
Tanggal 6 Desember 2019, Jumat pagi jam 6. Aku baru terbangun dan melihat keadaan Alvaro diluar.
"Hay, dah bangun?" sambil menaruh makanan dimeja.
"Kamu buat sarapan?" tanyaku sedikit terkejut.
"Iya dong, aku juga sudah mandi dan ganti baju" sambung Alvaro dan duduk di kursi untuk sarapan.
"Kamu pulang tadi?" mengernyitkan keningku keheranan.
"Subuh aku pulang, untuk ambil pakaian dan mandi. Lalu buat sarapan" Alvaro memang sudah berpakaian rapi dan tubuhnya begitu harum.
"Yaampun, baik banget sih kamu" aku yang masih pakai piyama dan muka berantakan karena baru bangun tidur.
"Mandi gih sana, abis itu sarapan bareng yah"
"O..oke" kataku dan menuju toilet.
Aku sudah rapi dan berdandan.
"Woah roti bakar, hem harum banget.. rasanya pasti enak"
"Kalau bumil, apa aja enak sepertinya" ledek Alvaro.
"Uuh.. loh ini apa?" tanyaku melihat gelas dimeja.
"Susu hamil, kemarin aku beli, eh malah lupa buatnya untuk kamu semalam" ungkap Alvaro sambil tersenyum.
"Alamak.. kamu belanja apa aja kemarin, banyak banget kayaknya" dan meminum susu hamil yang disediakan Alvaro.
"Ada deh..
Ingat, kamu hamil.. jangan kelelahan, jaga kesehatan. Kalau menurutku kamu sudah harus mempertimbangkan resign di kantor tempat kamu bekerja.
Karena gak mudah bagi ibu hamil kembar tiga bekerja dikantor yang penuh tekanan, ga baik untuk perkembangan bayi.." saran Alvaro.
"Menurutmu, kapan?" aku mempertimbangkan saran darinya.
"Secepatnya, tapi gak mungkin kan ya karena pasti dikantor ada masa transisi, ya baiknya kamu aja" sambil meminum air putih.
Aku menghabiskan roti bakar dan susu hamil tanpa tersisa, perutku kini terisi dan membuat tubuhku kembali bugar tak seperti hari kemarin.
Alvaro mengantarkanku ke kantor, aku sudah berdamai dengan masa lalu, Alvaro sering mengatakan hal konyol yang membuatku tertawa.
Pagi ini memang terasa berbeda dengan kehadirannya.
Sesampainya dikantor, aku sudah diserbu Hifza dan Chessy yang menanyakan keadaanku.
"Mbak gimana keadaan lo, udah sehat?" Tanya mereka berbarengan.
"Astaga baru aja sampai, kalian sudah kepo deh. Hari ini sudah baikan, kemarin gimana meeting nya?" tanyaku sambil menaruh tas dimeja dan duduk.
"Yaampun, baru sehat. Dah nanya meeting, udah di email hasil meeting kemarin" sebut Chessy.
"Syukurlah kalau mbak baik-baik saja, apa kata dokter kemarin?" tanya Hifza.
"Biasa, asam lambung.." kataku berbohong.
"Kok bisa sih mbak, memang lo diet kayak gimana, bisa kena asam lambung?" Heran Chessy.
"I dont know, mungkin sudah takdirnya" kataku dengan santai.
"Udah, udah.. jangan lebay, bawain gue makanan yang banyak hari ini. Gue butuh makanan biar fit" seruku.
"Yaampun, balas dendam dia, abis diet sekarang jadi doyan makan.." celetuk Chessy.
"Iih lo Chess, dengerin aja sih daripada kita dibikin panik seperti kemarin" sambil menyenggol lengan Chessy.
"Hehe iya, kan bercanda"
"Yaudah kalau baik-baik aja, hari ini ada meeting sama bu Glory dan marketing. Jangan lupa ya mbak" Hifza memberitahu.
"Oke"
Mereka keluar dari ruanganku dan aku bersiap untuk mengerjakan pekerjaan ini. Sebelum itu aku mengambil hasil USG yang kutaruh ditas saat Alvaro mengembalikannya padaku.
"Astaga, aku akan jadi mama dengan tiga anak sekaligus.. tak terbayangkan bagaimana lucunya kalian saat melengkapi hidup mama..
Yaampun, udah mama mama aja nih" akupun tertawa.
