It Beats For You

It Beats For You
Crying sadness



"Sebaiknya mulai sekarang kamu memberitahunya, kamu bisa bertukar informasi tentang diri kalian masing-masing.. sebelum pernikahan nanti, karena yang kutahu pernikahan itu ada senang dan ada sedih. Ya aku tak bermaksud apa-apa, hanya untuk pasangan yang ingin menikah mungkin ada baiknya bisa lebih saling mengenal satu sama lain" Alvaro mencoba menasehatiku.


Aku menahan suara tangis ditelepon, sesekali aku menutup telepon dengan tanganku agar suara tangis kesedihan ini tak terdengar olehnya.


"Duh.. aku kok jadi ngawur.. maaf ya say.. aduh.. maksudku Jovita.. tenang saja nanti akan terbiasa memanggilmu dengan sebutan nama Jovita" sahutnya lagi.


Perih hati ini mendengar setiap perkataannya, aku tahu ini akan menjadi perpisahan yang sulit bagi kami, karena aku telah dilamar tepat didepan Alvaro, yang mungkin telah menusuk hatinya.


"Kamu tidak perlu menangis ataupun tidak enak hati padaku, ini hal yang bisa saja terjadi pada siapapun.. salah satunya kita.


Aku setuju kamu dengan Nevan.. kelihatannya dia pria yang baik dan tulus, tentu saja kamu mencintainya. Dirinya pun juga tampan jadi tak ada halangan bagi kamu untuk tidak menerimanya.


Aku mendoakan yang terbaik untuk masa depan kamu dengan calon suami kamu, akankah kamu mengundangku nanti?"


"Hemm apa kamu akan mengacaukan hari pernikahanku seperti di film-film" ujarku sedikit meledeknya dalam tangis ku yang kutahan.


"Tidak dong.. aku akan senang jika kamu mengundangku, aku tidak akan melakukan apapun yang merugikan. Aku hanya ingin melihat, perempuan cantik yang telah dipersunting oleh pria pilihannya.


Bisa jadi motivasiku untuk cepat mencari jodohku nanti" Alvaro menjelaskan.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan.. mungkin.. aku tidak bisa bersamamu lagi setelah hari ini, Buckingham Palace menjadi tempat terakhir kita bersama" kataku pelan.


"Iya.. kenangan yang akan selalu ingat.. Buckingham Palace.." ujar Alvaro.


Air mata ini tak bisa tertahan untuk tidak mengalir begitu saja, tarikan nafas dihidungku membuat Alvaro mendengarnya.


"Kamu masih saja menangis, sudah dilamar ya musti bahagia dong"


"Iya aku bahagia... dan sedih.. aku benar-benar minta maaf karena banyak kesalahanku padamu" kataku


"Aku juga minta maaf atas kesalahanku sama kamu ya.. sudah jangan menangis lagi.. aku tahu ini yang terbaik, aku tidak akan menyalahkan apapun.. karena yang namanya jodoh tidak akan tertukar, mungkin kamu dan aku memang hanya untuk dipertemukan tapi tidak untuk menjadi berjodoh" Ungkap Alvaro.


Aku menarik nafas untuk menenangkan pikiranku.


"Makasih.. karena kamu begitu bijak soal ini" ucapku.


"Aku perlu proses untuk menjadi seperti ini, mungkin karena usia juga yang sudah sama-sama dewasa" katanya.


"Iya.. aku doakan kamu menemukan jodoh kamu ya" ujarku.


"Kamu akan berapa lama disini?" tanyaku.


"Tadinya dua minggu sesuai rencana sebelumnya.. mungkin kupercepat jadi satu minggu saja. Maaf juga aku tidak bisa mengantarmu ketempat wisata selama di Inggris, semoga Nevan bisa mengantikanku untuk menjadi tour guide kamu selama disini ya"


"Iya.. kamu tidak perlu minta maaf, ini bukan kesalahan dari kamu" kataku.


"Hem.. apa lagi ya.. aku mau banyak mengatakan apapun malam ini, aku mengerti aku tidak akan seperti sebelumnya lagi, karena aku tak ingin merusak kebahagian kamu..


Aku doakan, Nevan selalu membuat kamu bahagia, walaupun ada duka nantinya, semoga itu tidak berlangsung lama.. pokoknya happy terus dengan Nevan dan punya keturunan yang lucu-lucu ya.." Alvaro masih saja mendoakan yang terbaik untukku.


"Amin.."


"Oh iya.. aku ada foto dan video saat kamu dilamar, mau aku kirim ke kamu?"


"Oh yah.. kamu tuh benar-benar yah.. baik banget"


"Untuk orang yang pernah kusayang.. tapi jika akan jadi kecurigaan lebih baik aku posting di akun youtube ya.. nanti aku akan buat channel hanya untuk ini, nanti kamu pura-pura baru lihat saja, semoga ini tak menjadi masalah ya"


"Iya gak apa.. sepertinya tidak akan jadi masalah.."


"Baiklah.. kita istirahat yah.. semoga besok menjadi hari yang lebih menyenangkan"


"Iya.. bye Alvaro.."


"Kita tetap jadi teman kan..?"


"Iya teman. Hanya teman biasa ya"


"Haha.. iya.."


"Oke.. bye.. makasih atas semuanya ya.."


"Sama-sama" Alvaro mengakhiri.


Aku menutup telepon, melamun dengan semua perkataan Alvaro yang membuatku merasakan kesedihan, karena pertunanganku dan Nevan pasti menyakitinya.


Aku hanya bisa mendoakan Alvaro kelak akan bertemu pujaan hati yang akan selalu menghibur Alvaro dan menjadi istri tercintanya.