It Beats For You

It Beats For You
Love is not for us



Nevan merasa pembicaraan dengan Jovita belum selesai. Tapi tiga hari kedepan Nevan akan ada pekerjaan di Batam, tentu akan menyita waktunya.


Hanya malam ini Nevan ada waktu untuk meluruskan hal yang Jovita pikirkan itu salah, walaupun Nevan mendengar langsung ibunya memang memuji Tamara.


"Tapi apa salahnya memuji, itu hal biasa.. bukan jadi patokan untuk menyimpulkan sesuatu" pikir Nevan.


🌼


Hari senin pukul 16.57 beberapa menit lagi jam pulang kantor.


Aku masih duduk terdiam, memandangi cincin lamaran Nevan yang menyusulku saat di Inggris waktu itu.


"Aku pikir, cinta kita berdua sudah selesai. Hanya saja mungkin benar aku terlalu egois, hingga berpikir orangtua Nevan juga menyukaiku.. atau memang menyukaiku, tapi lebih menyukai orang lain yang lebih dari ku.." sindrom pesimis ini benar-benar menghantuiku.


Handphone ku berbunyi, Nevan meneleponku.


Aku terkejut melihat nama dilayar handphone tertera Nevan.


Buru-buru aku melepaskan cincin pemberian Nevan kedalam tasku, padahal dia hanya menelepon buat apa aku terburu-buru menyembunyikan cincin, hanya untuk memastikan pada dirinya, aku sudah tidak memikirkan dia lagi.


Dering telepon berhenti.


"Syukurlah.." sambil menghela nafas.


Ternyata Nevan meneleponku lagi, seketika jantungku berdetak cepat karena aku gugup untuk berbicara dengannya.


Akhirnya aku menerima panggilan telepon dari Nevan.


"Halo.." sapaku ditelepon.


"Halo.. Jovita, syukurlah kamu mengangkatnya. Aku khawatir denganmu.." sahut Nevan dengan tergesa-gesa.


"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatirkan aku lagi.." kataku perlahan.


"Aku sudah dikantor kamu, kita harus bicara.." pinta Nevan.


"Tidak ada yang dibicarakan lagi, pergilah.. kamu pantas untuk mendapatkan yang lebih baik dariku.."


"Temui aku sekarang, aku akan menunggumu sampai kamu mau menemuiku" paksa Nevan.


Aku terdiam dan mematikan sambungan telepon, lalu berpikir apa yang harus aku lakukan, menatap handphone ku berharap aku dapat menghindar dari Nevan.


Jam 5.25 aku masih terduduk diruanganku, membuat Nevan lama menunggu, berharap dia akan pergi walaupun nyatanya dia masih berada disekitar kantor.


"Kuharap hari ini penyelesaian terakhir bagi kita" aku menghela nafas dan berjalan pulang keluar kantor.


Nevan telah menantiku didepan lift, astaga sungguh aku tidak tega melihatnya lama menantiku sambil berdiri didepan lobby. Pasti banyak rekan kerja yang melihatnya berdiri disini.


"Hay.." sapaan canggung dari Nevan, seakan ini kesalahannya, padahal yang membuat masalah itu adalah aku.


"Hay, maaf membuatmu lama menunggu" ujarku sedikit murung saat melihatnya.


"Tidak masalah, mari kita makan malam.." ajak Nevan.


"Aku tidak bisa lama, aku ada janji" ujarku sedikit dingin.


"Baiklah kalau begitu" sikap Nevan masih sama seperti biasanya, karena sikapku membuatnya menjadi sedikit canggung.


Kami menuju restoran, selama diperjalanan kami benar-benar terlihat kaku, hingga Nevan memberanikan diri memegang tanganku.


"Kamu tidak memakai cincin dariku lagi?" Sambil melihat dan memegang tanganku.


Aku menarik tanganku dari genggamannya.


"Ini tidak seharusnya terjadi.." Nevan membeku sambil menatapku heran.


Aku tak menjelaskan apapun, karena bagiku semua sudah kukatakan kemarin.


Tiba-tiba saja Nevan mendekatiku lalu menciumku sambil memegang daguku, seketika aku terkunci dalam ciumannya.


Aku tak bisa menahan, aku juga merindukannya tapi aku tak ingin melanjutkan hubungan ini.


Walau aku membalas ciumannya tapi tak membuatku berubah pikiran.


"Nevan cukup.. aku menemuimu bukan untuk ini.." aku menahannya untuk tidak menciumku lagi.


"Jovita, aku tidak ingin berpisah denganmu.." membisikkannya ditelingaku.


Aku berusaha keras menahan air mata ini dengan memalingkan wajahku, mengatur nafas agar tak terdengar aku sedang meratapi semua ini.


Kami tiba direstoran Alex Kitchen, tempat pertama kali kita makan berdua. Suasana menjadi makin dingin karena aku berjalan agak diberi jarak dengan Nevan, yang biasanya aku selalu digandeng olehnya.


Nevan memesan private room dan tempat yang sama saat dulu kita kemari.


Aku semakin bersalah, terlihat aura Nevan sedikit meredup. Tak berani bagiku menatap Nevan begitu lama, seperti sebelumnya.


Makanan sudah siap dimeja, sedangkan kami masih membisu, belum tahu obrolan seperti apa yang akan kita katakan.


"Kamu makan dulu, sudah waktunya makan malam.." Nevan mempersilahkan.


"Disituasi seperti ini, bagaimana aku bisa makan, baiklah Jovita.. kali ini bagaimana kalau kita mencoba bijak karena sudah sama-sama dewasa.. biarkan malam ini dilewati seperti yang diinginkan.." batinku berbisik.


