
Alarm pagiku belum berbunyi tapi aku sudah bangun jam 4.45 rasanya aku mengalami beban pikiran yang membuatku tidak bisa tidur dengan nyaman saat ini.
Sambil berleyeh-leyeh dikasur dan melihat-lihat handphone ku, akankah ada pesan untukku. Kuperiksa tak ada satupun untukku dari Nevan atau Alvaro. Ku pindah ke gallery dan aku punya foto bersama Nevan saat makan malam waktu itu.
Yaampun, akankah aku bisa memilihmu tanpa menyakiti Alvaro. Atau aku memilih Alvaro tanpa menyakitimu. Mengapa kalian hadir dihidupku secara bersamaan, membuatku binggung untuk menetapkan siapa yang akan menjadi pilihanku.
Gimana aku mau memulai kegiatan kalau pikiranku tidak fokus seperti ini. Sudahlah, aku ikuti bagaimana semua terjadi, yang ada nanti malah pekerjaanku yang berantakan, sudah dengan kerja keras kugapai selama ini.
Aku bersiap untuk bekerja, mandi subuh entah apa yang kulakukan. Tapi semoga bangun lebih awal ini akan menjadi mood booster ku nanti dikantor.
Jam 5.30 aku sudah siap untuk berangkat. Ku ambil handphone dan tas ku lalu memakai sepatu dan bergegas keluar apartemen.
Ku menanti lift dan sesampainya dilobby
Tak biasa aku melirik ke lobby dan kulihat Alvaro sudah menanti disana. Aku terhenti, belum juga ku buka pintu untuk menemuinya.
"Buat apa Alvaro menanti pagi-pagi begini? Dia sama sekali tak mengabari untuk menjemputku. Apakah dia merasakan sesuatu yang aneh padaku. Astaga aku harus bagaimana untuk menemuinya" gumamku.
Kulihat Alvaro sedang duduk santai disofa sambil menatap handphone ditangannya.
"Dia pegang handphone tapi tidak menghubungiku, Issh Alvaro kenapa ya. Tiba-tiba dah nungguin di apartemen aja" tak tega melihatnya yang mungkin sudah menunggu lama, aku menghampirinya.
"Alvaro?" Sapaku dengan nada sedikit terkejut.
"Jovita, kamu sudah mau berangkat?"
"Iya, kamu kok gak ngabarin aku kalau mau kesini, kamu sudah lama disini?"
"Surprise, aku mau jemput kamu. Kita berangkat bareng yuk"
Alvaro menggandengku menuju mobilnya yang sudah terparkir didepan lobby apartemenku.
"Sayang kamu dari kapan disana, kenapa gak kabarin aku sih. Kan aku bisa buru-buru turunnya"
"Iya aku cuma kasih kejutan aja, kangen ya sama kamu. Tadi aku juga gak kepikiran kesini, pas dijalan aku baru berniat kesini. Aku mau jadi kekasih yang antar jemput"
"Antar jemput, serius kamu? Yaampun kamu kan ada pekerjaan nanti gimana" tanyaku.
"Jam praktekku masih agak siang, pulang kerja juga gak terlalu sore. Jadi aku bisa leluasa antar jemput kamu dari sekarang" jawab Alvaro.
OMG. Masalah baru!
"Oh.. kamu tuh sweet banget sih" ujarku menutupi kepanikan mendengar penjelasannya
Ini diluar dugaan, Alvaro berniat membatasi ruang gerakku. Entah seperti apa nanti kedepannya.
"Maaf ya kalau tadi kamu lama nunggu aku ya, Sampe jam berapa tadi?"
"Ah gak usah dipikirin toh aku juga belum ngabarin, kamu mau sarapan bareng aku?"
"Boleh, kamu mau sarapan dimana"
"Kantin sudah buka?"
"Jam segini masih belum, tapi yang dipinggir jalan sepertinya sudah. Mau disana?"
"Boleh" Alvaro setuju.
Karena tempat tinggal dan kantorku tidak begitu jauh. Kami sampai dengan cepat dikantor dan berniat untuk sarapan di tempat makan yang tidak jauh dari kantorku.
Kami memilih makan bubur pagi ini, baru jam 6 lewat tapi karyawan sudah beberapa yang datang untuk sarapan juga. Karena disini banyak pilihan untuk menu sarapan, walaupun tempatnya dipinggir jalan.