
Mataku berkaca-kaca, aku tak sadar hingga terjatuh kepipiku.
"Kak.. kak, kakak baik-baik saja?" Elina melihatku yang terbengong dengan airmata dipipiku.
Aku tersadar dan langsung menghapus tetesan air mata yang ada dipipiku.
"Elina, sepertinya kakak akan ke toilet, sebentar yah.." ujarku beralasan.
"Oke kak...aku disini yah, nanti kesini lagi temani aku.." sahut Elina.
"Baiklah.." aku pergi menuju toilet.
Aku tak tahu tepatnya berada dimana, hanya ingin terus berjalan tanpa tahu akan berhenti dimana, bersyukur jika aku langsung tahu dimana toilet itu.
Aku naik kelantai atas, pikiranku sekarang kosong, aku mencoba membuka pintu berharap itu adalah toilet.
Karena pintu dirumah ini sama semua, jadi aku tidak mengerti dimana toilet.
Saat aku masuk, tentu aku terkejut melihat ini adalah sebuah kamar.
Aku tak tahu siapa yang dikamar ini, jiwa penasaranku bangkit, mencoba mencari tahu kamar milik siapa ini.
Kulihat ada banyak foto dimeja, dan itu adalah Nevan.
"Jadi ini kamar Nevan, sepertinya lama tidak ditinggali, melihat semua foto saat dia masih begitu muda.. foto dari zaman sekolah hingga kuliah.." satu persatu kulihat semua foto, aku ingin mengenal Nevan yang dahulu.
Hingga aku mendapati foto Nevan bersama teman-temannya saat kuliah, dan juga Tamara.
"Mungkin ini saat mereka berteman, terlihat posisi berdiri mereka yang berjauhan, ini Gerry, Rafael, Bimo yang kemarin kita bertemu.
Apa Nevan sengaja menyimpan foto ini yah.." kecemburuanku bergejolak.
"Sheila on 7, heem.. dia punya idola juga ternyata.." aku tergelitik saat melihat foto band ini terpajang di kamar Nevan.
Aku mengelilingi kamar Nevan, jauh berbeda saat di apartemen miliknya, apa karena dia jarang tidur disini, barang-barang ini sedikit model lama. Mungkin Nevan yang sekarang sedikit perfeksionis, karwna apartemennya sangat modern dan minimalis.
Hingga aku berhenti dicermin, melihat diriku, wajahku dan penampilanku.
"Semua didiriku jauh berbeda dengan Tamara, dia begitu mandiri hingga dia bisa membiayai hidupnya..
Berbeda denganku, biarpun aku bekerja, pasti aku akan bergantung dengan Nevan disisi keuangan.
Sebenarnya apa yang kupikirkan, apa aku harus merelakan Nevan dengan pilihan orangtuanya.. dan aku harus mengubur impian kami untuk menikah.
Tapi Nevan lebih memilihku ketimbang dia, buat apa aku harus mundur jika jelas Nevan sangat mencintaiku.
Apakah aku sanggup menyatu dalam keluarga ini.
Ada apa denganku, berhenti melamun.. lebih baik aku kembali" aku menggelengkan kepalaku untuk sejenak melupakan pikiran ini.
Nevan menyadari Jovita yang tidak ada diruangan acara tersebut, dan bertanya pada adiknya Elina dimana keberadaan Jovita dan Elina menjawab Jovita ke toilet, mendengarnya Nevan terburu-buru mencari Jovita.
Tamara melihat Nevan yang berjalan dengan tergesa-gesa, tak tinggal diam Tamara menyusul Nevan yang sendirian tanpa Jovita.
"Nevan.. aku mau bicara denganmu.." ujar Tamara sedikit berteriak agar terdengar.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan" sambil menuju toilet tapi Nevan tak menemukan keberadaan Jovita.
"Kamu sedang apa?" Heran Tamara.
Tak disahut oleh Nevan yang sibuk mencari Jovita.
Tamara terus saja mengikuti Nevan yang sudah dari awal menghindari Tamara.
Nevan berkeliling mencari sosok Jovita dengan diikuti Tamara.
Hingga Nevan ke lantai dua untuk memastikan apakah Jovita diatas sana.
"Nevan.. biarkan kita bicara walau sebentar.." Tamara sedikit memaksa.
"Aku tidak ingin bicara denganmu.. kumohon pergilah dan jangan ganggu aku lagi.." sambil memeriksa ruangan yang ada dilantai dua.
