It Beats For You

It Beats For You
Your temptation



Alvaro menutup pintu mobil dengan gelisah, dia tahu ini akan menjadi masalah. Tapi Alvaro tak berpikir Risma akan mempunyai perasaan seperti itu padanya.


Sambil mengusap bibir yang telah mencium Risma dengan penyesalan.


Bagaimana bisa Alvaro membuat Risma persis seperti Jovita lakukan pada Alvaro.


Risma tak tahu apa-apa hingga harus mendapatkan masalah karena mencintai Alvaro.


Alvaro mengambil handphone dan melihat album gallery, lalu mencari foto Jovita bersama Alvaro dalan perjalanan ke London saat itu.


"Tidakkah kita memiliki segalanya saat kita hanya berdua..


Selalu kamu, kalau aku jatuh cinta itu hanya kepadamu...


Jangan hancurkan diriku, tapi kamu sudah lakukan..


Jangan berpisah dariku, tapi kamu telah pergi dengan orang lain..


Sebelumnya kamu telah menghancurkan hatiku, disaat hatiku sudah membaik, kamu datang...


Lalu kamu hancurkan kembali..


Aku tidak menyadari kembalinya kamu dihidupku ternyata hanya cinta palsu yang kamu tunjukkan..


Kini akibatnya, aku begitu takut jatuh cinta, jika selain dirimu..


dirimu yang menghancurkan aku berkali-kali.." Alvaro menutup wajahnya dengan bahu yang melipat diatas stir mobil. Suasana hati Alvaro sedang tak menentu dan begitu sedih.


"Apa aku tak pandai memilih pasangan, hingga aku tak mampu melupakanmu yang telah meninggalkanku..


Kalau saja kamu berpikir kita tak cocok, mungkin lain ceritanya, tapi alasan kamu pergi karena siapa yang lebih mapan..


Mungkin karena itu hatiku tak menerima keputusanmu.." Sambil memandangi foto Jovita, Alvaro meneteskan air mata perpisahan.


"Aku rindu padamu Jovita, aku ingin sekali mendengar suaramu.. apa yang kamu lakukan disana.. bersamanya..


Apakah kamu merasakan bahagia..


Atau hanya dusta belaka.." tanpa berpikir panjang Alvaro menelepon Jovita dengan nomor yang tak dikenal agar Jovita mau mengangkatnya.


Alvaro menunggu deringan telepon untuk tersambung, walaupun sedikit gugup tapi tak mampu ditahan untuk menelepon.


Jovita mengangkat telepon, Alvaro mendengarnya begitu senang. Alvaro menikmati suara Jovita yang hanya mengeluarkan satu kata "halo" .


Alvaro tak membalas, karena dia tahu jika Alvaro bersuara, Jovita akan tahu itu nomor Alvaro.


Tiga kali Jovita menyahut ditelepon, hingga Jovita menutup teleponnya.


"I love you.." Alvaro melemparkan handphone itu di bangku penumpang.


Setelah menenangkan diri dan pikiran beberapa saat, Alvaro lalu mengemudikan mobilnya untuk pulang.


🌼


Jam 1 dini hari.


Aku bersandar dibahu Nevan dan memeluknya, kami masih terjaga setelah aktifitas itu.


"Kamu tahu, aku merasakan sesuatu" sambil mengelus tangan Nevan.


"Apa itu?" tanya Nevan yang berada didekatku.


"Takut kehilanganmu.." jawabku.


"Kamu tidak akan kehilanganku sayang.. aku akan berada selalu disisimu" Nevan mencium keningku.


"Berjanjilah padaku.." pintaku.


"Aku janji.. untuk selalu bersamamu.." ujar Nevan yang menatap mataku dengan tulus.


"Makasih sayang, aku tak ingin kamu berteman ataupun dekat dengan wanita lain.." ungkapku dengan sedikit egois.


"Aku tak begitu banyak punya teman wanita, walaupun hanya sekedar dekat.. aku kurang pandai untuk berteman dengan wanita" jujur Nevan yang masih membelai rambutku.


"Oh yah, syukurlah.." aku lega mendengarnya.


"Apa yang membuatmu mulai risau sayang..?" Nevan membisikiku, suaranya begitu nyaman terasa ditelingaku.


"Entahlah, tapi aku merasa cemburu jika itu terjadi" akhirnya aku jujur, walaupun agak memalukan mengakui itu.


Nevan memelukku.


"Aku tidak bermaksud membuat kamu cemburu, tapi aku senang kamu begitu" sambil meledekku.


"Kamu yah.. mungkin aku sudah terlalu mencintaimu.." sahutku yang memaninkan hidungnya dengan hidungku.


"Aku juga akan sama sepertimu jika dihadapkan situasi itu, tapi semoga kecemburuan itu tidak berlebihan.." Nevan mencolek pipiku.


"Maksud kamu?" tanyaku heran.


