It Beats For You

It Beats For You
Now there's nothing left



Alvaro masih berada dihadapanku, menunggu sebuah kejujuran untuk menenangkan pikirannya, yang sudah tersandera olehku selama dua hari.


"Kita sudah cukup bijak untuk membicarakan ini, aku hanya ingin bicara padamu. Jadi kamu jangan pernah berbohong lagi padaku kali ini, hanya disini aku bisa menemuimu setelah dua hari aku mencarimu kemana-mana" ucap Alvaro perlahan ditelingaku.


"Untuk apa semua ini, aku tak lagi sama dengan wanita yang kamu kenal sebelumnya" ungkapku dengan perlahan juga ditelinganya.


"Kamu masih sama saat kita pertama bertemu kembali.dan aku baru memikirkan sehari setelah kita bertemu saat itu, kamu memang sedikit berubah, saking aku begitu percayanya sama kamu, aku sama sekali tidak curiga apa yang sedang terjadi" sesal Alvaro kurang peka dengan apa yang terjadi sebelumnya.


Itu benar, aku membeku.


"Jadi, katakan semua apa yang terjadi padamu, hingga kamu melarikan diri dariku begitu mudah. Aku takkan bereaksi berlebihan jika kamu jujur apa adanya" ungkap Alvaro.


"Jika aku jujur, apa yang akan kamu lakukan" ujarku menyelidiki berharap bukan hal bodoh yang akan dilakukan.


"Aku akan memikirkan apa yang terbaik untuk kita, dua hari ini begitu melelahkan untukku. Hatiku terlalu sakit, mengetahui aku seperti dicampakkan olehmu tanpa penjelasan" ucap Alvaro dengan wajahnya sedikit menunduk.


"Kenapa kamu harus mendengarnya dariku, anggap saja apa yang kamu pikirkan itu benar"


"Andai saja aku bisa begitu, tapi aku tidak" tegas Alvaro.


Alunan musik dansa ini sebenarnya begitu romantis, tapi begitu menakutkan untukku berada disini, aku terdiam.


"Apakah cintaku kurang untukmu..,


aku beri segala kasih sayangku untukmu. Aku mencoba untuk menyakinkan kamu untuk masa depan kita. Aku bisa beri segalanya untukmu, apapun yang kamu inginkan dariku, tanpa aku memikirkan kembali. Segalanya milikku akan menjadi milikmu, apakah itu tidak cukup untukmu agar tetap berada disisiku" ungkap Alvaro dengan penuh perasaan.


Badanku makin lemas mendengarnya, astaga mataku sudah berkaca-kaca meresapi perkataan Alvaro. Untunglah topeng ini sedikit menutupi kesalahanku menyakitinya.


"Kamu bisa mulai" ujar Alvaro.


Kami masih mengikuti alunan musik sambil berdansa, entah apa yang kami lakukan dalam pembicaraan penuh ketegangan ini. kami masih bisa memanipulasi keadaan dengan berdansa.


"Kenapa masih diam, lihat aku" ujar Alvaro.


Perlahan aku menatap mata Alvaro.


Tiba-tiba dia ingin menciumku, aku spontan menghindarinya saat bibir Alvaro hampir menciumku.


"Ternyata benar, kamu menghindari dan menghianatiku. Kamu memiliki hati untuk orang lain" Alvaro menebak dengan tepat.


Aku memalingkan wajahku.


"Kenapa, apa yang kamu pikirkan saat ini, apakah ada penyesalan yang terlintas dipikiranmu?" Alvaro mengatakannya tepat dimukaku saat aku memalingkan wajah.


"Aku tidak bisa menjelaskan apapun" nada suaraku sudah berbeda, menahan banyak hal yang aku sembunyikan.


"Baiklah, biar ku perjelas jika kamu tidak mau mengaku. Saat ini kamu telah mengantikan posisi ku oleh orang lain, itu benar?"


Hati ini berdebar begitu cepat, bagaimana aku bisa mengatasi situasi ini.


"Jawab Jovita, aku akan menerima kenyataan jika benar semua yang aku katakan" Alvaro mulai mendesak.


"Alvaro, please.. anggap saja kita memang tidak berjodoh" air mataku menetes begitu saja dimata sebelah kanan.


"Semudah itu kamu katakan, padahal sebelum kamu mulai bersikap aneh padaku, kita sudah saling berjanji dan jelas kamu selalu katakan mencintai aku"


"Aku sudah bilang, aku bukan lagi Jovita yang sebelumnya"


"Maka dari itu, jelaskan padaku. Siapa sebenarnya Jovita yang saat ini aku kenal?"


"Aku seorang pembohong, aku tak pantas memilikimu yang sangat setia" astaga aku serasa mematahkan dua hati mengatakan seperti itu.


Satu hati tepat dihadapanku, hati yang pernah kucintai dan satu lagi hati yang sedang aku jaga saat ini.