan menyakiti orang yang ada di lingkaran tersebut.
Kuharap ini sudah berakhir, aku sudah mengakhiri semua dengan Alvaro apapun yang terjadi aku tetap memilih Nevan untuk menjadi milikku dan aku sepenuhnya milik Nevan.
Tapi jika mengakhiri hubunganku dan Alvaro dengan cara selalu menghindar akupun juga tidak akan tenang, jika nanti kita bertiga bertemu sewaktu-waktu entah bagaimana aku menjelaskannya pada Nevan.
Kenapa Alvaro begitu keras kepala, buat apa terus dipertahankan kalau aku sudah tidak menginginkannya lagi.
Nevan.. begitu gentle bagiku, dia jelas membawaku bertemu kekeluarganya dan aku diterima baik disana. Semoga aku tidak salah pilih akan semua ini dan aku tidak menyangka saat ini aku malah menginap di apartemen Nevan.
Perilakunya sangat baik padaku, padahal kami baru saja kembali bertemu. Bagaimana hati ini bisa begitu nyaman, akhirnya ada seseorang yang memintaku menjadi pendampingnya dan dia adalah Nevan.
Aku baru saja selesai mandi. Sambil memakai piyama dan handuk di kepalaku.
"Aku sudah bersihkan kamar untuk kamu tempati" ujar Nevan saat melihatku berjalan mendekatinya.
"Iya, terimakasih ya" kataku dengan sedikit bingung harus bersikap bagaimana.
"Baiklah aku tinggal, aku juga mau mandi" kata Nevan yang sambil berjalan didepanku.
"Oke" hatiku berdegup kencang saat Nevan berada tepat didepanku, lalu aku berjalan menuju kamar yang telah disediakan. Tepat disamping kamar Nevan.
Didalam kamar itu ada, tempat tidur, Nakas dan sofa juga meja. Itu lebih dari cukup untukku begitu nyaman lebih nyaman dari kamar apartemenku, apalagi tinggal bersama Nevan disini.
Astaga apa yang kupikirkan, aku terlampau jauh dalam berpikir.
10 menit kemudian.
Kudengar langkah kaki Nevan menuju kamar yang akan kutempati malam ini.
"Jika kamu ingin sesuatu kamu bisa bilang apapun, atau kamu ingin aku buatkan sesuatu?" Tanya Nevan.
"Oh ya.. kamu bisa buatkan sesuatu untukku?" Sahutku antusias.
"Iya, coba kita lihat ada apa dikulkas" Nevan menggelengkan kepalanya kearah dapur.
"Oke" aku segera meninggalkan tempat tidurku mengikutinya kedapur.
Nevan membuka kulkas dan mencari sesuatu untuk dimakan.
"Hem.. mendadak aku tak bersemangat untuk makan, bolehkah aku makan buah anggur ini" aku menunjuk kearah buah anggur yang tepat disebelah Nevan.
"Oke gak masalah, jika kamu memang menginginkan buah anggur ini" Nevan memainkan sebuah anggur ditangannya.
"Haha maksud kamu" aku tertawa melihat Nevan yang sedikit menggoda kearahku.
Nevan menaruh anggur di bibirnya dan mendekatiku sambil merangkul pinggangku. Kami begitu dekat sekarang, dan ini kedua kalinya setelah kami berdansa waktu itu.
"Kenapa anggurnya ada disana?" Tanyaku sambil sedikit tertawa padanya.
Nevan tak berbicara mungkin karena ada anggur di bibirnya dan makin menggodaku dengan mendekati anggur itu di bibirku.
Tanganku sudah berada di pinggangnya, bibirku sudah menempel di anggur itu. Mata kamipun sudah saling bertemu, entah apa yang kami pikirkan, semua terasa begitu lambat, apalagi kami saling bertatap-tatapan.
Seketika anggur tersebut itu jatuh kelantai. Membuat Nevan menyambut bibirku dengan ciumannya, dia mendekapku begitu erat dan mulai menciumku dengan lembut dan perlahan dan aku menikmati ciuman hangatnya yang sudah membuatku terlena.
Perlahan-lahan dia bermain dimulutku dengan lidahnya.
"Aahh.. mengapa ini begitu menyenangkan aku menyukai ciumannya" batinku.
Tak berhenti ku terus menciumnya begitupun dengan Nevan.
Tak kurang dari 10 menit kami saling berciuman satu sama lain, Nevan hanya menciumku tanpa embel-embel lain.
Karena tubuh kami begitu menempel dan baju kami hanya berbalut piyama yang bahannya tipis dari satin halus dan sepertinya kurasakan ditubuhku pergerakan Mr.P Nevan yang agak berubah dan sedikit mengeras karena godaan ini begitu kuat.
"Muaach.. i love you Jovita, hehe sepertinya ada yang bangun. Maaf yah.." Nevan terlihat begitu malu dihadapanku, sambil mengakui apa yang sedang dia rasakan.
"I love you Nevan..
Iya aku merasakannya, tak apa itu bisa saja terjadi" ungkapku dengan santai padanya.
"Astaga apa yang baru saja kukatakan, apa aku tidak terlalu terlihat gampangan saat mengatakan hal itu pada Nevan" batinku merasa bersalah dan malu.dengan apa yang kukatakan tadi.
"Baiklah dari pada aku akan berubah menjadi nakal, lebih baik kita istirahat" Nevan terlihat gugup didepanku seakan ingin pergi dan bersembunyi.
"Oh ya.. nakal gimana" aku mendekatinya dan menciumnya lagi, benar saja Nevan masih ingin menciumku.
Kami ulangi kemesraan ini sekali lagi, tapi sebentar saja Nevan sudah menghentikannya.
"Oke sayang, aku takut tak bisa mengontrol ini" Nevan mencoba untuk menghentikanku dengan melepas ciuman diantara kami.
"Kenapa tidak kamu lepaskan aja" seketika aku sadar, astaga aku menggodanya. Aku ini kenapa, malah aku yang menginginkannya.
Sekali lagi aku malah menyerahkan diriku begitu saja padanya, ada apa denganku.. ini sangat berbeda jika dengan Alvaro.
"Oke sayang i love you.." Nevan terburu-buru kembali kekamarnya dan meninggalkanku didapur.
Yaampun kenapa saat ini aku seperti diposisi Alvaro dan Nevan diposisiku.
Asli ini begitu lucu bagiku, Nevan ternyata masih bisa mengontrol keinginannya, disaat wanita sudah menggoda dan dia juga sudah menginginkan, tapi Nevan memilih menghindariku, disaat aku menginginkan hal yang lebih dari ini.
Bersambung..... ✨✨✨
Hello semua, Terima Kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.
Semoga terhibur.
Jangan Lupa Like, Comment dan di Vote ya..
Thankyou 💓