"Nevan.. lihat aku.." Tamara menarik tangan Nevan hingga berhadapan dengan Tamara.
Aku berjalan perlahan keluar dari kamar Nevan untuk kembali kepesta, agar Nevan tidak khawatir jika tidak melihat keberadaanku.
Dengan kebetulan Tamara melihat Jovita yang keluar dari kamar Nevan dan Nevan tidak mengetahuinya, karena membelakangi Jovita.
Tanpa pikir panjang, Tamara memeluk Nevan dan mencium bibirnya untuk membuat Jovita kecewa pada Nevan.
Saat kukeluar dari kamar Nevan, pemandangan yang lebih menyakitkan ada dihadapanku.
Nevan berciuman dengan Tamara tepat didepan mataku.
Tak bisa dibendung lagi, air mata ini mengalir penuh kekecewaan karena apa yang sudah kulihat saat ini.
"Nevan.." teriakku.
Nevan tersadar dan mendorong Tamara hingga kedinding, betapa terkejutnya Nevan melihat Jovita memergokinya berciuman dengan Tamara.
"Aku sudah tahu kamu bisa selicik ini" ketus Nevan menatap tajam Tamara.
Tamara merasa rencananya berhasil, membuat Jovita marah pada Nevan.
"Setidaknya aku merasakan kembali ciuman kamu Nevan.." sambil menggigit bibirnya.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat.." Nevan mencoba menjelaskan dan menarik Jovita masuk kembali kekamar Nevan.
Perasaan campur aduk ini, memaksaku untuk menangisi semuanya.
Nevan mengunci pintu kamar agar tak ada yang menggangu mereka.
"Sayang, ini jebakan.. ini tidak seperti yang kamu pikirkan.." Nevan menggenggam tanganku.
Aku yang menanggis memalingkan wajahku.
"Maafkan aku, ini karena aku sedang mencarimu dan Tamara mengikutiku.. aku tidak tahu tiba-tiba dia menciumku.." ungkap Nevan.
"Cukup Nevan, itu tidak akan terjadi jika perasaan kalian masih ada" ujarku sedikit terisak yang kutahan.
"Astaga tidak mungkin, aku tidak punya lagi perasaan padanya.. please percaya padaku.. kamu tahu sendirikan dia sedang mendekatiku belakangan ini.
"Tentu.. aku kecewa sama kamu Van.."
"No.. please, aku tahu kamu pasti kecewa, tapi ini bukan kesengajaan. Walaupun begitu, maafkan aku karena menyakitimu.."
"Entahlah, ini bukan tentang apa yang barusan kamu lakukan dengannya..
Tapi tentang siapa yang lebih pantas untuk menjadi pendampingmu.."
"Maksud kamu.. ya itu kamu sayang, kita sudah mulai merencanakan ini.
Jangan berpikir aneh-aneh.." Nevan memegang wajahku.
"Aku merasa.. aku harus menyerah Van.." air mata ini tak berhenti mengalir dan aku melepaskan tangan Nevan dari pipiku.
"Sayang, sayang.. aku tahu kamu sedang marah, tapi bukan seperti ini caranya..
Apanya yang salah, aku mencintaimu dan kamu mencintaiku.. itu sudah cukup bagiku.." Nevan terlihat kaget mendengar ucapanku tadi.
"Iya aku memang mencintaimu, tapi aku tak cukup mampu menyaingi dirinya.."
"Astaga sayang, cinta itu bukan soal siapa yang lebih dari siapa... Aku gak mengerti jalan pikiran kamu serius.."
"Entahlah Van, mungkin aku terlalu egois untuk memilikimu tanpa memikirkan keinginan keluargamu.."
"No.. no.. no.. kita sudah bahas ini sebelumnya, kamu ingatkan apa yang kukatakan dihotel kemarin..
Keluarga menerima keputusanku dan siapa yang akan aku nikahi, dan sekarang kamu bicara tentang keluargaku.. ini tidak masuk akal sayang.."
"Kamu tidak mengerti, apa yang sebenarnya mereka inginkan.."
"Sayang, yang menikah itu aku.. aku yang berhak memilih siapa yang menjadi pendampingku.
Aku tak tahu kamu berpikir apa tentang keluargaku, tapi jangan membuat keputusan yang sudah kita buat menjadi berubah..
Aku tidak ingin dengar itu.."
"Nevan, semua ini perlu kamu pikirkan kembali, aku tak ingin menjadi penghalang bagi impian keluarga kamu" aku menyakinkan Nevan mengenai orangtuanya.