"Ya aku gak mau aja kita bertengkar karena cemburu yang berlebihan.." ungkap Nevan.


"Kamu tidak suka bertengkar?" Selidikku.


"Tidak ingin dan tidak mau menyakitimu.." jawab Nevan.


"Sayang.. Aku merasa saat ini hidupku begitu sempurna karena memilikimu" aku menatap wajahnya sambil mengelus pipi Nevan.


"Aku pun begitu dan kita akan segera menikah.. kamulah anugerah terindah untukku.." sebut Nevan.


"Begitupun kamu bagiku" aku mencium bibirnya lagi.


Malam yang panjang ini kami masih terjaga, Nevan melengkapi hidupku, semua yang kuinginkan.


Nevan membalas ciumanku dan desahannya membangunkan gairah kami.


"Sayang.. besok kita akan berangkat, apakah kamu tidak lelah?" tanyaku memperingatkan Nevan, karena baru saja kami telah melakukannya dan kini Nevan menginginkannya lagi.


"Tidak, jika kamu disampingku.." Nevan menggodaku.


"Malam ini terasa begitu membara.." kataku sedikit menggodanya.


"Aku tak akan sia-siakan bara itu selama menyala sayang" goda Nevan dengan suaranya yang membuatku merinding saat dia mengatakan itu ditelingaku.


Nevan melakukannya lagi untuk kedua kali dimalam ini, merengkuh leherku dengan lidahnya, membuat rangsangan kepadaku lalu kembali meraba tubuhku dengan sentuhannya yang lembut, membuat aku tergelitik dan membuat kami bergerak begitu agresif.


Aku tak tahan mendengar nafas Nevan yang mendesah membuatku berfantasi.


Aku menyentuh punggungnya saat Nevan berada diatasku. Merasakan sesuatu yang masuk dalam diriku, membuatku mengeram manja pada Nevan.


Bibir kami bertautan begitu liar, Nevan terus mendorong Mr. P dengan teratur. Aku menikmati moment ini, dengan orang yang kucintai.


"Sayang..ahh... Ahh.." aku tak bisa menahan desahan ini, Nevan begitu pandai membuatku ikut terhanyut.


Entah sudah berapa lama kami mengulat diatas kasur, lalu aku merasakan sesuatu yang hangat baru saja menyebur dan membasahi didalam tubuhku.


Nevan mengakhirinya dengan menciumku.


"Ahh.. i love you sayang..." Ucap Nevan sambil merapikan rambutku yang berantakan.


"I love you Nevan.. sayang,


hem... sayang sepertinya malam ini kamu melepaskan semuannya didalam.." kataku sedikit terbata-bata dan kekhawatiran.


"Hehe.. aku suka melepaskannya didalam sayang, tak apa.. kamu jangan cemas karena aku akan menikahimu dalam waktu dekat.." Nevan berpindah kesisi kiriku.


"Iya, tapi.." aku merasa risau.


"Apa yang kamu takutkan..?" Nevan mengetahui dari raut wajahku.


"Ini masa suburku.." aku memberitahunya sambil menatap Nevan.


"Begitukah..?" Aku masih ragu.


"Kenapa sayang, kamu terlihat ketakutan.." Nevan menyadari sikap diriku yang khawatir.


"Ini pertama kalinya untukku, aku takut sayang.." sambil melamun, memikirkan jika itu terjadi.


"Apa yang kamu takutkan, aku ada disini bersamamu.. aku akan selalu bersamamu.." Nevan memelukku dan mencoba menenangkanku.


"Apa akan sulit untuk menjalani kehamilan, aku belum tahu apa-apa soal itu.." kataku masih risau.


"Mungkin, tapi aku akan menemanimu jika kamu benar hamil.." Nevan mencium keningku.


"Yaudah sayang kita tidur sudah jam berapa sih ini.." Nevan melihat jam tangan yang ia taruh dimeja nakas.


"Astaga jam 2.35 dini hari sayang, kamu pasti lelah sudah bertempur 2x sama aku.." ledek Nevan untuk menghiburku dan mencolek hidungku.


Aku memeluk tubuhnya.


"Karena kamu sih sayang.." aku menahan senyumku, mengingat Nevan begitu tahan lama saat melakukannya hingga dua kali.


🌼


Hari sabtu pagi.


Alvaro tidak ada praktek hari ini dan memilih berdiam dirumah.


Tok.. tok..


"Ya.." sahut Alvaro.


"Mama boleh masuk?"


"Silahkan ma.." Alvaro duduk disofa dikamarnya.


"Ini mama buatkan makanan kesukaanmu, dimakan yah.." menaruh sarapan dimeja dekat sofa, lalu duduk disamping Alvaro.


"Makasih ma, sebenarnya aku bisa sendiri mengambilnya dibawah.." sambil mulai memakan makanan yang dibawakan ibu nya.