🌼
Alvaro tiba dirumah sakit, dan sesekali melirik kearah ruangan Dokter Bella.
"Hem.." terpaku didekat ruangan dokter Bella sambil berpikir.
Tak lama, Dokter Bella baru saja datang.
"Halo.. ada yang bisa dibantu?" Tanya Dokter Bella dari belakang Alvaro.
"Oh halo Dokter, hem tidak hanya kebetulan lewat" ujar Alvaro beralasan.
"Dokter Alvaro mondar-mandir loh didepan ruangan Dokter Bella" ledek susternya Dokter Bella.
"Apa ada yang mau dibicarakan?
Kita bisa masuk keruangan saya, saya belum memulai jam praktek" Selidik Dokter Bella sambil tersenyum.
"Baiklah Dok.." Alvaro masuk kedalam ruangan bersama Dokter Bella.
"Jadi apa yang mau ditanyakan?"
"Begini, kemarin ada temanku yang periksa kehamilan disini" ujar Alvaro sedikit hati-hati dalam mengatakannya.
"Atas nama siapa?"
"Jovita"
"Owh yang hamil kembar tiga ya Dok?"
"Iya betul"
"Lalu?"
"Saya mau tahu bagaimana keadaannya dan kalau bisa, apakah saya bisa minta hasil USG kemarin"
"Hasil USG, untuk apa Dok kalau boleh tau?"
"Ceritanya rumit, tapi untuk keperluan yang penting" ucap Alvaro.
"Bisa saya tahu yang sebenarnya?"
"Hem.."
Alvaro menunggu dengan ragu-ragu.
"Okey, saya bisa kasih dua print USG atas nama Jovita" menaruhnya dimeja.
"Jadi katakan untuk keperluan apa?" memancing Alvaro untuk bicara
Alvaro sedikit bingung dan menatap Dokter Bella dengan gugup.
"Saya mantannya Jovita Dok, dan saya menginginkan hasil USG itu untuk kenang-kenangan.." ucap Alvaro dengan lancar.
"Apa tidak ada masalah jika ayahnya dari anak Jovita tahu?"
"Sepertinya tidak, jika Dokter tidak mengatakannya"
"Hem.. baiklah, asal jangan disalahgunakan ya, lain kali kita bisa bicara dengan lebih santai, karena kelihatannya Dokter Alvaro sedikit kurang nyaman kalau diruangan ya"
"Boleh Dok, saat Dokter punya waktu luang, kita bisa makan siang bersama" janji Alvaro.
"Baiklah Dok, makasih yah atas kebaikannya" ujar Alvaro sambil tersenyum.
"Sama sama"
Alvaro menutup pintu perlahan dan kembali keruangannya.
"Dokter Alvaro, Salah satu Dokter tampan disini, tapi masih terjebak dalam kenangan mantan.. ya untunglah, setidaknya ada sesuatu yang membuat kita ada bahan untuk dibicarakan" celetuk Dokter Bella sambil tersenyum.
Alvaro menatap hasil USG yang diberikan Dokter Bella.
"Andaikan ini anakku, aku pasti begitu bahagia. Rasanya ingin bagiku untuk memiliki, tapi mungkin akan tidak adil untuk ayah biologisnya" Alvaro menatap handphone.
Mencari kontak seseorang yang ingin dia hubungi.
Handphone Nevan berbunyi dari nomor tidak dikenal saat dia belum begitu sibuk.
"Ini siapa yah?" Heran Nevan yang memandangi nomor tersebut dan menerima panggilan telepon itu.
"Halo.. aku Alvaro" sahutan itu terdengar dari telepon.
"Ada apa kamu menghubungiku, bukankah kalian sudah bersama" ketus Nevan.
"Aku tak bisa berbicara banyak dalam telepon, temui aku jam 12 siang di Amuz Goumet hari ini"
"Kamu pikir aku tidak sibuk hari ini, untuk apa aku harus menemuimu"
"Jovita hamil" Alvaro langsung to the point.
"Apa..?" Nevan terkejut.
"Aku tunggu disana siang ini jika kamu ingin bertanggung jawab" Alvaro menutup telepon.
Nevan terkejut luar biasa mendengar apa yang Alvaro katakan dan Nevan baru mengetahuinya. Pikirannya kini berkecamuk karena juga memikirkan keadaan Jovita saat ini.