Nevan menarik nafas dan mengatur pembicaraan yang mulai tidak terarah ini.
"Jadi kamu berpikir, keluarga aku lebih menerima Tamara karena dia wanita pebisnis?
Sayang kamu salah besar, aku sudah katakan.. dia bukan type yang cocok untukku jadikan istri, untuk apa memiliki istri yang punya banyak bisnis tapi hati dan perasaan kita tidak sejalan.
Aku tidak ingin pernikahan hanya untuk beberapa waktu saja, aku hanya ingin sekali seumur hidupku yaitu bersamamu.." Nevan menjelaskan dengan tekad yang tulus.
"Perasaan itu bisa kamu bangun sejalan waktu jika bersama.."
"Tidak sayang.. sayang aku benar-benar berjuang untuk hubungan ini.. aku tidak mau kamu menyerah begitu saja.
Semua pasti ada cobaan dalam hubungan, aku ingin kita kuat menjalaninya.
Kenapa kamu harus menyerah, jika masih mencintaiku.."
"Rasa cinta ini bisa saja kupendam dan akan menghilang begitu saja"
"Tidak.. tidak, aku jelas tidak mau dengar kamu mengatakan itu. Aku mencintamu terlalu dalam sayang.. tak mungkin bagiku untuk menghilangkannya.."
"Tapi mudah bagimu untuk tidur dengan banyak wanita kan.." aku hanya mengatakan hal lain untuk membunuh cinta Nevan padaku.
"Apa.. astaga apa yang kamu katakan itu tidak benar.. siapa yang mengatakan itu, jelas fitnah.." Nevan mengelak.
"Tapi kamu sudah pernah tidur dengan Tamara kan?"
"Astaga sayang..." Nevan memegang kepalanya merasa bersalah.
"Itu pasti benar kan, sudahlah Nevan.. aku melepaskanmu.. aku harap kamu bisa bahagia bersama Tamara.." aku membalikkan badanku untuk keluar dari kamar ini dan berusaha menahan tangisku yang menyesakkan hati.
"Sayang, kamu jangan seperti ini.. kita sudah dewasa kan, kita bisa selesaikan masalah ini dengan solusi bukan menghindar.." Nevan menahanku.
"Karena kita sudah dewasa, kumohon kamu mengerti keputusanku.."
"Tidak, aku tidak mau kehilanganmu.. harus berapa kali aku merasakan kepergianmu sih sayang.." Nevan pun tak dapat membendung air matanya lagi, yang memegang tanganku.
"Kumohon Nevan, lepaskan aku. Aku tak ingin menjadi menantu yang bukan keinginan orangtuamu"
"Tidak ada yang berpikir seperti itu sayang.."
"Aku mendengarnya... Jelas kalau ibu kamu mengatakan dua kali jika dia menginginkan Tamara untuk menjadi pendampingmu" aku tak tahan lagi untuk mengatakannya.
"Apa..." Nevan tak percaya.
"Itu benar, aku menguping apa yang dia bicarakan dengan orangtuamu.. aku memilih menyerah untuk kebahagian mereka.. maafkan aku Nevan, aku harus melakukan ini.
Tolong jangan cintai aku lagi.." aku menghempaskan tangan Nevan dan berlari keluar dari kamar.
Nevan hanya terpaku setelah mendengar penyataan Jovita mengenai orangtuanya.
Walaupun begitu, Nevan tak ingin membuat Jovita pulang sendiri, Nevan menelepon driver nya untuk mengantarkan Jovita.
Lalu terduduk dilantai penuh kekecewaan.
"Tak kusangka, Jovita menyerah begitu saja.." tarikan nafas berat Nevan yang terpaksa menerima keinginan Jovita.
Mobil Nevan telah menunggu didepan pintu, dan pak Harris mengatakan akan mengantarkan Jovita pulang.
Karena tak ada pilihan lain, aku menurutinya. Sejenak aku berpaling kerumah Nevan, karena ini akan menjadi terakhir kalinya aku datang kesini.
Aku masuk kedalam mobil dan menutupi wajahku yang tak berhenti menangis.
"Tolong ke apartemenku ya pak.." kataku memastikan driver tidak mengantarkanku ke apartemen Nevan.
"Baik" sahut pak Harris.
"Maafkan aku Nevan, maafkan aku.. ini juga menyakitkanku" gumamku.
Setelah weekend panjang yang berakhir perpisahan ini, ternyata menghasilkan kenyataan pahit antara Nevan dan diriku.
Bersambung..... ✨✨✨