It Beats For You

It Beats For You
You're the love of my life



Nevan mengajakku masuk kerumahnya, sambil memandangku sedikit memberi ketenangan. Mungkin terlihat wajahku yang gugup saat ini.


Akhirnya aku dipertemukan ayah, ibu dan ketiga saudara Nevan.


Kami bersalaman satu sama lain dan saling memperkenalkan diri. Nevan begitu menjagaku dengan sangat baik yang selalu ada disisiku.


Kami dipersilahkan duduk diruang keluarga mereka yang begitu luas dan megah.



Hanya aku orang lain disini, benar-benar pertemuan ini khusus untuk memperkenalkan hubungan kami.


Ayah Nevan yang membuka pembicaraan.


"Apa kabar Jovita"


"Baik om.. terimakasih. Bagaimana kabar om dan sekeluarga" ujarku berusahan dengan santai.


"Baik-baik.. terimakasih, maaf ya sebelumnya kita bertemu dengan mendadak" ujar beliau.


"Oh tidak apa om, kebetulan saya tidak ada kegiatan setelah pulang kerja"


"Ow untunglah, jadi.. kami sudah dengar banyak hal tentang kamu dan Nevan.. pertama kami kaget mendengar Nevan membicarakan orang yang istimewa baginya. Kita senang akhirnya dia menetapkan pilihannya sendiri.


Karena kebetulan kita akan pergi ke Amerika besok pagi, jadi kita mengusulkan malam ini untuk dapat bertemu dan saling kenal"


"Iya ada yang harus dilakukan disana secepatnya" sambung ibu Nevan.


"Iya om. tante.." aku menyimak.


"Kami setuju dengan semua keinginan dan pilihan Nevan, kami juga percaya Nevan sudah cukup dewasa dalam memilih pasangan hidup"


Hatiku berguling mendengar penyataan setuju dari ayah Nevan dan kulihat ibu dan adik Nevan tersenyum kearahku.


"Jikapun kalian dalam beberapa waktu kedepan merencanakan pernikahan, kami siap membantu dan mendukung semuanya.. nah untuk Jovita sendiri bagaimana, apakah berkenan juga untuk bersama dengan Nevan"


"Ya kan perlu ditanyakan ma" ujarnya sambil tertawa kecil.


"Saya.. mencintai Nevan om, tante.." ucapku.


Yaampun rasanya mau bersender dalam punggung Nevan yang tegap dan menutupi wajah ini setelah mengatakannya.


Mereka bersorak gembira mendengar perkataan dariku.


"Baiklah, apa lagi yang kita tunggu.. mari makan malam dahulu" kami diarahkan menuju meja makan.


Meja makan ini begitu panjang. Makanan yang tersedia begitu banyak tak ketinggalan dengan ornamen mewah disisinya.


Kami banyak mengobrol satu sama lain. Begitu pula dengan adik-adiknya, Bella Yang berusia 23 tahun sedang melangsungkan kuliahnya di Amerika, begitu pula dengan Jeremy yang berusia 19 tahun baru saja masuk kekampus yang sama dengan Bella,.dan yang baru berulang tahun Elina baru barusia 14 tahun yang baru kelas 9.


Beruntungnya orangtua Nevan yang mempunyai anak yang begitu baik dan ramah. Apalagi Nevan, sampai detik ini adalah mantan bos ku yang kini menjadi kekasihku.


Ternyata semua yang Nevan katakan benar tentang keluarganya, mereka sangat rendah hati. Walaupun mereka adalah orang yang mempunyai segalanya. Mereka menerimaku dengan sangat baik, yaampun terimakasih Tuhan telah mempertemukan kembali Nevan denganku.


Makan malam ini begitu singkat kurasa, aku seakan tak sadar sudah jam 8 malam. Kegugupanku yang tadi melanda sirna saat keluarganya menyambut dengan sangat baik padaku. Cara bicara mereka juga sangat santai tanpa memandang dari segi apapun. Ini diluar dugaanku, aku berpikir pertemuan ini akan sulit, ternyata tidak sama sekali.


Nevan menggapai tanganku sambil mengangguk seakan memberikan isyarat padaku.


"Pah.. Mah.. aku dan Jovita pulang dulu ya. Sudah malam.."


"Oiya.. baiklah, hati-hati dijalan ya" ujar ayah Nevan.


"Iya om, tante.. Bella, Jeremy, Elina pamit dulu ya.. terimakasih atas jamuannya.."


"Sama-sama" ujar mereka setelah kami bersalaman.


Nevan menggandengku berjakan menuju mobilnya. Hatiku lega hari ini sungguh begitu menyenangkan bagiku, kini ku telah menetapkan Nevan untuk menjadi milikku dan aku miliknya. Ternya semua ini adalah nyata, aku sudah harus sadar kini Nevan adalah pacarku, pacarku seorang. Tak ada yang lain lagi.