It Beats For You

It Beats For You
The Truth



Aku tak ingin memikirkan hal yang tak penting bagiku, tentu aku tidak menjadikannya sesuatu yang membuatku tidak nyaman.


"Sayang.. Besok kamu mau kemana, aku dengan senang hati akan menemani kamu" tanya Nevan yang berada disampingku.


Aku bersender dibahunya.


"Aku belum ada rencana sayang, apa kamu ada ide?" sambil bermanja pada Nevan.


"Aku akan selalu ada ide untuk perjalanan honeymoon kita" Nevan memainkan tangannya digenggamanku.


Tak lama, minuman datang dan Evelyn yang membawakannya pada kami.


"Maaf kami sepertinya tidak memesan ini" ujar Nevan dengan sopan pada Evelyn.


Tanpa ragu Evelyn menaruh minuman itu dimeja kami.


"Tidak apa, ini adalah minuman yang kita sediakan untuk semua pasangan suami istri yang berbulan madu disini..


Jadi tak perlu sungkan.. dan silahkan menikmati" sahut Evelyn dengan nada suara yang terdengar dibuat lembut sedemikian rupa didepan Nevan.


Aku tak bersuara dan masih menyender dibahu Nevan, karena berpikir itu hal biasa yang Hotel berikan untuk melayani setiap pengunjungnya.


Tanpa diduga, Evelyn menumpahkan minuman itu tepat dibaju yang aku pakai.


Sontak aku terkejut dengan apa yang terjadi. Aku sungguh kecewa dengan pelayanannya pada kami, yang sebelumnya tidak terpikirkan akan seperti ini.


"Maaa... Maafkan saya, saya tidak bermaksud seperti itu" ujarnya dengan wajah yang menyesal.


Nevan membantuku mengeringkan air yang terguyur dibajuku dan aku yang sibuk membersihkan air yang membuat badanku kedinginan.


"Sayang aku ke toilet sebentar" ujarku untuk inisiatif menjauh dari sedikit kekacauan ini.


"I..iya sayang" Nevan yang juga bingung pada apa yang terjadi.


"Maaf mungkin kalian bisa pergi" menyuruh 2 pemain biola yang masih berada disamping meja kami dan juga Evelyn.


"Maaf aku tidak sengaja" sahut Evelyn yang berlagak menyesal.


"Kamu harus mengucapkan itu padanya" kata Nevan dengan nada yang berbeda seperti biasanya.


Evelyn pun menghampiri Jovita ke toilet.


Aku yang sibuk mengeringkan gaunku yang sudah mulai hilang dari air itu, tinggal basah dan lepek yang tertinggal. Tak lama kulihat sosok wanita yang masuk dengan langkah kaki yang perlahan menuju kearahku.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Evelyn dengan angkuh dan tangan yang melipat ditubuhnya.


"Apa maksud kamu, apa kamu sengaja melakukan ini?" Aku curiga dengan sikapnya yang aneh menurutku.


"Kamu pasti tahu aku mantan kekasih Nevan bukan.. tak menyangka, hanya karena dirimu dia rela mencampakkanku begitu saja" tambah Evelyn yang mulai emosi, terlihat diwajahnya.


"Aku baru tahu, kamu pernah menjadi kekasihnya saat bertemu dengan kamu, dan apa maksud semua perkataan kamu tadi?" Aku ingin penjelasan.


"Kami memang memiliki long distance relationship dalam kurun waktu 1 tahun belakangan.. entah apa yang dia lihat darimu, dan apa yang membuatnya berani membuat keputusan untuk menikah" mata Evelyn sudah berkaca-kaca.


Aku yang masih mendengarkan apa yang dikatakannya karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Nevan yang tadinya orang yang sangat mencintaku, dia selalu mengunjungiku setiap satu minggu atau dua minggu sekali ke Singapore. Aku yang dengan sabar mencintainya... dan melayaninya" tetesan air mata jatuh kepipinya saat mengatakan itu.


Aku sangat terkejut mendengarkan hal terakhir yang dia katakan dan menutup mulutku yang benar-benar terkejut.


"Apa rasanya, hubungan yang sudah dijalani bersama, ternyata kandas begitu saja.." seketika isakan tangisnya pecah didepanku.


"Kamu tahu bagaimana dia memutuskan hubunganku?" tanyanya lagi dengan tatapan sinisnya.


Jantungku rasanya berdetak begitu kencang, disituasi seperti ini.


