It Beats For You

It Beats For You
Make me wanna savor every moment slowly



Astaga sandiwara ini melupakan segalanya, ternyata aku terhanyut yang menurutku hanya sekedar kebohongan. Alvaro menjelajahi tubuhku yang hampir tidak mengenakan apapun, hanya pakaian dalam. Sebenarnya aku ingin berlari dari sini, tapi mengapa tubuhku seakan engan untuk menolak kecupan dan desahan yang sedang terjadi.


Entahlah kali ini aku mengikuti nafsuku saja dahulu, aku sungguh ingin tenggelam lebih jauh. Aahh.. ciuman ini membiusku semakin dalam, memaksaku untuk melepaskan celana panjang Alvaro yang masih ia kenakan. Kubuka perlahan hingga celana itu sudah jatuh kelantai.


Alvaro makin liar diatas tubuhku, setiap kecupannya sudah membasahi seluruh tubuh ini. Aah aku hingga tak kuat menahan gairahku sendiri, tanganku berada dipunggungnya merasakan setiap halus kulitnya yang lembut. Wangi tubuh Alvaro makin membuatku terlena.


"Aaahh Alvaro" aku mendesah dalam cumbuannya.


"Jovita, i love you.. i love you" Alvaro terus membuatku bergairah.


Kami tak kuat lagi menahan rasa ini, deru nafas ini pun makin tergesa-gesa. Setiap sentuhan dan ciumannya membuatku makin menyerah pada pendirianku.


"Jangan pernah berpikir untuk berpisah, karena aku tak ingin" disela kecupannya Alvaro ucapkan.


"Tidak, maafkan aku, aku tidak akan meninggalkanmu" aku membalas semua lumatan bibirnya yang membuatku ikut terbawa suasana, Hingga lupa diri.


Setiap sentuhan yang dia lakukan membuatku semakin mengikuti gairahnya, aku hanya manusia biasa yang bisa saja jatuh dalam kenikmatan ini. Tak bisa menolak walaupun hati ini sudah berulang kali meneguhkan prinsip.


Setan masih saja dapat menguasai kami terjerumus dalam kemaksiatan. Tubuhku benar-benar tak mampu untuk berhenti, malah makin menjadikanku semakin menggila dalam setiap sentuhannya.


"Hemm yaa, aahh ahh Alvaro" deru desahanku menikmatinya.


"Ya sayang, kita akan tumpahkan semua saat ini" Alvaro masih berada diatasku yang semakin intens melakukannya.


Tiba-tiba handphoneku berbunyi.


Astaga, siapa itu apa Nevan menghubungiku. Itu yang terlintas dipikiranku.


"Alvaro, sebentar"


"Biarkan saja, itu tidak penting dari ini"


"Iya tapi aku harus melihatnya dulu, tunggu sebentar oke" aku beranjak dari tempat tidur mengambil handphone ku yang berada ditas yang sudah tergeletak dilantai.


Sambil memeluk selimut, aku melihat handphone ku, panggilan tak terjawab dari mama.


"Mamaku" ujarku memberitahunya.


"Oh ya, kamu mau telepon lagi?" ucap Alvaro.


"Iya sebentar yah, ini biasa kulakukan untuk tahu keadaanku saja. Kamu jangan bersuara oke" aku mencoba menelepon mama ku.


"Waalaikumsalam, apa kabar kak" tanya mama.


"Baik ma, mama bagaimana kabarnya?"


"Baik, mama mau kabarin mama lagi dirumah keluarga papamu dijawa. Lagi berkunjung ketemu nenek sama kakek"


"Oh iya ma, adek semua ikut?"


"Iya dua adikmu ikut sama papa juga, kamu mau main kesini?"


"Hem aku kirim salam aja ya ma, aku masih banyak kerjaan disini"


"Oke, nanti kalau sudah sampai disana mama kabarin lagi yah, kami masih dijalan bye Jovita"


"Bye ma, salam kangen buat papa dan adek yah"


"Iya.." mama menutup telepon.


"Hemm manis banget sama mamanya" Alvaro mendekapku dari belakang sambil mencium bibirku seperti tak bisa melewatkan kesempatan.


Aku membalas menciumnya.


"Oke tunggu sebentar sayang, ini sudah larut. Aku harus bekerja besok"


"No, kita harus disini sampai besok, kecuali kamu mengizinkan aku menginap diapartemenmu" masih menghujaniku dengan cumbuannya.


"Sayang.. aku tahu disini aku yang memulai masalah ini, aku juga tidak menolak dengan semua godaanmu. Tapi aku belum bisa untuk melakukannya" jelasku.


"Karena kamu sudah tau kamu yang salah, harusnya kamu bisa membayarnya untuk bercinta denganku"


"Kita sudah berkali-kali seperti ini, kadang aku juga bisa lupa diri karenamu, tapi.. untung saja mamaku menyadarkan aku. Kalau tidak.."


"Harusnya mama kamu teleponnya sesudah kita bercinta, kalau begini kan nanggung"


"Kumohon... Jadikan aku perawan sampai saat pernikahan nanti"


"Hemm gak perawanpun. Aku juga mau menikahimu, asalkan perawanmu sama aku" ujar Alvaro sambil menempel manja dileherku.


"Yaampun... Kamu tuh yah" kata-kata dan sikapnya membuatku tergelitik membuatku tertawa.