It Beats For You

It Beats For You
Sweet honesty



Bella melepaskan sentuhan demi sentuhan yang beberapa saat mereka lakukan.


"Tak bisakah kamu menginap bersamaku sekarang, aku akan menceritakan sesuatu padamu" ujar Bella yang deru nafasnya masih tersenggal.


"Aku.. aku bisa saja menurutimu, tapi aku takut akan melampaui batas" Alvaro mencium kening Bella.


Bella memeluk Alvaro.


"Aku ingin kamu disini" pinta Bella sekali lagi.


Alvaro yang baru saja mengusap rambut Bella tak tega menolaknya.


"Baiklah, tapi aku akan tidur disofa ya"


"Jika itu yang kamu inginkan, baiklah" Bella merasakan kehangatan dipelukan Alvaro.


"Aku mau bersih-bersih dulu ya" ucap Bella pada Alvaro.


"Hu'um" sahutnya.


Alvaro kembali mengambil jas yang tergeletak dilantai dan menaruhnya di lemari pakaian, tak lupa dia juga menaruh tas Bella yang tadi berada disamping jas milik Alvaro. Lalu Alvaro duduk disofa sambil menyalakan televisi dan mengecek handphone yang sudah ditangannya.


Belum ada pesan masuk ataupun email, sesekali Alvaro mengecek nama Jovita di WA nya dan tak ada status ataupun berganti foto profil, hanya gambar dirinya sedang memeluk seikat bunga mawar yang membuatnya begitu mempesona.


"Forget it" Alvaro tersadar dan melemparkan handphone disamping sofa.


Bella keluar dari toilet dengan handuk dikepala dan memakai baju kimono handuk berwarna putih dan duduk disamping Alvaro.


"Aku senang kamu berada disini" Bella merangkul tangan Alvaro dari samping sambil bersender dibahunya.


"Aku tak bisa pungkiri, aku masih ingin lebih lama bersamamu" Alvaro mencium pipi Bella.


Bella makin erat merangkul Alvaro yang ada disampingnya.


"Aku mau cerita sesuatu, tapi kuharap kamu jangan berpikir yang aneh soal ini yah.." Bella memberitahu awalnya dahulu agar tak membuat Alvaro menjauhinya.


"Tentu, katakan saja.. ini akan jadi awal kita saling mengerti satu sama lain" Alvaro menggenggam tangan kiri Bella.


Bella membenarkan posisi duduk disamping Alvaro sambil menatap untuk melihat reaksi Alvaro tentang ini.


"Ada alasan aku tidak ingin pulang" perlahan Bella membuka percakapan.


"Iya, aku mendengarkan" ucap Alvaro dengan santai.


"Aku memang single dalam 5 bulan ini, tapi.." Bella sedikit menahan kata-katanya.


"Tapi?" Alvaro mengernyitkan keningnya.


"Entahlah sebulan ini mantanku berulah, aku sudah tidak ingin kembali padanya ataupun bertemu dengannya.. dan belakangan ini dia makin sering menungguku dirumah.


Sudah sering kali aku menghindar darinya dan mengatakan aku tak ingin kembali padanya, tapi ternyata dia masih banyak berharap padaku" ungkap Bella yang menunggu respon dari sikap Alvaro.


"Itu pasti membuatmu terganggu, tidak apa katakan apapun yang harus aku ketahui, aku takkan menilai buruk tentang itu.


Aku akan berterima kasih jika kamu selalu jujur dan terbuka padaku, aku yakin semua akan ada solusinya jika kita hadapi bersama" ujar Alvaro dengan bijak.


"Aku akan hadapi dia, saat dia bertemu denganku, kamu jangan takut untuk ungkapkan hal itu.." lanjut Alvaro.


Bella memeluk Alvaro.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?" tanya Alvaro penasaran.


"Dia seorang HR di salah satu perusahaan provider terkemuka, itu membuat dia banyak bertemu orang dan wanita lain tentunya.


Dia berselingkuh dariku dan itu dilakukan berulang kali, awalnya aku masih bisa memaafkan.. tapi dia berulah lagi dan lagi, entah berapa kali kudapati dia berselingkuh dan entah berapa kali saat aku tak mengetahuinya" ungkap Bella.


"Aku merasakan apa yang pernah kamu lalui, tapi mengapa kami begitu murah hati karena selalu bisa memaafkannya?"


"Cinta yang membutakan segalanya, dia juga punya kata-kata manis dan membuatku selalu memaafkannya" Bella mencengkram erat tangannya mengingat kembali cinta yang telah membodohinya.


"Aku yang sebagai dokter tak punya waktu banyak untuk bisa selalu bertemu dengannya, sedangkan dia pasti punya banyak waktu untuk menghianatiku"


Alvaro mendekati wajah Bella dan menatap Bella penuh keyakinan.


"Itu pasti membuatku terluka, Bella aku berjanji tidak akan membuatmu terluka seperti itu, ini bukan hanya janji tapi akan ku lakukan apapun untukmu bahagia bersamaku" janji Alvaro sambil membelai pipi Bella perlahan lalu makin mendekat dan Alvaro mulai mencium bibir Bella.


🌼


Dari jendela kulihat langit sudah begitu gelap, lampu-lampu yang menghiasi kota Jakarta sudah terang dan menyilaukan.


Aku yang gugup karena kami harus jujur pada orang tua kandungku, yang kami belum bisa utarakan sebelum menikah, berpikir agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Kali ini Nevan bertujuan untuk memberi tahu kondisiku yang sedang mengandung anak kembar 3. Aku menggenggam tangan Nevan erat untuk membuatku kuat dalam kejujuran ini.


