
Jam 11 malam.
Aku dan Nevan masih saling bercumbu diatas kasurku. Hingga handuk yang Nevan pakai terlepas.
Aku terkaget saat mengetahuinya dan reflek mendorong Nevan dari tubuhku.
"Sayang.. handukmu lepas.." aku menutup mataku dengan tangan.
Nevan tertawa pelan.
"Dia pun tahu harus bagaimana.." sambil merapikan handuk dan memakainya lagi.
"Nanti kamu kedinginan, sebentar aku ambilkan pakaian dulu"
Aku beranjak menuju lemari dan mencari pakaian yang mungkin muat untuk Nevan pakai.
"Sepertinya hoodie ini agak besar gimana mau coba pakai?" tanyaku
"Peluk aku saja semalaman dan pakai selimut aku gak masalah.." sahut Nevan.
"Jangan nanti kamu pilek, kamu banyak pekerjaan dan aku gak mau kamu sakit" kataku khawatir.
"Duh manis banget kalau kamu bicara seperti itu" Nevan menarik tubuhku lagi dan memelukku dari belakang.
"Aku gak mau jauh dari kamu" memelukku dan melingkarkan tangannya dipinggangku.
"Sayang aku lagi ambil baju untuk kamu, nanti mau kedinginan.." aku mencoba melepaskan tangannya dari tubuhku.
"Kita tidur saja di kasur seperti yang aku bilang tadi, tubuhmu begitu langsing pasti tidak ada pakaian yang pas untuk aku pakai.." benar saja Nevan menarikku keatas kasur.
Kami tidur berdampingan, membuatku agak canggung mengetahui Nevan tidak berpakaian.
"Sepertinya aku punya sarung.. tunggu yah.." aku mencari dilemari lalu menemukannya.
"Okey.. kamu bisa pakai ini dulu sementara, maaf ya aku memang gak punya baju untuk ukuran kamu..
Habis kamu tiba-tiba minta menginap disini"
"Ya.. begitulah" dengan nada suara dan menatap seperti meledekku.
Akhirnya Nevan memakai sarung, lebih baik dari pada tidak memakai baju sama sekali.
"Oke.. kita lebih baik istirahat sekarang, karena besok kita masih harus bekerja.."
"Sayang, apa kamu mau mengisi posisi di perusahaanku, setidaknya aku bisa mengontrol kamu sedekat itu" tanya Nevan tiba-tiba menawarkan pekerjaan padaku, yang berbaring disampingku sambil mengarah padaku.
"Maaf sayang, bukannya aku gak mau.. aku masih nyaman bekerja disini" aku menolaknya dengan halus.
"Kenapa sih.. aku takut kamu nanti didatangi mantanmu, apa besok dia akan menjemputmu lagi?" Ketus Nevan cemburu.
"Aku belum memberitahunya malam ini, aku akan katakan padanya besok" kataku sedikit ragu.
"Malam ini" desak Nevan.
"Tapi ini sudah malam, apa tidak membuatnya terganggu"
"Aku tidak ingin dia datang lagi kesini, apalagi ada aku disini" Nevan mulai seperti Alvaro yang memaksaku.
"Tapi.."
"Atau aku yang hubungi dia..?" ancam Nevan.
"Sayang.. aku harus bilang bagaimana"
"Bilang padanya, stop menemui atau menghubungi kamu lagi. Karena kamu masih dan selamanya milikku" dengan bersemangat.
Aku bingung harus bagaimana, aku melamun.
"Haruskah kubantu?" Nevan mendesakku.
"Tidak, biar aku saja.." aku mengambil handphone ku.
"Aku pesan singkat saja yah.." sambil mulai mengetik sesuatu.
"Silahkan.."
Aku tak tahu harus memulai bagaimana, ku lirik Nevan yang ada dihadapanku dan melihatnya menatapku dan mulai menyelesaikan kata-kataku.
"Alvaro.. maafkan aku. Ku mohon kamu tidak menemuiku lagi mulai sekarang.."
Aku mengirimkan WA padanya.
"Sudah.." kataku.
"Dia pasti menelepon"
"Angkat saja, katakan dan selesaikan"
"Kamu membuatku bingung tahu gak"
"Loh kenapa bingung.. kamu memang harus katakan, jangan sampai kita fight saat bertemu"
Aku mengernyitkan kening.
Tak lama benar saja Alvaro panggilan video call.
Aku mengangkatnya.
"Jovita.. kamu belum tidur?" Nada suara Alvaro masih cukup tenang saat ini.