Apa kamu berpikir Nevan bisa berperilaku kejam seperti ini?" Emosi diwajah Evelyn sudah sangat terlihat tertuju padaku.


"Ternyata, dia meninggalkan aku hanya untuk wanita seperti kamu...!!!" Seketika Evelyn mendorong bahu kananku dengan jemari tangannya.


Aku yang terdorong olehnya menjauhkan langkahku darinya.


"Apa kamu berpikir kamu segalanya untuk dia? Hah.. jangan terlalu tinggi berharap.. bagaimana jika dia memperlakukan kamu seperti aku..


Layaknya sampah baginya!!!" gertak Evelyn.


"Jika benar yang kamu katakan, itu bukan karenaku.. harusnya kamu intropeksi diri kamu sendiri sebelum menyalahkan orang lain" sahutku dengan berpikir logika.


"Hah.. kamu bisa mengatakan hal itu dengan mudah..! Sebelum dia berselingkuh dibelakangku, semua berjalan baik dan kami saling mencintai kala itu.


Aku ingat, hari sabtu itu dia datang menemuiku, semua berjalan lancar seperti biasa..


Lalu dia mencampakkanku dihari minggu.. kalau bukan karena selingkuh denganmu, tentu Nevan masih menjadi milikku!!!" Mata Evelyn sudah memerah karena tangisan yang tak bisa dia bendung.


"Aku benar-benar tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada kalian.. bahkan dia tidak pernah menceritakan mantan ataupun kamu selama menjalin hubungan denganku" aku mencoba membela diri.


"Ciih... apa yang kamu punya dan aku tidak punya, hingga dia bisa selingkuh dibelakangku?!"


"Aku tidak tahu, itu bukan urusanku.."


"Aku yang sudah menjalin hubungan yang cukup lama dengannya, tapi dia tidak pernah mengajakku menikah..


Sedangkan kamu, dia baru saja putus denganku.. dan kalian pasti belum lama menjalin hubungan, lalu dengan singkat kalian sudah menikah.. apa kamu sengaja mengincar hartanya?!!!" tuduh Evelyn.


"Plakkk" tak sengaja aku menampar wajahnya karena telah menuduhku yang tidak-tidak.


"Beraninya kamu..!" Teriak Evelyn dan bermaksud menyerangku saat itu.


Tiba-tiba Nevan masuk kedalam toilet.


"Evelyn cukup!" Gertak Nevan dengan amarahnya. Nevan langsung berdiri didepanku untuk melindungiku.


"Nevan, kamu tahu tidak adil bagiku diposisi seperti ini!" Evelyn menangis didepan Nevan yang sedang melindungiku.


"Jauhi kami, kamu tidak pantas lagi mendekati kami" ujar Nevan yang berusaha bicara dengan tenang.


"Kamu selingkuh dengan dia kan!! Kamu mencampakkan aku dengan dia kan! Lalu mengapa tidak kamu lakukan padanya seperti yang kamu lakukan padaku?!!" Evelyn masih tersulut emosi.


"Kami sudah menikah dan aku sangat mencintainya lebih dari apapun.. dan tidak ada hubungannya denganmu, dan harusnya kamu tau cara meminta maaf!" Nevan menggandengku karena akan meninggalkan tempat itu.


"Jelaskan.. jelaskan mengapa kamu begitu cepat memutuskan menikahinya ketimbang menikahiku?!" Evelyn menghalagi langkah Nevan yang akan keluar dari toilet, karena pintunya ada dibelakang Evelyn.


"Kamu mau tahu sungguh?" Tanya balik Nevan.


"Sebelum kita pernah punya hubungan, aku sudah lebih dulu mencintainya, menanti dirinya dan nyaman saat bersamanya, lebih dari siapapun..


Aku lebih lama mengenalnya ketimbang mengenalmu.. keputusanku menikahinya karena aku telah menanti dirinya hingga aku bertemu dengannya lagi" jawab Nevan tegas.


"Hanya karena itu.. kamu dengan mudah mencampakkanku layaknya sampah Nevan!!!" Teriak Evelyn.


"Evelyn kendalikan sikapmu!" Bentak Nevan.


Lalu beberapa security wanita datang kedalam toilet karena terdengar keributan.


"Please teach her how to respect guests!" Ketus Nevan lalu pergi bersamaku meninggalkan kekacauan itu.


Evelyn menumpahkan tangisnya setelah kami pergi.


Bersambung.....✨✨✨