It Beats For You

It Beats For You
Nevan wants five children



Hari sudah menjelang malam, kami memutuskan untuk makan di dalam hotel sambil menunggu suasana kondusif setelah terjadi penembakan brutal itu.


Kami banyak memesan makanan, rasanya kami bisa memakan semua makanan yang telah dipesan, walaupun perut kami terlihat begitu kecil.


Aku mengambil beberapa kue manis dan mungil dan memberikannya kepada Nevan, ku beri lagi dan lagi.. mulutnya pun penuh dengan kue mungil itu. Aku tertawa padanya, menjahili Nevan membuatku tak berhenti tertawa.


Nevan membalasku, dia memberikan pisang kedalam mulutku yang berusaha mengunyah untuk menghabiskannya, tetapi Nevan terus menyodorkanku pisang itu dan membuat mulukku kini ikut penuh seperti Nevan.


Kami tak berhenti tertawa, makanan yang kita pesan berlahan habis. Sepertinya kita tidak tahu kapasitas perut ini ternyata bisa begitu elastis.


Nevan masih menjahiliku dengan caranya, mulai menyuapi ku dan menciumku. Terdengar begitu tidak biasa, tapi kami menikmatinya. Seakan tak ada lagi batas diantara kami.


"Sayang.. kamu ingin anak nanti berapa?" Tanya Nevan.


"Belum tahu sayang.." aku masih mengunyah kentang goreng yang ada dimulutku.


"Bagaimana jika lima?" Saran Nevan sambil menyuapiku dengan ayam goreng.


"Itu tidak terlalu banyak?" aku sedikit terkejut.


"Masa sih, yang pasti aku mau melebihi sebanyak aku dan adik-adikku, by the way.. kamu berapa bersaudara?" Nevan akhirnya makan-makanannya setelah banyak menyuapiku.


"Dua sayang.. aku dan adikku laki-laki, lebih efisien.. " sambil nyengir manja.


"Terlalu sedikit.. aku suka keramaian.." jujur Nevan.


"Tapi kamu tinggal di apartemen, padahal ada rumah bersama orangtua dan saudara kamu" kataku.


"Iya.. karena mereka juga tidak dirumah, kami menikmati waktu bersama hanya saat masih kecil, beranjak dewasa kami sudah mulai terpisah karena adikku sekolah diluar negeri dan aku bekerja. Orangtuaku juga sering tak pulang kerumah karena tuntutan pekerjaan yang berpindah-pindah" Nevan memberitahu.


"Jadi itu alasan kamu tinggal di apartemen?"


"Orangtuaku dan aku tadinya tinggal di Jakarta, tapi.. karena ekonomi dan pekerjaan ayahku yang pindah ke Yogyakarya. Beliau menjual rumah dan pindah bersama ibu dan adikku kesana, kini aku menyewa apartemen disini" ungkapku.


"Owh.. nanti kamu akan tinggal bersamaku, kesepian selama ini takkan kurasakan lagi.." Nevan memelukku erat hingga sesak.


"Sayang... Gak bisa bernafas" aku berteriak.


Nevan hanya tertawa oleh kejahilannya padaku.


"Sekarang kamu makan yang banyak, biar tambah ganteng" kataku sambil menyuapi sesendok makanan padanya.


"Kamu sudah banyak kasih aku makanan loh sayang.." Nevan mencibirku.


"Kamu juga banyak kasih aku makanan" aku memanja.


"Baiklah, anggap saja malam ini kita makan besar.. hingga lemas" tawa Nevan, aku ikut tertawa olehnya.


Selain makanan dan buah, kami juga memesan sebotol wine dari hotel ini, aku meneguk beberapa gelas dari minuman yang dituangkan Nevan, begitupun Nevan kulihat baru setengah dari dua gelas yang Nevan minum.


Rasanya perutku begitu penuh, semalaman ini makan begitu banyak.


"Sayang.. aku kayaknya nyerah deh.. aku begah, terus ngantuk" sambil mengacak rambutku.


"Yaampun sayang, jangan tidur dulu nanti malah mual.." ujar Nevan membantuku menyender kearah kasur.


"Yaudah kamu duduk dulu sebentar, nanti baru agak lama bisa rebahan"


Belum selesai Nevan memberi tahu, aku sudah tertidur dibahunya. Terasa lebih nyaman dibanding bantal hotel ini, Nevan seperti bantal hidup kesayanganku, dan kini aku benar-benar terlelap.


Bersambung... ✨✨✨✨✨