"Ma.. pa, Ayah dan ibu.. sebelumnya saya berterima kasih karena telah merestui pernikahan kami hari ini. Hal itu membuat kami berbahagia dan terlebih lagi saat ini Jovita sedang mengandung anak kita.. Jovita mengandung anak kembar tiga" ujar Nevan sambil menatapku penuh haru saat kata-kata terakhir yang dia ucapkan.


Orang tua Nevan yang sudah mengetahui sebelumnya tersenyum, mengingat mereka akan menimang tiga cucu sekaligus.


Lain dengan orang tuaku, kulihat raut wajah ayah dan ibuku terlihat tegang dan kebingungan menatap kami.


"Maafkan ayah, ibu ini memang semua kesalahan saya dan memang dari awal kami sudah merencanakan pernikahan ini, dan mulai hari ini..


Jovita dan calon anak-anak kami sudah menjadi tanggung jawab saya, bersama kami akan terus merawat dan membesarkan dengan baik anak-anak kami..


Saya juga memohon maaf jika baru mengatakannya setelah resepsi pernikahan ini, semata-mata untuk kelancaran dihari ini.." dengan perlahan Nevan menjelaskan.


"Hm.." ayah Jovita berdehem memotong pembicaraan Nevan.


Seketika ruangan yang sunyi semakin hening.


"Saya apresiasi kejujuran nak Nevan pada kami karena mengetahui langsung dari nak Nevan, saya menyambut baik kejujuran ini walaupun seharusnya tidak boleh terjadi.


Semua sudah berjalan dengan lancar dan kalian sudah resmi menjadi suami istri, itu berarti saya sudah menyerahkan sepenuhnya anak perempuan saya satu-satunya yaitu Jovita menjadi istri nak Nevan, kami berharap seperti yang nak Nevan katakan tadi, akan terus bersama dan merawat keluarga kalian dengan kasih sayang, sebagaimana kami menyayangi Jovita dan adiknya selama ini, tentunya juga seperti keluarga nak Nevan" ujar ayahku dengan bijak.


Aku yang akhirnya baru merasakan lega setelah pembicaraan ini. Nevan menatapku dengan senyumannya begitupun dengan diriku.


"Ini kabar yang luar biasa, mama juga ikut senang Jovita, anak kembar tiga itu pasti sungguh menggemaskan.. karena ini kehamilan kamu yang pertama apalagi bayi kembar, berarti kamu harus kuat dan banyak bersabar selama kamu mengandung, mama yakin kamu bisa.. ini sungguh anugrah dari Yang Maha Kuasa.." ucap ibuku dengan perhatiannya yang selalu beliau berikan.


"Iya bu, kami juga baru dengar kabar ini dari mereka, tentunya kami juga menantikan calon cucu kami ini, sehat-sehat ya Jovita sayang" sahut ibu Nevan.


"Iya, kita kan sekarang sudah menjadi keluarga, Jovita juga tak perlu segan jika perlu bantuan kami... Dengan senang hati kita pasti saling membantu dan menguatkan" ujar ayah Nevan.


"Terima kasih pa, ma.." kini aku bisa tersenyum mendengar respon orangtua kami yang sangat berarti bagiku.


"Semua pasti baik-baik saja" bisik Nevan ditelingaku.


Orang tua kami bersemangat atas kehamilan kembar tiga yang sedang kujalani. Ayah dan ibu Nevan yang ternyata begitu kompak dengan ayah dan ibuku untuk menjagaku, agar semua berjalan lancar hingga kelahiran anak-anakku nanti.


Pemandangan ini akan kujadikan memory yang takkan kulupa, dimana mereka yang belum lama kenal, menjadi begitu akrab satu sama lain.


Tak lupa Nevan, sikapnya yang bijak dan manis ini telah menjeratku.


Hari ini memang begitu luar biasa, banyak hal indah dan bahagia kurasakan, syukurlah semua berjalan lancar seperti keinginan kami.


🌼


Bella dan Alvaro yang lagi-lagi terhanyut dalam buaian suasana malam.


"Alvaro..." Bella menahan tubuh Alvaro yang sudah berada diatasnya.


Seketika Alvaro tersadar dan kembali ke posisi duduk disofa.


"Maafkan aku Bella, aku terlalu hanyut" sambil merapikan bajunya yang berantakan.


"Aku baru saja mulai mencintaimu, tapi aku sedang tidak ingin terburu-buru" ucap Bella yang kembali duduk, kali ini mereka duduk diujung sofa memberi jarak pada keduanya.


"Iya, itu benar.. aku yang salah, maafkan aku" Alvaro terlihat begitu salah tingkah.


Bella ketempat tidur dan mengambil bantal juga selimut tambahan yang ada dilemari.


"Ini.. agar kamu lebih nyaman" Bella menaruh bantal dan selimut disamping Alvaro.


"Hem.. baiknya aku mandi dulu" dengan cepat Alvaro masuk kekamar mandi.


Bella tersenyum melihat sikap Alvaro yang salah tingkah terhadapnya, lalu menuju kasur dan bersiap untuk istirahat. Bella menaruh kepala nya dibantal yang nyaman dan berselimut, posisi tubuh Bella membelakangi kamar mandi.


Alvaro selesai mandi dan memakai kimono handuk seperti yang Bella kenakan. Melihat Bella sudah tertidur, Alvaro langsung menuju sofa dan mencoba untuk tidur lalu memejamkan matanya.


"Jovita, dia sudah bahagia sekarang... Tidak menyangka semua secepat ini setelah kita dipertemukan kembali, kalau memang bukan jodoh mau berusaha seperti apa kita tetap tidak akan bersama" pikiran Alvaro sedikit terganggu mengingat Jovita.


Bersambung.....✨✨✨