
Nevan tiba dikantor Jovita sore itu, tak terlihat dimana Jovita berada, Nevan menghubungi pun handphone Jovita tidak aktif.
Gelisah yang dirasakan Nevan, membuatnya semakin bersalah, mengetahui Jovita bisa saja sedang menghindarinya saat ini.
Tak ada yang bisa Nevan mintai tolong untuk dipertemukan dengan Jovita, hingga akhirnya Nevan teringat dan menghubungi Hifza.
"Pak Nevan.." Hifza kaget melihat handphone nya berdering dan tertulis nama Nevan dilayar.
"Halo pak.." sahut Hifza ditelepon.
"Hifza kamu dimana?"
"Masih dikantor pak.."
"Bisa turun sebentar, aku menunggu dikantin"
"Baiklah.." Hifza tak tahu mengapa Nevan menghubunginya dan ingin bertemu dengannya.
Nevan sedikit gelisah saat menunggu Hifza turun, kakinya digoyang-goyangkan seakan tidak sabar untuk Hifza datang menemuinya.
"Iya pak Nevan" akhirnya Hifza datang dan duduk didepan Nevan.
"Za, aku sedang menjemput Jovita tapi dia tidak ada yah.. apa masih diruangannya?" tanya Nevan.
"Sudah pergi pak, bapak belum tahu?" jawab Hifza dan berbalik bertanya.
"Belum tahu apa?" Heran Nevan mengernyitkan keningnya.
"Jam 5 sore tadi mbak Jovita berangkat ke bandara, di sudah cuti untuk liburan ke Inggris" jawab Hifza.
"Inggris.. astaga.. mengapa aku bisa tidak tahu" Nevan bergumam.
"Mbak Jovita tidak memberi tahu kapan dia berangkat?" kata Hifza.
"Tidak.. semalam kami sedang tidak baik, aku tak tahu jika Jovita sudah ada rencana ke Inggris hari ini" jawab Nevan.
"Hari ini ulang tahunnya pak" Hifza memberitahu.
"Astaga.." Nevan semakin bersalah, tangan kanannya menutupi keningnya, berpikir bagaimana bisa Nevan tidak tahu hari ulang tahun kekasih hatinya.
"Bapak belum menghubungi mbak Jovita hari ini" Hifza melihat Nevan seperti bersedih.
"Aku belum sempat, hari ini ada kerjaan yang tidak bisa kutinggalkan, makanya aku sedikit telat menjemput dia" ujar Nevan pelan, karena sudah diselimuti rasa bersalah.
"Mbak Jovita tadi menangis.." Hifza memberitahu.
Nevan semakin bersalah saat mendengarnya, dia tahu Jovita juga tersakiti oleh tindakan Nevan semalam.
"Tentangku?" tanya Nevan.
"Dia mencintai pak Nevan, anggap saja ini ujian cinta kalian.. kuharap kalian bisa mengatasinya dengan baik" ujar Hifza.
"Terimakasih, kapan dia pulang?"
"Sepertinya dua minggu, mungkin tanggal 17 Oktober" Hifza menjelaskan.
"Lama juga yah.." Nevan berpikir apa yang akan dia lakukan, dia melihat handphone nya dan melihat beberapa schedule di dua minggu kedepan.
"Kamu punya tiket atau dimana Jovita tinggal?"
"Punya pak.." semangat Hifza, sepertinya pak Nevan serius dengan Jovita hingga menanyakan itu padanya.
"Sebentar aku cek email, kemarin aku sempat menanyakan hal ini sama mbak Jovita" setelah ketemu email Jovita, Hifza mengirim email ke Nevan.
"Ada pak, aku kirim email ya pak"
"Sudah pak"
"Oke makasih ya za, tanpamu aku tak tahu harus apa" ungkap Nevan.
"Sama-sama pak.., aku juga harap bapak bisa baikan dengan mbak Jovita.. semangat ya pak" ungkap Hifza.
"Oke, thanks.. aku pergi dulu ya"
"Iya" kata Hifza.
Nevan menuju mobilnya.
"Pak, kita ke mall Pasific Village" ujar Nevan pada pak Harris dan menuju kesana.
..........
Kami sudah tiba di airport Bangkok.
Nyaman sekali aku tertidur, hingga landing aku baru terbangun itupun dibangunkan oleh Alvaro.
"Sayang.. sayang sudah landing.." ujar Alvaro sambil menggoyangkan tanganku.
"Hmm.. iya aku dah bangun.." aku membuka mataku.
"Yuk.. dah mulai agak sepi" ujar Alvaro.
"Kamu banguninnya pas banget orang-orang sudah setengah turun dari pesawat ya" kataku.
"Iya.. biar kamu juga lebih nyenyak tidurnya.. yuk" Alvaro mengambil tas di bagasi kabin.
Kami berjalan keluar pesawat untuk masuk menuju bandara.
"Huhu dingin angin malamnya ya" saat kami menurini tangga.
"Iya, ini pakai syal aku dan jaket" kata Alvaro.
"No.. nanti kamu kedinginan, aku gak apa.. saat didalam juga nanti hangat" kataku.
"Iya gak apa, pakai saja dulu. Nanti kamu bisa lepas lagi kalau sudah tidak dingin" Alvaro melepaskan jaket dan syalnya dan memakaikannya untukku, tepat disamping tangga pesawat.
Alvaro perhatian sekali padaku.
"Oke.. yuk" Alvaro menggandengku.
Baiklah kubiarkan saja dia menggandeng tanganku, saat ini aku menyukainya.
Kami berjalan beriringan, Alvaro yang hanya memakai kaos lengan panjang digulung hingga siku, berwarna putih motif garis-garis ditengah untuk bagian tangan, dan celana jeans biru tua dan sneaker putih begitu tampan dan casual kulihat. Beberapa orang disini melihat kearah kami, Alvaro memang bisa jadi pusat perhatian, karena dia begitu mempesona.
"Kita makan dulu yuk.. kamu lapar kan" ujar Alvaro.
"Boleh.."
"Oke, kita lihat ada apa disini" Alvaro memilih tempat makan yang akan kita singgahi.
Alvaro masih saja menggandengku, apa aku harus melunakkan hatiku untuknya ya, apa yang kupikirkan.. memangnya Nevan akan menghubungiku dan berkata ingin aku menjadi miliknya lagi gitu.
"Disini saja yuk sayang.." Kami masuk kedalam restoran khas Thailand.
Dia masih saja memanggilku sayang. Ingin membuatku kembali merasakan indahnya cinta kita dulu.
Kami duduk dan memesan makanan yang tersedia, aku memilih makanan yang kuinginkan.