🌼
Nevan sudah menunggu Alvaro di Amuz Goumet Restoran dengan hati yang begitu gelisah.
Alvaro baru saja tiba.
"Tak menyangka, kamu sudah menunggu" dan duduk dihadapan Nevan.
"Bagaimana kamu mengetahui nomor teleponku?" Tanya Nevan
"Aku mengambilnya dari handphone Jovita secara diam-diam" jawab Alvaro.
"Maksud kamu?"
"Dengarkan aku, kamu pasti akan mengetahui semuanya.." ucap Alvaro dan mulai bercerita.
Alvaro membeberkan dari awal Alvaro menemui Jovita dirumah sakit, mengantarkan pulang dan menginap dirumah Jovita, dan Alvaro mengambil nomor Nevan saat Jovita tertidur.
Nevan yang mendengarkan, merasakan sesak karena membiarkan Jovita melakukan semuanya sendiri tanpa didampingi orang lain ataupun dirinya.
Mata Nevan berkaca-kaca dari setiap kata yang Alvaro ucapkan. Tak mungkin bagi Nevan membiarkan orang yang masih sangat dicintainya menjalani kehamilan seorang diri, setelah melakukan dengan dirinya.
"Dan.. dia hamil kembar tiga" Alvaro memberikan hasil USG milik Jovita.
"Aku meminta kembali pada Dokter yang menangani Jovita kemarin, Jovita tak ingin memberitahumu dan akan menanggung semuanya sendiri" ungkap Alvaro.
Nevan masih terpaku pada hasil USG yang menampilkan tiga janin yang sedang dikandung Jovita.
"Ini sebuah keajaiban bagiku, tak akan kubiarkan Jovita merasakan semua sendiri. Aku pasti bertanggung jawab padanya.
Lalu mengapa akhirnya kamu menghubungiku, bukankah kamu juga mencintainya dan kalian kembali bersama bukan?"
"Sangat mencintainya, yang kamu lihat saat Jovita pulang bersamaku, aku hanya mengantarkannya pulang, dia lakukan hanya untuk menghindarimu.
Memang aku berusaha menghubunginya tapi dia masih memblokir nomorku setelah kejadian itu dan membuat aku tak bisa menemuinya.
Aku menghubungimu, karena tak adil jika aku mengambil kebahagian kalian demi egoku sendiri. Aku tahu kalian masih saling mencintai, mungkin akan berbeda jika sebaliknya.
Katakanlah aku memberi kesempatan bagimu untuk memperbaiki hubungan kalian, entah permasalahan apa yang sebenarnya terjadi"
"Aku sangat berterima kasih atas ketulusan yang kamu tunjukkan" masih terpana melihat calon anaknya di hasil USG.
"Tapi aku sarankan, kamu bisa selesaikan yang menjadi kegelisahan Jovita. Kamu pasti tahu itu mengenai hal apa, jadi hari ini aku masih akan membantu Jovita dalam menjalani harinya.
Kamu bisa mengatakan padaku jika kamu sudah siap untuk menemuinya setelah semua dibicarakan dengan keluargamu" ucap Alvaro mengutarakan kegelisahan hati Jovita.
"Apa dia yang mengatakan itu?" tanya Nevan terlihat binggung.
"Tidak banyak yang kuketahui karena Jovita tidak ingin terlalu banyak membahas soal perpisahan kalian.
Dan jika kalian kembali bersama, ijinkan aku untuk dapat melihat anak kalian jika sudah lahir. Aku akan berterima kasih jika kamu mengizinkan" ucap Alvaro sambil tersenyum.
Nevan tak percaya kenyataan ini, hamil kembar tiga sekaligus. Itu pasti menyulitkan Jovita saat mengandung.
"Baiklah, jam praktekku akan mulai beberapa saat lagi. Hanya itu yang kukatakan, jangan lupa untuk menyimpan nomor telepon ku jika permasalahan ini sudah terselesaikan"
"Terimakasih atas waktunya", ucap Nevan.
"Sama-sama" Alvaro pergi dengan perasaan lega yang akhirnya tersampaikan.
Nevan masih memandangi hasil USG yang diberikan Alvaro, tak terasa Nevan menitikan airmata yang jatuh dipipi kanannya.
"Baru melihatnya saja, aku sudah jatuh cinta pada kalian" sambil menyentuh satu persatu bagian dari foto ketiga anak kembarnya itu.
Bersambung.....✨✨✨