"Sudah mulai siang, kamu belum juga sarapan.. mungkin kamu lelah.. jadi mama bawa kesini, dimakan ya"


"Iya makasih ma.."


"Apa ada masalah?" mama langsung menodong Alvaro dengan pertanyaan.


"Ah tidak, semua berjalan seperti biasa.." Alvaro mencoba menutupi.


"Mama lihat kamu murung saat pulang tadi malam, mama pikir kamu sedang banyak pikiran.." mencoba menebak.


"Sedikit, tapi tidak begitu menganggu ma.." sambil terus makan.


"Alvaro, mama tidak bermaksud apa-apa.. dan mama tidak mendesak kamu untuk memilih jalanmu.." perlahan ibu Alvaro membuka obrolan.


"Maksud mama..?"


"Mungkin insting seorang ibu, mama merasa kamu sedang ada masalah dengan pacarmu?"


"Hm.. begini ma, sekarang aku sudah tidak punya pacar.. dia pergi meninggalkan aku dan memilih orang lain.." ungkap Alvaro sambil mengunyah makanan dimulutnya.


"Hm.. apa kamu sudah merelakannya?" tanya ibunya lagi.


"Aku sudah melepaskannya ma, tapi belum bisa melupakannya.." Alvaro menjawab dengan jujur.


"Masalah hati memang tidak ada yang tahu.. tapi mama berpesan, kamu jaga kesehatan jangan terlalu larut dalam pikiran, kamu terlihat bertambah tua jika seperti itu.." Ibu Alvaro mengingatkan.


"Benarkah.." Alvaro memegang wajahnya.


"Haha... Tentu sekarang belum, tapi kalau kamu kebanyakan pikiran, itu bisa saja terjadi..


kenapa kamu tidak mencoba menghibur diri, mama tahu pasti sulit untuk kamu.


Tapi yang terjadi biarlah terjadi, biasanya kamu juga mama lihat mudah saja mencari penggantinya" ibu Alvaro terus meledek, hanya untuk menghibur Alvaro, karena Alvaro terlihat murung belakangan ini.


"Iya, entahlah ma.. terkadang aku merelakannya, terkadang aku tak ingin melepaskannya.


Itu yang sedang terjadi.." sambil minum air putih.


"Mungkin kamu harus sering bertemu banyak orang.. setidaknya kamu tidak akan mengingatnya lagi..


Lanjutkan hidupmu, kamu masih muda.. perlahan semua akan terobati.." Ibu Alvaro memberi saran.


"Sedang kucoba lakukan ma.." ujar Alvaro.


"Baiklah, habiskan sarapanmu.. dan pergilah keluar, bertemu teman atau orang lain.. akan membuat pikiranmu jernih.." bujuk ibu Alvaro.


"Iya ma.."


"Jangan lupa, pulang bawa oleh-oleh untuk mama.. mama mau makan kue yang enak hari ini" pinta mama Alvaro.


"Oke, ada udang dibalik batu toh" Alvaro meledek mamanya.


"Haha.. pokoknya harus.. yasudah, mama ada nikahan anak teman mama jadi harus pergi sekarang.. bye" dan berlalu pergi meninggalkan kamar Alvaro.


"Hati-hati ma.." ujar Alvaro.


Alvaro menghabiskan makanan dan memikirkan apa yang dikatakan ibunya.


"Apa begitu terlihat, sampai mama bisa mengetahuinya..?" Gumam Alvaro.


Setelah itu Alvaro bersiap untuk jalan-jalan seperti yang ibunya katakan.


Berpakaian rapi dan memakai parfum membuat penampilan Alvaro begitu tampan.


Alvaro mengendarai mobil berencana untuk makan siang di salah satu mall.


Tak lama Risma menelepon, Alvaro melihatnya di handphone. Tapi tak diangkat Alvaro.


"Apa dia tak mau menemuiku lagi yah.." ujar Risma sambil menatap handphone.


Alvaro menelepon Risma dan tentunya Risma langsung mengangkatnya.


"Maaf tadi aku sedang menyetir" Alvaro meminggirkan mobilnya.


"Oh iya tak apa, aku sedang di Grand Park Mall.." Risma memberitahu.


"Sedang apa disana?" tanya Alvaro.


"Aku ingin kamu kesini" pinta Risma.


Alvaro terdiam sejenak.


"Mari kita nonton.." ajak Risma.


"Hem.. baiklah, tunggu aku disana, aku sedang dalam perjalanan, sebentar lagi aku sampai.." Alvaro mengetujui.


"Baiklah.." hati Risma begitu senang, mengetahui Alvaro akan menemuinya.


Alvaro menuju Mall dimana Risma berada.


Bersambung..... ✨✨✨


Hello semua, Terima Kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.


Semoga terhibur.


Jangan Lupa Like, Comment dan di Vote ya..


Thankyou 💓