
Aku dan Nevan membuat suasana dikamar ini menjadi dingin, karena aku tak tahu apa yang terjadi dan memilih tidur tanpa ingin tahu apapun.
Aku telah tertidur dikasur, aku tak tahu bagaimana dengan Nevan.
Nevan memilih diam dan melamun, pikirannya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi yang Nevan tidak tahu, Antara Jovita dan Alvaro. Mengapa mereka bisa ditempat yang sama persis, tapi bagaimana Alvaro bisa tidak tahu ada Jovita disini, apa benar ini kebetulan atau mereka memang bersama datang kesini.
Tidak nyaman sekamar dengan Jovita, Nevan memilih kembali kekamar hotel yang sudah dipesannya.
💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮
Pagi sudah menjelang aku terbangun karena silaunya matahari memasuki kamarku, karena gordyn tak menutupi jendela.
"Sayang..." Aku memanggil Nevan dan memeriksa sebelahku apakah Nevan masih tidur disampingku.
"Nevan.. kamu dimana.." aku berusaha beranjak dari kasur dan memeriksa sekeliling, tapi tidak menemukannya didalam kamar ini.
"Apa Nevan sudah breakfast yah.." pikirku, menahan mual karena mabuk semalam.
Kring... Kring...
Telepon berbunyi.
Aku mengangkatnya dan berpikir itu Nevan.
"Halo.. Nevan kamu dimana?" Aku langsung mengira itu Nevan.
"Jovita, ini aku Alvaro.. Nevan sedang tidak bersama kamu?" Tanya Alvaro yang meneleponku.
"Tidak.. aku tidak melihatnya pagi ini" jawabku.
"Hemm.. semalam kamu tidak melihatku?" tanya Alvaro lagi.
"Maksud kamu?" Aku bingung.
"Nevan bertemu denganku dan dia mengenaliku, dia kenal aku dari mana?" Alvaro menjelaskan apa yang terjadi semalam.
"Hah... Kamu serius?" aku terkejut mendengarnya, tapi yang kuingat aku memang seperti melihat Alvaro di bar.
"Masa aku bercanda soal ini, dia bilang kenal aku dari foto" ungkap Alvaro.
"Hemm... Begitukah" Alvaro sedikit geer.
"Nevan tak sengaja bertemu denganku dan sepertinya dia mencurigai kita, karena aku melihat dia tidak senang mengetahui aku dan kamu bersama disini, seperti bukan suatu kebetulan.. itu yang kulihat dari sikapnya"
"Aku tahu ini akan terungkap.. apa aku harus katakan yang sebenarnya?, Aku takut jika nanti sudah menikah akan menjadi masalah dipernikahan kami, jika aku masih menutupinya" ujarku resah.
"Entahlah.. kupikir lebih baik kamu pura-pura tidak tahu saja, apapun yang terjadi lebih baik kamu tidak mengatakan sebenarnya. Karena itu akan menjadi rumit" kata Alvaro menyarankan.
"Apakah itu lebih baik, atau akan menjadi makin rumit.." aku ikut kebingungan.
"Apa aku mengaku saja, apapun yang terjadi.. jika mungkin dia akan meninggalkanku.. aku akan ikhlaskannya" akupun pasrah.
"Aku senang mendengar ternyata dulu kamu mengakui hubungan kita, aku sedikit tersanjung mendengarnya dari kamu.
Jadi.. Jika dia melepaskanmu, kupastikan kamu akan milikku Jovita" ujar Alvaro mengebu-gebu.
"Alvaro.. aku terlalu banyak berbohong dan menghianati kalian.. aku mengakui aku sangat kejam terhadap kalian.. dan kamu masih ingin menerimaku" aku tak habis pikir Alvaro masih begitu menginginkanku menjadi miliknya.
"Apapun yang terjadi Jovita, aku menyerah saat ini karena dia memang yang terbaik untuk kamu.. jika yang terbaikpun tak kan memilikimu.. aku yang akan berjanji untuk menikahimu" janji Alvaro.
"Alvaro.. ini bukan waktu yang tepat untuk dibicarakan.. aku masih ingin bersama dengannya" pikiranku mulai buntu.
"Aku hanya sarankan, lebih baik kamu tidak mengakui apapun tentang diriku" Alvaro kembali ke permasalahan.
"Entahlah.. aku tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah semuanya pelan-pelan terbongkar.." aku pesismis.
"Baiklah.. aku tidak bisa berbuat banyak, semoga akan ada jalan yang terbaik untuk kalian.
Oh iya semalam Nevan menemukanku dengan seorang wanita.. dia mantan pacarku yang pernah aku bicarakan saat kita ditiba di Inggris.
Jika nanti Nevan mempermasalahkan, bilang saja aku datang bersama tunanganku" Alvaro menjelaskan.
"Terima kasih.. disaat seperti ini kamu masih ingin membantu hubunganku dengan Nevan.." ujarku sedikit terharu.
"Baiklah.. sampai jumpa Jovita.. Good Luck"
"Thanks.."
Kami menutup telepon, mengakhiri semua skenario yang akan menjadi drama olehku nanti bersama Nevan.