"Hem.. belum, tapi baru akan tidur.." kataku pelan.
"Kamu kenapa lagi sayang.. tiba-tiba WA seperti itu.. aku salah apa" tanya Alvaro.
Dengan berbisik Nevan terlihat mengejek Alvaro.
"Sayang.. astaga.." dengan wajah yang sangat cemburu padanya.
"Alvaro.. sungguh aku mohon jangan hubungi aku lagi, aku tidak bisa menjalin hubungan apapun denganmu. Kita sudahi ini sekarang" aku mulai tegas padanya
"Kamu kenapa, cerita sama aku. Malam-malam WA aku dan bilang seperti itu, padahal tadi kita baik-baik saja" selidik Alvaro.
Tiba-tiba Nevan mendekatiku dan masuk di video call kami sambil menciumku.
Beberapa detik Nevan menciumku saat kami video call dan aku menahannya untuk menyelesaikan sikap Nevan ini.
Terlihat reaksi Alvaro begitu marah saat melihat Nevan yang sedang menciumku.
"Dia milikku dan selamanya akan begitu, jadi jauhi dia.. karena dia takkan menjadi milikmu" ujar Nevan dengan lugas.
"Kamu pikir aku belum pernah berciuman dengannya saat kamu menjalin hubungan dibelakangku?" Alvaro menantang Nevan.
"Aku sudah tahu semua, jadi tidak perlu lagi memberitahuku" Nevan menepisnya.
"Jovita, ternyata janjimu kemarin palsu padaku, kuharap janji Jovita padamu juga begitu" Alvaro menutup telepon.
"Oke done.. biarkan serangga dihubungan ini lenyap selamanya.." Nevan bahagia merasa kemenangan yang didapat.
Aku hanya terpaku mendengar perkataan Alvaro yang terakhir tadi.
"Sayang kamu kenapa, kamu memikirkan dia?" tanya Nevan.
"Tidak.. aku sayang sama kamu" aku memeluknya.
"Kamu tidak akan seperti yang dia katakan kan?"
"Tidak.." aku mengeleng pelan ditubuhnya.
"Baiklah, sekarang aku harap aku akan tidur nyenyak malam ini.. karena berapa hari aku tidak mampu tidur dengan baik" kami memposisikan tubuh untuk beristirahat.
Aku tidur disamping Nevan sambil menaruh tanganku ditubuhnya.
"Nevan.. maafkan aku, sebenarnya aku sungguh beruntung bisa dicintai olehmu, bisa mencintaimu pun suatu kebahagiaan untukku.
Dari awal hubungan ini saja sudah membuatku sakit kepala, aku bermaksud tidak ingin menyakiti siapapun..
Tapi malah menyakiti semua pada akhirnya..
Hingga detik ini yang terjadi membuatku seakan tak percaya, masih diberi kepercayaan darimu" ungkapku.
"Yang terpenting kamu jangan pernah diulangi lagi, aku akan tetap percaya padamu, tapi aku akan sedikit memperketat hubungan kita dibanding biasanya" untuk menjagaku.
"Aku tak akan kemana-mana, malah aku yang harusnya takut"
"Kamu tak perlu takut aku dengan wanita lain, karena aku takkan berpaling dari bidadariku" Nevan menyakinkan.
"Ow yah.." kataku sambil tertawa.
"Kamu hal terindah yang dikirimkan Tuhan padaku" kataku bersyukur.
"Begitupun kamu sayang.." Nevan mencium keningku.
Tak lama kami yang lelah, sedikitnya dengan permasalahan yang terjadi, akhirnya tertidur.
š¼
Alvaro membanting beberapa barang dimeja.
"Jovita.. haruskah aku merasakan sakit yang bertubi-tubi seperti ini karena kehilanganmu. Aku tak cukup kuat menghilangkan orang itu dari pikiranmu.
Haruskah aku mengalah sekarang, kupikir kita akan bersanding dipelaminan bersamamu.
Haruskah aku menyerah saat perjuangan baru saja kumulai.
Nevan.. kamu pikir menciumnya dan menunjukkannya padaku membuatmu merasa menang?
Jovita, harusnya aku yang disisimu, bukan dia.
Dia tak pantas kamu miliki, dia orang kedua diantara kita.
Dia tak akan bisa membahagiakanmu seperti diriku" tak sadar Alvaro menitikan air mata kekecewaannya.
Hati Alvaro tersayat hebat malam itu, baru saja Alvaro tenang menjalankan hubungan kasih bersama Jovita yang sangat singkat.
Kini sudah berakhir...
Bersambung..... āØāØāØ