It Beats For You

It Beats For You
it scares me



Untunglah hari ini tidak terlalu banyak kerjaan untukku, jadi aku lama menghabiskan waktu melamun didepan laptop, berpikir berulang kali dalam mencari jalan keluar. Aku harus bisa menyelesaikan the love triangle ini dengan secepatnya, tak bisa lagi kuundur waktu sebelum akhirnya benar-benar berantakan.


Jam 4. Alvaro sudah mulai mengabariku untuk menjemputku nanti jam 5 sore. Aku sudah janji padanya, apa hari ini aku bisa mengutarakan maksudku. Apapun jawabannya nanti memang pasti menyakitkan, aku harus terima itu.


Hifza sudah memantau bolak-balik didepan ruanganku, entah apa dipikirannya hanya melirik kearahku. Seperti sedang meledek diriku yang sedang menduakan pria dengan mudahnya.


Baiklah aku sudah bertekad memilih Nevan, tak ada waktu lagi untukku untuk tidak menyampaikan ke Alvaro. Aku sudah prediksi akan ada pertengkaran antara kita saat aku memutuskan hubungan cinta lama bersemi kembali ternyata harus putus juga.


Aku bergegas untuk pulang dan menetapkan hatiku dengan segala komat-kamit dengan kata-kata yang tidak terlalu menyakiti Alvaro nantinya.


alvaro WA aku untuk menjemputku di lobby kantor. Aku sudah menunggunya didepan lobby tapi Alvaro belum menjemputku.


"Jovita.." sapa bu Glory.


"Oh bu Glory" aku membalas menyapa dan terkejut ada beliau ikut menunggu bersama di lobby.


"Lagi ngapain?" tanya bu Glory.


"Oh aku kebetulan lagi pulang sendiri bu" jawabku.


"Naik apa?, Bukannya biasanya kamu bawa mobil?"


"Oh iya, mobil aku rusak bu kebetulan jadi terpaksa naik taxi online"


"Oww pantesan, by the way.. Nevan kekantor tumben ada apa ya, udah gitu dia bilang mau ke Inggris. Kok bisa kebetulan ya sama kamu?"


"Aah ibu" aku salah tinggak mendengarnya.


"Kamu menjalin hubungan dekat dengan Nevan?" Selidik bu Glory.


"Kok bisa ya bu?, Kebetulan beliau ada pekerjaan mungkin, ibu gak tanya?"


"Dia gak menjelaskan apapun, padahal saya sudah bilang kamu juga kesana"


"Hehe gitu ya bu"


"Asal kamu tau ya Jovita, Nevan itu dari keluarga terpandang. Saya masih belum tau apa yang terjadi, tapi jika perkiraan saya benar nantinya. Jangan sampai melewatkan kesempatan emas jika sudah ada ditangan"


"Maksudnya bu" aku kurang paham apa maksud bu Glory.


"Nanti kamu juga mengerti, baiklah saya cuman mau ngobrol itu saja. Saya pulang dulu"


"Oh iya bu, hati-hati dijalan"


"Oke bye" bu Glory berjalan menuju mobil miliknya yang sudah dijemput oleh driver tepat didepannya dan masuk kedalam mobil.


Aku terngiang maksud dari ucapan bu Glory tadi. Apa beliau merasakan ada maksud dan tujuan Nevan kesini. Nevan seperti memberi clue ke bu Glory yang mungkin menjadi spekulasi bu Glory berpikir aku dan Nevan memang mempunyai hubungan khusus.


Alvaro akhirnya menjemputku di lobby.


Aku masuk kedalam mobilnya.


"Oh iya gak apa, aku juga baru sebentar" aku mengenakan seatbelt.


Alvaro mengendarai mobilnya menuju apartemenku.


Aku sedikit menjadi pendiam, karena banyak pikiran yang berputar dikepalaku.


"Oh iya aku mau ajak kamu kerumahku"


Aku masih diam.


"Jovita, kamu tidak apa-apa?" Heran Alvaro karena aku tak mendengar perkataannya tadi.


"Oh iya, duh sorry ada sedikit masalah kantor tadi" ujarku berbohong.


"Oh.. apa masalah besar?"


"Tidak kok, tapi memang harus dicari solusinya. Maaf tadi kamu ngomong apa?"


"Iya aku mau mengajak kamu kerumahku"


"Apa.." kagetku.


"Iya, maaf aku benar-benar kasih taunya mendadak. Tapi tak apa orangtuaku juga sudah menunggu"


"Yaampun Alvaro bagaimana aku bisa menemuk keluarga kami dengan penampilanku yang kucel ini" aku beralasan untuk menghindari kita menemui orangtuanya.


"Gak masalah Jovita, mereka juga tau kamu bekerja, lagipula kita cuma sebentar aja kok"


"Alvaro aku belum siap untuk bertemu keluargamu"


"Kenapa belum siap, ini hanya makan malam tidak perlu khawatir. Mamaku sudah masak banyak, kalau kita tidak datang nanti dia sedih"


"Kenapa kamu gak beritahu sebelumnya"


"Aku juga gak tau sayang, tiba-tiba aja mamaku hubungin aku untuk ajak kamu kerumah"


"Yaampun aku berantakan begini"


"Berantakan gimana sih sayang, itu masih rapi loh"


"Mukaku gak fresh sayang"


"Ya gak apa-apa, kan aku bilang kamu gak usah khawatir. Mamaku pasti ngerti kok orang pulang kerja bagaimana"


"Aahh Alvaro.." aku mengeluh manja.


Setiap detiknya banyak kejutan yang membuat aku hampir jantungan menghadapinya.