Kami mencoba mencairkan suasana dengan makan terlebih dahulu, sesekali Nevan mencoba memulai pembicaraan dengan bergurau, tapi aku hanya tersenyum datar menanggapinya. Sungguh kali ini aku seperti orang jahat pada Nevan.


"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Mencari topik lain untuk membuatku berbicara.


"Mudah bagimu untuk menjalani hari seperti biasa.. sedangkan aku, masih tidak sadarkan diri karena terlalu banyak minum.." ungkap Nevan.


"Kamu mabuk?" tanyaku heran dengan sidikit khawatir.


"Entahlah, terjadi begitu saja.. sedikit menghiburku disaat seseorang pergi meninggalkanku" sindir Nevan.


"Harusnya kamu tidak minum terlalu banyak.."


"Memang, jika tidak ada yang menyebabkannya" sambung Nevan.


"Nevan, sungguh ini juga menyakitkan untukku, tapi aku tidak ingin mengambil resiko jika nanti keluargamu tidak menyukaiku.. itu akan menjadi beban bagiku"


"Siapa yang akan tidak menyukaimu, kupastikan pikiranmu itu salah.. mungkin saat itu orangtuaku hanya memuji saja tak lebih.."


"Mungkin benar, tapi aku terlalu berpikir panjang.. hingga mengambil keputusan yang terbaik bagi kita adalah berpisah.." masih tak mampu menatap Nevan.


"Kamu seperti menyiksaku saat ini, untuk apa kamu membunuh cintamu hanya karena prasangka?


Percaya padaku, kita bisa melewati semua ini tanpa harus berpisah.." Nevan berusaha menyakinkanku.


"Anggap saja semua ini karena diriku, diriku yang terlalu mudah menyerah, terlalu egois dan tak dapat mengimbangimu dengan baik.."


"Bagaimana bisa aku berpikir seperti itu, kalau bukan kenyataannya" heran Nevan.


"Inilah kenyataannya, aku rapuh.. aku tak bisa dipercaya untuk menjaga cinta dan setiamu.." hatiku menangis saat mengatakan hal ini.


"Beri aku waktu untuk membuatmu percaya dengan semua kata-kataku..


Jika kamu berpikir keluargaku yang menjadi penghambat" pinta Nevan


Handphone ku berbunyi dan aku melewatkan panggilan tersebut.


"Mungkin sekarang sulit bagi kita untuk berpisah, tapi nanti mudah untuk kita melupakan, maafkan aku Nevan bagiku ini semua sudah berakhir, mari kita melanjutkan hidup masing-masing dan terimakasih atas makan malamnya.." aku menyudahi pertemuan ini, sambil menaruh cincin pemberian Nevan diatas piring kosong.


Nevan menahan langkahku.


"Haruskah aku merelakan semua yang sudah kuperjuangkan berberapa kali?" Tanya Nevan dihadapanku.


Aku memalingkan wajah, begitu malu untukku menatap wajahnya.


Ada seseorang yang membuka pintu.


"Alvaro.." ujarku.


Nevan terkejut saat aku memanggil nama Alvaro.


"Apa..?" Nevan membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang.


"Kamu memintanya datang, untuk menyakitiku?" Nevan terkejut tak menyangka.


"Maafkan aku.. selamat tinggal.." aku benar-benar sangat bersalah pada Nevan, rasanya aku ingin menumpahkan air mata ini sekarang juga, tapi masih kutahan.


Terpaksa bagiku memilih jalan ini, untuk menghindari Nevan.


Alvaro hanya menatap Nevan yang tidak percaya akan kedatangannya.


Kami keluar dari private room dan pergi menuju mobil Alvaro.


Sedangkan Nevan, mematung melihat kejadian yang sungguh menyakiti hatinya.


"Mengapa harus seperti ini akhirnya Jovita, setelah aku memenangkan hatimu darinya.. sekarang kamu memilih dia untuk menyingkirkanku.." Nevan terduduk di kursi, karena kakinya begitu lemas tak menerima kenyataan yang Jovita berikan.


Nevan menatap cincin tunangan milik Jovita dan memegangnya.


"Terasa begitu sia-sia semua ini.." sambil menatap cincin itu, lalu menyimpannya kedalam kantong jas.


🌼


Aku menangis selama perjalanan, Alvaro tak bersuara untuk membiarkan Jovita melepaskan semua beban dihatinya. Karena tanpa bertanya, Alvaro tahu Jovita akhirnya berpisah dengan Nevan untuk ketiga kali.


Kami sudah sampai dilobby apartemen.


"Terimakasih telah mau menjemput dan mengantarkanku.." ucapku pada Alvaro.


"Dengan senang hati, aku berharap kamu tidak lagi memblokir nomor ku, karena kapanpun kamu membutuhkanku.. aku akan datang.."


"Baiklah, aku turun.. selamat tinggal.."


"Seperti inikah sikapmu pada pria yang pernah kamu cintai?, baik aku dan Nevan kamu singkirkan dari hidupmu?"


"Maaf Alvaro, aku tidak berniat berdebat malam ini.."


"Ada apa denganmu Jovita, sebentar kamu mencintai, sebentar kamu tinggalkan.. apa maksud sikapmu itu" selidik Alvaro.


Alvaro membuat tangisanku mengalir kembali.


"Anggaplah aku bukan wanita yang pantas untuk dicintai.." aku turun dan menutup pintu, lalu berlari masuk kedalam apartemen.


"Astaga, aku tidak akan menduga ternyata perasaan Jovita tidak dapat ditebak.." sesal Alvaro dan pulang kerumahnya.


Aku menangis, menangis dan terus menangis. Karena sudah berjam-jam aku menahan perih dihati, aku tidak menyesali.. tapi perpisahan pasti meninggalkan luka yang membuatku menangis.


Bersambung..... ✨✨✨